HNW Dukung Penyelidikan Kasus Pemerkosaan 3 Anak di Luwu Timur Dibuka

Jihaan Khoirunnisaa - detikNews
Senin, 11 Okt 2021 18:27 WIB
Wakil Ketua MPR Hidayat Nur Wahid (HNW)
Foto: Jefrie/detikcom
Jakarta -

Wakil Ketua MPR RI sekaligus Anggota DPR RI Komisi VIII yang membidangi urusan perempuan dan anak, Hidayat Nur Wahid (HNW) prihatin melihat perjalanan kasus dugaan perkosaan 3 anak oleh ayahnya sendiri di Luwu Timur, Sulawesi Selatan. Untuk itu, ia mendukung agar penyelidikan kasus tersebut kembali dibuka seperti desakan dari sejumlah pihak.

HNW juga mendorong diberikan hukuman maksimal kepada pelaku apabila terbukti melakukan kekerasan seksual. Ia meminta agar Kementerian PPPA dan Kementerian Sosial proaktif memperjuangkan keadilan serta perlindungan bagi anak-anak yang jadi korban tindak kekerasan seksual.

"Demi keadilan hukum dan memaksimalkan perlindungan anak, saya dukung usulan pembukaan kembali penyelidikan kasus dugaan perkosaan terhadap anak di Luwu Timur. Sesuai wewenangnya, Kementerian PPPA harus maksimal mendampingi korban dan mengawal keberlanjutan penyelidikan hukum atas kasus ini. Sementara Kemensos melalui program asistensi rehabilitasi sosial anak harus ikut terlibat membantu," ujarnya dalam keterangannya, Senin (11/10/2021).

Ia menjelaskan pemerintah baru saja mengeluarkan aturan hukum yang menegaskan keberpihakan kepada anak korban kekerasan seksual. Yakni Peraturan Pemerintah Nomor 78 Tahun 2021, yang pada Pasal 54 butir (c) menyebutkan anak korban kejahatan seksual mendapatkan pendampingan psikososial pada saat pengobatan sampai pemulihan.

Kemudian di butir (d) mereka juga wajib diberikan perlindungan dan pendampingan hukum, mulai dari penyidikan penuntutan, sampai dengan pemeriksaan di sidang pengadilan. Dalam pasal 3 ayat (1), perlindungan khusus tersebut wajib diberikan tidak hanya oleh Pemerintah Pusat, tapi juga Pemerintah Daerah dan lembaga negara lainnya.

"Oleh karenanya KemenPPPA baik di pusat maupun daerah, harus bertanggung jawab melaksanakan ketentuan PP terbaru tersebut. Tidak cukup hanya pasif atau hanya menunggu. Dan karena nuansa ketidakadilan serta penolakan publik yang meluas, maka kepolisian sebagai lembaga negara penegak hukum harus bisa membuka kembali kasus ini dan menjalankan penyelidikan dengan menyeluruh, serta pemerintah daerah sebagai tempat kerja terduga pelaku tidak boleh terkesan melindungi," katanya.

Wakil Ketua Majelis Syura PKS ini mendesak pelaku diberikan hukuman maksimal jika terbukti melakukan kekerasan seksual kepada ke-3 anaknya sendiri. Ia menyebut berdasarkan UU Nomor 17 Tahun 2016 sebagai perubahan kedua atas UU Nomor 23 Tahun 2002 tentang Perlindungan Anak, pelaku kekerasan seksual terhadap anak diancam pidana maksimal 15 tahun penjara dan denda Rp 5 miliar. Pidana tersebut bisa ditambah sepertiga apabila dilakukan oleh orang tua anak, sehingga ancaman maksimal bagi seorang ayah terduga pelaku kekerasan seksual anak di Luwu Timur adalah 20 tahun penjara.

Bahkan, lanjut dia, negara juga bisa menjatuhkan hukuman kebiri kimia sebagaimana diatur lebih lanjut dalam PP Nomor 70 Tahun 2020. Hal ini guna memberikan efek jera kepada pelaku kekerasan seksual. Hukuman kebiri kimia tersebut sebelumnya pernah diberikan kepada pelaku perkosaan/kekerasan seksual terhadap anak di Mojokerto, melalui Putusan Pengadilan Negeri Mojokerto No.69/Pid.Sus/2019/PN.Mjk.

"Apabila terbukti, pelaku harus dikenakan hukuman maksimal agar timbulkan efek jera. Dan menjadi upaya preventif maksimal untuk mewujudkan aturan jaminan perlindungan anak dari kejahatan orang-orang terdekat. Apalagi di era pandemi COVID-19 yang menghantui anak-anak dan masa depan mereka," pungkasnya.

(fhs/ega)