HNW Ingatkan Pemuda untuk Mewaspadai Upaya Pengaburan Sejarah

Yudistira Imandiar - detikNews
Minggu, 10 Okt 2021 16:49 WIB
Hidayat Nur Wahid
Foto: MPR
Jakarta -

Wakil Ketua MPR RI Hidayat Nur Wahid (HNW) mengingatkan agar para pemuda, termasuk pemuda muslim memahami pentingnya pengetahuan akan sejarah bangsa secara utuh. Para pemuda juga diharapkan memahami pentingnya membangun soliditas dan solidaritas bersama komponen bangsa lainnya dalam mengimplementasikan Pancasila dan menjaga NKRI.

Hal itu disampaikannya saat menjadi narasumber Seminar Nasional 'Peran Pemuda Dalam Mengokohkan Simpul Kebangsaan di Tengah Kemajemukan dan Pandemi' pada Sabtu (9/10). Acara ini merupakan hasil kerja sama antara MPR dengan Gema Keadilan DKI Jakarta.

Menurut Hidayat implementasi Pancasila sangat krusial untuk menampik upaya-upaya pengaburan sejarah serta tantangan lokal dan global, seperti separatisme, neo kolonialisme dan pandemi COVID-19.

Hidayat menyebut pemahaman sejarah bangsa yang utuh dan benar perlu dimiliki oleh para pemuda agar mereka tak mudah terpengaruh oleh upaya-upaya pengaburan sejarah bangsa, termasuk sejarah terkait peran para tokoh Umat Islam. Ia menegaskan para pemuda harus melek informasi dan tidak menyia-nyiakan potensi serta momentum yang dimiliki.

Hidayat mencontohkan beberapa upaya pengaburan sejarah. Misalnya, terkait pemberontakan yang dilakukan oleh Partai Komunis Indonesia (PKI) pada 1948 dan 1965.

"Ada upaya yang menarasikan bahwa PKI bukan sebagai pelaku, melainkan korban. Padahal korban kejahatan PKI sudah banyak berjatuhan dari para kyai, santri, Gubernur Jawa Timur, dan beberapa Jenderal TNI AD. Karena pemberontakan PKI bahkan tidak hanya dilakukan sekali saja," jelas Hidayat.

Ia menguraikan muncul tendensi untuk mengalihkan peristiwa G30S PKI tahun 1965 dengan menimpakan kesalahan kepada Orde Baru. Padahal, sebut Hidayat, orde barulah yang berhasil menumpas PKI dan gerakan komunisme.

"Kudeta PKI pada 18/9/1948 jelas tidak ada hubungan dengan Orba, CIA atau Amerika Serikat. Tetapi terkait dengan dukungan dari Partai Komunis Uni Soviet. Mereka bukan hanya melakukan pemberontakan, tapi tragedi kemanusiaan, dan kudeta terhadap pemerintah RI yang sah. PKI bahkan sudah berhasil menetapkan ibukota dan mendeklarasikan negara mereka di teritorial RI. Yaitu Negara Republik Soviet Indonesia. Mereka juga umumkan Musso sebagai Presiden dan Amir Syarifuddin sebagai Perdana Menteri," urai Hidayat.

Wakil Ketua Majelis Syuro Partai Keadilan Sejahtera (PKS) ini juga menyoroti kemunculan Kamus Sejarah Indonesia yang disusun Ditjen Kebudayaan Kemendikbud. Walau Kamus Sejarah Indonesia yang kontroversial itu telah ditarik karena memperoleh banyak protes keras dari masyarakat luas, menurutnya penulisan sejarah yang tidak tepat dapat menimbulkan pengaburan fakta yang akan mengacaukan pemahaman akan sejarah bangsa.

Ia menambahkan dalam jilid 1 Kamus Sejarah Indonesia yang membahas periode Indonesia dipersiapkan dari tahun 1900-1950, tidak disebutkan peran-peran besar pemuda Moslem, Jong Islamieten Bond, organisasi pemuda Islam yang ikut terlibat dalam menginisiasi Sumpah Pemuda. Selain itu, lanjunya, peran Ulama yang ikut memperjuangkan serta menyelamatkan NKRI juga tidak disebutkan.

"Sejarah gilang gemilang mereka untuk Indonesia Merdeka dan NKRI, justru diputarbalikkan dan tidak disebutkan secara benar," cetus Hidayat.

Hidayat menegaskan dengan pemahaman sejarah yang baik dan utuh para pemuda mendapatkan keteladanan dan kebanggaan atas perjuangan para tokoh bangsa. Pemuda, kata dia, bisa belajar dan meneruskan peran para tokoh bangsa, agar Indonesia dan cita-cita kemerdekaan serta reformasinya dapat terus diwujudkan juga diwariskan kepada generasi berikut, untuk mensukseskan Indonesia Emas tahun 2045.

"Sangat penting bagi anak muda untuk mempelajari dan mendapatkan sejarah secara benar, agar mempunyai kebanggaan dan mengetahui bagaimana pemuda termasuk pemuda muslim eksis dan terus berkontribusi, mengokohkan soliditas, solidaritas dan kemajuan bangsa, dangan menjaga negara dan Pancasila dari berbagai ancaman. Seperti wabah COVID-19 saat ini, serangan luar negeri, neokolonialisme, separatisme, serta ideologi-ideologi menyimpang yang tak sesuai dengan Pancasila seperti Komunisme," papar Hidayat.

Ia menambahkan dengan pemahaman sejarah yang baik dan benar, para pemuda dapat menguatkan simpul kebangsaan. Ia menuturkan pemuda, dan rakyat pada umumnya, diberikan jaminan hak untuk berkumpul dan berserikat dalam Pasal 28 UUD NRI 1945 yang diperkuat dengan pasal-pasal tentang HAM lainnya dari Pasal 28A hingga 28J.

"Itu semua bisa dilakukan untuk menghadirkan kemaslahatan, dan kontribusi maksimal bagi pemuda Indonesia. Karena tidak bertentangan dengan Pancasila, aturan hukum dan norma yang hidup di masyarakat (agama). Dan itulah teladan yg telah diwariskan oleh bapak dan ibu bangsa untuk kaum muda di zaman milenial sekarang. Maka maksimalkanlah, dan jangan dimubazirkan," imbuh Hidayat.

(ega/ega)