ADVERTISEMENT

Bayang-bayang 2024 dalam Bursa Panglima TNI

Tim detikcom - detikNews
Rabu, 06 Okt 2021 17:05 WIB
Pihak Kepolisian Jakarta Selatan bersama TNI melakukan Apel pergeseran pasukan di Lapangan Bhayangkari, Jakarta, Selasa (18/04/2017). Apel pergeseran pasukan ini dilakukan untuk kordinasi terakhir sebelum penempatan para anggota TNI Polri disetiap Tempat Pemungutan Suara (TPS). Grandyos Zafna/detikcom
Ilustrasi apel prajurit TNI (Grandyos Zafna/detikcom)

Pandangan lain disampaikan oleh pengamat militer dari Institute for Security and Strategic Studies (ISESS) Khairul Fahmi. Khairul menilai faktor loyalitas menjadi pertimbangan bagi Presiden Jokowi.

"Secara politik, saya kira kebutuhan Presiden hari ini adalah sosok panglima yang memiliki loyalitas total, terutama untuk memuluskan agenda-agenda politik kenegaraan dan pemerintahan," kata Khairul seperti dilansir Antara.

Menurut Khairul, Panglima TNI tidak boleh memiliki agenda sendiri di luar agenda politik negara, terlebih terkait politik kekuasaan. Karena itu, Jokowi maupun DPR diharapkan tidak terjebak dalam pembangunan citra dan reputasi di ruang-ruang digital.

"Realitas yang ada harus dilihat secara jernih dan objektif," kata Khairul.

Pertimbangan lain, menurut Khairul, adalah pentingnya menjaga kesetaraan posisi dan kesempatan bagi tiap matra, faktor usia, dan memperhatikan bentuk-bentuk ancaman potensial. Khairul menegaskan siapa pun yang menjadi Panglima TNI akan dihadapkan pada sejumlah tantangan besar.

Khairul Fahmi pun menyinggung kekhawatiran yang sering muncul terkait kemampuan menyelesaikan masalah sebagai salah satu kriteria ideal Panglima TNI. Dia menilai kekhawatiran itu tidak berdasar.

"Tak perlu ada kekhawatiran terkait kemampuan menyelesaikan masalah. Seorang Panglima TNI tidak bekerja sendiri. Dia akan didukung dan ditopang oleh para staf dan komandan satuan di jajaran Mabes TNI maupun di tiap-tiap matra," ujarnya.

Persoalan soliditas TNI, menurut Khairul, juga tidak perlu dikhawatirkan. Menurutnya, tidak akan ada resistensi terkait hal itu.

"Organisasi TNI sudah cukup mapan dan mampu secara cepat beradaptasi dengan perubahan kepemimpinan," kata Khairul.


(knv/fjp)

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT