Kemendagri Turun Tangan di Kasus Warga Permata Buana Dipersekusi Oknum RT

Eva Safitri - detikNews
Rabu, 06 Okt 2021 06:44 WIB
Jakarta -

Hartono Prasetyo alias Toni, seorang warga Permata Buana, Kembangan, Jakarta Barat, diduga menjadi korban persekusi oknum RT karena melapor masalah jalan. Kementerian Dalam Negeri (Kemendagri) buka suara.

Direktur Jenderal Dirjen Bina Administrasi Kewilayahan (Dirjen Adwil) Kemendagri Safrizal ZA menyayangkan hal dugaan persekusi yang dilakukan oleh oknum RT. Menurutnya, tugas RT justru mencarikan solusi.

"Tidak sepatutnya pengurus RT/RW melakukan persekusi terhadap warganya, karena tugas RT/RW harus dapat melayani dan mencarikan solusi yang baik buat semua warganya. Namun kami tidak mengetahui secara langsung jalan cerita," kata Syafrizal, kepada wartawan, Selasa (5/10/2021).

Syafrizal mengatakan Ditjen Bina Administrasi Kewilayahan Kemendagri, dalam hal ini Direktur Pol PP dan Linmas, akan berkoordinasi dengan Satpol PP DKI. Kemendagri ingin persoalan ini cepat tuntas.

"Kami akan minta Direktur Satpol PP berkoordinasi dengan Kasatpol PP DKI Jakarta untuk menyelesaikan masalah ini agar jangan berlarut," ujarnya.

Sebelumnya, Toni melaporkan ke polisi perihal dugaan pengusiran oleh oknum RT dan beberapa warga setempat. Toni mengaku rumahnya didatangi oknum RT dan beberapa warga.

Yang diduga jadi pangkal masalah yakni surat Toni perihal jalan di depan kediamannya. Surat itu ditujukan untuk Wali Kota Jakarta Barat.

"Jadi ada oknum RT-RT dan masyarakat. RT itu tidak cuma satu, ada berapalah, datang memaksa masuk pekarangan orang dalam keadaan terkunci," ujar pengacara Toni, Oktavianus Rasubala, saat dihubungi detikcom, Senin (4/10).

Menurut Oktavianus, rumah kliennya itu didatangi beberapa warga dan oknum RT. Oktavianus mengatakan peristiwa terhadap kliennya itu tak ubahnya seperti didemo.

"(Toni) di dalam pagar, di pekarangan di rumah, pintu gerbangnya itu digoyang-goyang, kayak demo," ucapnya.

Polres Metro Jakarta Barat masih menyelidiki kasus tersebut. Polisi saat ini telah memeriksa 11 saksi.

"Benar (11 orang diperiksa)," ujar Kasat Reskrim Polres Metro Jakarta Barat Kompol Joko Dwi Harsono saat dikonfirmasi, Selasa (5/10/2021).

(eva/zak)