Komnas Perempuan Minta Polisi Cepat Usut Kasus Pelecehan Seksual Pegawai KPI

Zunita Putri - detikNews
Sabtu, 02 Okt 2021 15:04 WIB
Colour backlit image of the silhouette of a woman with her hands on her head in a gesture of despair. The silhouette is distorted, and the arms elongated, giving an alien-like quality. The image is sinister and foreboding, with an element of horror. It is as if the woman is trying to escape from behind the glass. Horizontal image with copy space.
Ilustrasi (Foto: dok. iStock)
Jakarta -

Komisi Nasional Anti Kekerasan terhadap Perempuan (Komnas Perempuan) mengatakan sudah menerima laporan dari korban pelecehan seksual dan perundungan di KPI. Korban mendatangi Komnas Perempuan karena menilai lembaga itu adalah lembaga yang fokus menangani kasus kekerasan seksual.

"Saudara MS merasa perlu melaporkan kepada Komnas Perempuan sebagai lembaga HAM yang memiliki fokus dan keahlian dalam hal kekerasan seksual untuk mendapatkan pertimbangan pada situasi yang ia hadapi, termasuk juga dampak yang dialami oleh anggota keluarganya, dalam hal ini pada istri dan ibundanya," ujar komisioner Komnas Perempuan Andy Yentriyani dalam keterangan persnya, Sabtu (2/10/2021).

Andy mengatakan korban datang ke Komnas Perempuan bersama istrinya pada Kamis (30/9). Pengaduan dilakukan secara virtual dengan didampingi oleh penasihat hukum dan Koalisi Masyarakat Peduli Korban Kekerasan Seksual dalam Lembaga Negara. Pengaduan ini bertujuan untuk menginformasikan peristiwa kekerasan seksual yang telah ia alami dan terjadi di kantor Komisi Penyiaran Indonesia (KPI), dampak, langkah yang diambil dan perkembangan advokasi kasusnya.

Komnas Perempuan mengatakan kasus pelecehan dan perundungan yang dialami oleh MS ini memiliki dampak yang bertautan secara psikis, fisik, seksual, dan sosial-ekonomi, yang jika tidak ditangani segera dapat berdampak fatal. Menurutnya, dalam kasus MS, pengalaman kekerasan seksual ini mengakibatkannya stres, depresi, dan kesedihan berlanjut, sehingga mempengaruhi kesehatan fisiknya, seperti kerap mengalami sakit lambung dan insomnia.

"Dampak ini juga mengena pada anggota keluarga terdekat dan mempengaruhi relasi suami istri ataupun ayah ke anak, selain pada kapasitasnya untuk bekerja. Saat bersamaan, MS juga menghadapi penyangkalan atas kekerasan seksual yang ia alami, proses hukum yang seolah tak berujung, dan dukungan pemulihan yang terbatas," ucapnya.

Apalagi, lanjut Andy, MS saat ini dihadapi dengan upaya penyangkalan dari terduga pelaku pelecehan seksual dan perundungan. Andy mengatakan, jika situasi ini terus terjadi, akibatnya, peristiwa ini akan terus terjadi dan berulang karena terkesan ada pembiaran dalam kasus kekerasan seksual ini.

Menurutnya, kekerasan seksual di dunia kerja penting untuk segera diatasi oleh negara. Sebab, hal ini sesuai dengan Konvensi ILO No 190 untuk mengakhiri kekerasan dan pelecehan seksual di dunia kerja. Konvensi ILO 190 telah mendefinisikan kekerasan dan pelecehan berbasis gender sebagai perilaku, praktik atau ancaman yang bertujuan, mengakibatkan, atau kemungkinan akan mengakibatkan kerugian fisik, psikologis, seksual, sosial dan/atau ekonomi.