Round-Up

Dilema Kratom Lebih Bahaya dari Kokain tapi Diekspor ke Belanda

Tim detikcom - detikNews
Kamis, 30 Sep 2021 07:31 WIB
Sebagian besar masyarakat Kapuas Hulu mengantungkan hidupnya dari tanaman kratom, terlebih saat pandemi COVID-19. Tak terkecuali bagi Yohanes yus Ady, warga Bika, Kapuas Hulu.
Foto: Petani di wilayah Kapuas Hulu, Kalimantan Barat (Kalbar) membudidayakan kratom. (Rachman/detikcom)
Jakarta -

Tanaman kratom di Indonesia tengah menjadi dilema. Petani masih banyak yang membudidayakan kratom untuk diekspor ke luar negeri salah satunya Belanda, tapi tanaman ini dikategorikan sebagai narkotika kelas 1 yang dinilai lebih berbahaya dari kokain.

Di wilayah Kapuas Hulu, Kalimantan Barat (Kalbar), kratom masih menjadi penggerak ekonomi masyarakat. Bahkan, Dinas Perindustrian dan Perdagangan (Disperindag) Kalbar mengekspor kratom hasil budidaya petani langsung dari Kota Pontianak menuju Belanda.

"Kami melakukan kegiatan ekspor langsung dari Pontianak menuju Belanda dengan menggunakan maskapai milik pemerintah, Garuda Indonesia, dari Pontianak," ujar Kepala Bidang Pengembangan Perdagangan Luar Negeri dan PKTN Dinas Perindustrian, Perdagangan dan ESDM Kalbar, di Bandara Supadio Pontianak di Kubu Raya, seperti dilansir Antara, Rabu (29/9). Saat itu dia juga meninjau langsung proses ekspor kratom ke Belanda.

Menurutnya, kegiatan ekspor ini menunjukkan kratom sebagai komoditas yang memiliki nilai jual tinggi. Proses ekspor juga didukung unsur terkait.

"Didukung oleh rekan-rekan Bea Cukai dan yang terkait dengan lintas sektoral, tentunya yang membawahi sektor ekonomi," kata Eko.

Dia mengklaim, pertumbuhan ekonomi Kalbar saat ini berada dalam tren positif, salah satunya berkat adanya kegiatan ekspor kratom ke luar negeri.

"Kami bersama instansi lembaga terkait lainnya yang juga membantu dalam mengayomi PT Borneo Titian Berjaya (BTB) dengan mulai membuka jalur pengirim langsung ke Belanda," katanya.

Di sisi lain, kratom asal Kalbar yang dikirim ke Belanda atau negara Uni Eropa lainnya harus memiliki standar yang tinggi. Kratom yang berhasil tembus pasar Eropa juga harganya akan tinggi.

"Banyak keluhan sekarang harga turun dan harga rendah jauh dari ekspektasi. Setelah kami teliti, salah satu penyebab utamanya adalah standar mutu yang tidak terjaga," katanya.

Dia mengatakan sebelumnya terjadi banyak penolakan kratom di Amerika Serikat (AS) yang mempengaruhi nilai jual kratom di sana.

"Tetapi alhamdulillah hari ini kita bisa tembus pasar Eropa, khususnya Belanda. Dan ini menjadi titik awal kita untuk melakukan penetrasi ke negara Eropa lainnya. Tidak hanya Belanda, nanti bisa ke Polandia, bisa ke Jerman," ujarnya.

Untuk menembus pasar Eropa, pihaknya melakukan komunikasi dengan atase perdagangan di negara yang terkait.

"Ini sudah kita komunikasikan juga dengan beberapa atase perdagangan di negeri yang terkait dan mereka menyambut baik selama komoditi ini menjadi andalan para petani khususnya petani di Kalbar," katanya.

Simak selengkapnya di halaman selanjutnya.

Saksikan juga 'Pro-Kontra Daun Kratom, Komoditas Petani Kapuas Hulu yang Tuai Kontroversi':

[Gambas:Video 20detik]