Round-Up

Silat Lidah Yusril Vs 2 Elite PD hingga Seret SBY

Tim detikcom - detikNews
Jumat, 24 Sep 2021 20:34 WIB
Kuasa hukum capres Joko Widodo dan Maruf Amin, Yusril Ihza Mahendra (kanan) mengunjungi narapidana kasus terorisme Abu Bakar Baasyir (tengah) di Lapas Gunung Sindur, Bogor, Jawa Barat , Jumat (18/1/2019). Abu Bakar Baasyir akan dibebaskan dengan alasan kemanusiaan karena usia yang sudah tua dan dalam keadaan sakit serta memerlukan perawatan. ANTARA FOTO/Yulius Satria Wijaya/pras.
Yusril (Foto: dok. detikcom)

Seret Nama SBY

Ketua Umum Partai Bulan Bintang (PBB) itu menekankan pengajuan gugatan terhadap AD/ART PD di MA adalah sah. Yusril mengingatkan Rachland, hakim MA tidak akan menjadikan ocehan politik sebagai pertimbangan untuk memutuskan suatu gugatan.

"Pengujian AD/ART PD ke Mahkamah Agung adalah langkah hukum yang sah dan konstitusional. Coba Rachland Nashidik menyusun argumen, membantah dalil-dalil yang saya kemukakan ke Mahkamah Agung. Sia-sia menggunakan jurus dewa mabuk menghadapi persoalan ini. Para hakim agung tidak akan mempertimbangkan ocehan politik yang mencoba menarik-narik persoalan ini ke sana-kemari," papar Yusril.

"Mahkamah Agung akan fokus pada argumentasi yuridis dan konstitusional dalam memeriksa dan memutus perkara ini, bukan ocehan politik yang sama sekali tidak ada gunanya," imbuhnya.

Selain itu, Yusril juga menyentil balik Andi Arief. Dia menjelaskan soal AD/ART PD tahun 2020.

"Secara hukum AD/ART PD tahun 2020 sampai hari ini masih sah berlaku. AD/ART itu baru dinyatakan tidak sah dan tidak berlaku jika nanti, seandainya MA mengabulkan judicial review ini," kata Yusril kepada wartawan

Yusril mengingatkan, putusan MA tidak berlaku surut. Dengan demikian, dukungan PD kepada Yuri Kemal, yang merupakan putra Yusril, maju di Pilkada Belitung Timur 2020 tetap sah.

"Putusan MA tidak berlaku surut (retroaktif). Jadi tidak masalah jika anak saya minta DPP PD memberikan dukungan kepadanya untuk ikut pilkada kabupaten. Sebenarnya, tanpa dukungan PD pun, anak saya sudah lebih dari cukup kursinya untuk maju sebagai calon bupati," sebut Yusril.

Saat inilah Yusril mengungkit jasa PBB untuk SBY pada Pilpres 2004. Menurutnya, dukungan PBB untuk SBY pada Pilpres 2004 sangat krusial.

"Beda halnya dengan dukungan saya terhadap Pak SBY ketika akan mencalonkan diri sebagai capres tahun 2004. Tanpa saya tanda tangan pencalonan SBY, tidak akan pernah ada dalam sejarah RI, presiden yang namanya SBY," tegas Yusril.

Dia justru menyebut Andi Arief yang lupa pada fakta dan sejarah. Yusril menyebut SBY tidak akan pernah jadi presiden kalau PBB tidak mencalonkan.

"Andi Arief terlalu banyak berimajinasi sehingga lupa pada fakta, sejarah yang sesungguhnya terjadi. SBY jadi calon presiden itu hanya dicalonkan oleh dua partai, PD dan PBB. Kalau PBB tidak calonkan, tidak akan pernah SBY jadi presiden," tuturnya.

"Belakangan ikut PKPI yang juga dukung, tetapi PKPI hanya 1 kursi. Jadi tidak ada pengaruhnya nyalonkan atau tidak," imbuh Yusril.


(rdp/lir)