detik's Advocate

Bolehkah Saya Ceraikan Istri karena Pinjam Pinjol Tanpa Izin Suami?

Andi Saputra - detikNews
Kamis, 23 Sep 2021 09:11 WIB
Ilustrasi perceraian
Ilustrasi (Foto: iStock)

2.2. Mengenai Hak Asuh Anak (Hadhanah)
Hak Asuh Anak (Hadhanah) ke Ibu

Mengenai hak asuh/pemeliharaan anak (hadhanah) di bawah usia 12 tahun (belum mumayyiz) mutlak jatuh ke tangan ibunya. Hal ini sesuai dengan Pasal 105 (a) dan Pasal 156 (a) Kompilasi Hukum Islam:

Dalam hal terjadinya perceraian pemeliharaan anak yang belum mumayyiz atau belum berumur 12 tahun adalah hak ibunya

Pasal 156

Akibat putusnya perkawinan karena perceraian ialah
a. anak yang belum mumayyiz berhak mendapatkan hadhanah dan ibunya, kecuali bila ibunya telah meninggal dunia, maka kedudukannya digantikan oleh:
1. wanita-wanita dalam garis lurus ke atas dari ibu;
2. ayah;
3. wanita-wanita dalam garis lurus ke atas dari ayah;
4. saudara perempuan dari anak yang bersangkutan;
5. wanita-wanita kerabat sedarah menurut garis samping dari ayah.

Jika anak sudah berusia di atas 12 tahun atau yang sudah mumayyiz, keputusan diserahkan kepada anak tersebut untuk memilih antara ayah atau ibunya sebagai pemegang hak pemeliharaannya atau hadhanah hal mana sebagaimana diatur dalam Pasal 105 (b) Kompilasi Hukum Islam.

Hak Asuh (Hadhanah) ke Ayah
Ayah bisa mendapatkan hak asuh anak (hadhanah) yang belum mumayyiz (belum berumur 12 tahun), alasan hak asuh jatuh ke ayah antara lain :
Apabila ibunya telah meninggal dunia. Sebagaimana diatur dalam Pasal 156 (a) Kompilasi Hukum Islam;
Apabila pemegang hadhanah ternyata tidak dapat menjamin keselamatan jasmani dan rohani anak, meskipun biaya nafkah dan hadhanah telah dicukupi, maka atas permintaan kerabat yang bersangkutan, Pengadilan Agama dapat memindahkan hak hadhanah kepada kerabat lain yang mempunyai hak hadhanah pula;
Jadi ayah bisa memperoleh hak asuh anak (hadhanah) yang belum mumayyiz (belum berumur 12 tahun) jika pemegang hadhanah ternyata tidak dapat menjamin keselamatan jasmani dan rohani anak, dan hal tersebut dapat dibuktikan oleh ayah, sebagai misal ternyata:

a.Pemegang hadhanah menjadi pemabuk, pemadat, penjudi;
b.Pemegang hadhanah pergi meninggalkan anak tanpa khabar;
c.Pemegang hadhanah melakukan tindak kejahatan, sehingga ditahan oleh pihak berwajib.

Hak asuh anak (hadhanah) pada prinsipnya adalah untuk perlindungan anak, hal ini sebagaimana diatur dalam Pasal 3 Undang-Undang Nomor 23 Tahun 2002 Tentang Perlindungan Anak sebagaimana telah diubah dengan Undang-Undang Nomor 35 Tahun 2014 menyebutkan:

Perlindungan anak bertujuan untuk menjamin terpenuhinya hak-hak anak agar dapat hidup, tumbuh, berkembang, dan berpartisipasi secara optimal sesuai dengan harkat dan martabat kemanusiaan, serta mendapat perlindungan dari kekerasan dan diskriminasi, demi terwujudnya anak Indonesia yang berkualitas, berakhlak mulia, dan sejahtera.

Jadi misal hak asuh anak diberikan kepada ibunya, hal itu tidak melepaskan kewajiban ayah untuk tetap memberikan perlindungan kepada anak. Hal ini untuk menjamin terpenuhinya hak-hak anak dan guna kepentingan masa depan anak.

Demikian uraian jawaban kami, semoga bermanfaat bagi saudara penanya, para pembaca detikcom, dan masyarakat pada umumnya.

Jakarta, 21 September 2021
Hormat kami,


Slamet Yuono, S.H., M.H.
(Partner pada Kantor Hukum 99 & Rekan)
Email : s_yuono@yahoo.com

Dasar Hukum :
Undang-Undang Nomor 1 Tahun 1974 Tentang Perkawinan
Kompilasi Hukum Islam
UU No. 50 Tahun 2009 Tentang Perubahan Kedua Atas Undang-Undang No. 7 tahun 1989 Tentang Peradilan Agama
Undang-Undang Nomor 23 Tahun 2002 Tentang Perlindungan Anak.

Tentang detik's Advocate

detik's Advocate adalah rubrik baru di detikcom berupa tanya-jawab dan konsultasi hukum dari pembaca detikcom. Semua pertanyaan akan dijawab dan dikupas tuntas oleh para pakar di bidangnya.

Pembaca boleh bertanya semua hal tentang hukum, baik masalah pidana, perdata, keluarga, hubungan dengan kekasih, UU Informasi dan Teknologi Elektronik (ITE), hukum merekam hubungan badan (UU Pornografi), hukum waris, perlindungan konsumen dan lain-lain.

Identitas penanya bisa ditulis terang atau disamarkan, disesuaikan dengan keinginan pembaca. Seluruh identitas penanya kami jamin akan dirahasiakan.

Pertanyaan dan masalah hukum/pertanyaan seputar hukum di atas, bisa dikirim ke kami ya di email: redaksi@detik.com dan di-cc ke-email: andi.saputra@detik.com

Semua jawaban di rubrik ini bersifat informatif belaka dan bukan bagian dari legal opinion yang bisa dijadikan alat bukti di pengadilan serta tidak bisa digugat.


(asp/knv)