ADVERTISEMENT

detik's Advocate

Halo detik's Advocate, Berat Mana Vonis Mati atau Penjara Seumur Hidup?

Andi Saputra - detikNews
Jumat, 17 Sep 2021 07:20 WIB
ilustrasi hukum
Ilustrasi (Foto: Dok.detikcom)
Jakarta -

Hukuman mati masih menjadi hukuman terberat dalam sistem hukum Indonesia. Namun karena tidak kunjung dieksekusi mati, si terpidana juga harus menjalani hukuman penjara sehingga dobel hukuman. Lalu bagaimana dengan hukuman penjara seumur hidup dan mana yang lebih berat?

Pertanyaan di atas menjadi pertanyaan pembaca detik's Advocate yang dikirim lewat surat elektronik atau disingkat surel. Berikut pertanyaan selengkapnya:

Halo,

Saya ingin bertanya hanya karena penasaran.
Intinya, kenapa hukuman seumur hidup dianggap lebih ringan dari hukuman mati? Padahal hidup tanpa kebebasan lebih berat ketimbang mati (pendapat pribadi, but I guess lots of people think as I do).

Kalau pelaku mendapat hukuman seumur hidup mungkin dia akan meratapi kenapa dia melakukan kesalahan sampai harus dikurung selamanya. Kalau dihukum mati, ya, pelaku tidak bisa menyesali perbuatannya.

Ditambah, hukuman seumur hidup membutuhkan biaya untuk 'menghidupi' pelaku selama di penjara. Jadi, bukan kah seharusnya hukuman seumur hidup lebih berat dari hukuman mati?

It's such a silly question, I know. I totally understand if you have no time to answer this nonsense question. But if you do and you would publish it on detik's Advocate, could you please publish the question anonymously? Thanks for your understanding.

Terima kasih banyak. Sehat selalu, Tim Redaksi detik.

Salam

Untuk menjawab permasalahan di atas, detik's Advocate menghubungi advokat Moch Ainul Yaqin, SHI, MH. Berikut pendapat hukumnya:

Pertama, kami tidak akan membandingkan ringan atau beratnya antara hukuman mati dengan hukuman seumur hidup. Namun perlu dipahami bahwa hukuman mati menurut banyak pendapat, merupakan hukuman yang dijatuhkan pengadilan sebagai hukuman terberat atas seseorang akibat dari perbuatannya. Sedangkan hukuman seumur hidup merupakan bentuk hukuman yang dijatuhkan pengadilan kepada seseorang dengan memenjarakan selama masa hidupnya. Hal tersebut bersesuaian dengan Pasal 12 ayat (1) Kitab Undang-Undang Hukum Pidana (KUHP), yakni Pidana penjara ialah seumur hidup atau selama waktu tertentu.

Penerapan hukuman mati di Indonesia telah lama menjadi perdebatan pro dan kontra. Bagi kalangan pegiat Hak Asasi Manusia, penerapan hukuman mati dirasa sangat bertentangan dengan Hak Asasi Manusia. Karena hukuman mati tidak sejalan dengan hak hidup yang tidak dapat dikurangi dalam keadaan apapun. Hal tersebut tertuang dalam UUD 1945 Pasal 28I ayat (1):

Hak untuk hidup, hak untuk tidak disiksa, hak untuk kemerdekaan pikiran dan hati nurani, hak beragama, hak untuk tidak diperbudak, hak untuk diakui sebagai pribadi di hadapan hukum, dan hak untuk tidak dituntut atas dasar hukum yang berlaku surut adalah hak asasi manusia yang tidak dapat dikurangi dalam keadaan apapun.

Simak berita selengkapnya pada halaman berikut.

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT