Akui Bukti Tes DNA, Hakim Vonis Ibu Bui 7 Bulan yang Buang Janinnya

Andi Saputra - detikNews
Rabu, 22 Sep 2021 11:43 WIB
PN Purbalingga
Sidang PN Purbalingga (dok.)
Jakarta -

Pengadilan Negeri (PN) Purbalingga, Jawa Tengah (Jateng) menjatuhkan hukuman 7 bulan penjara kepada Rinah Supriyono (49) karena membuang janin kandungnya. Awalnya Rinah mengelak tapi hasil tes DNA bayi berkata sebaliknya.

Kasus bermula saat Rinah mengantar makanan untuk suaminya di ladang pada 26 September 2020. Di saat yang sama, Rinah yang telat 3 bulan mengalami menuju ke gedung sekolah yang tidak jauh dari ladang. Di toilet sekolahan ia keguguran.

Dengan cerita sedemikian rupa, Rinah mengakui bayi itu adalah janin yang ditemukannya. Hal itu kemudian dilaporkan ke aparat setempat.

Namun polisi tidak percaya begitu saja cerita Rinah. Lalu dilakukanlah tes DNA terhadap janin, Rinah dan ceceran darah di kamar mandi sekolah. Hasilnya, 99,99 persen janin itu adalah dari kandungan Rinah. Akhirnya Rinah duduk di kursi pesakitan.

"Menyatakan Terdakwa telah terbukti bersalah melakukan tindak pidana mengubur mayat dengan maksud menyembunyikan kelahirannya sebagaimana dalam surat dakwaan Kedua Subsidiair. Menjatuhkan pidana terhadap terdakwa oleh karena itu dengan pidana penjara selama 7 bulan," kata ketua majelis Mochamad Umaryaji dalam putusan yang disiarkan di Chanel YouTube PN Purbalingga, Rabu (22/9/2021).

Duduk sebagai anggota Ratna Damayanti Wisudha dengan anggota Imanuel Charlo Rommel Danes. Majelis mengesampingkan pengakuan Rinah yang tidak mengakui perbuatannya. Sebab, hasil tes DNA berbicara sebaliknya.

"Diperoleh hasil bahwa gumpalan daging yang diduga janin tersebut adalah janin dari Terdakwa dengan keakuratan 99.999% dan telah pula diidentifikasi bahwa janin tersebut adalah berjenis kelamin perempuan karena mempunyai kromosom X,X, sehingga untuk mempersingkat putusan ini dan agar tidak berulang dalan pertimbangan, maka pertimbangan unsur kedua dakwaan kedua primair tersebut sepanjang relevan untuk dijadikan pertimbangan dalam unsur kedua dakwaan kedua subsidair maka dianggap pula sebagai pertimbangan dalam unsur kedua dakwaan kedua subsidair ini," ucap Umaryaji.

Dalam persidangan juga didatangkan saksi ahli dr Adi Setiawan SpOG. Ia menyatakan secara pribadi belum pernah menemukan wanita di usia 48 sampai 50 tahun hamil, karena jika wanita memasuki usia 46 sudah memasuki masa semi menopause, saat masih muda, usia 30-35 tahun siklusnya masih teratur setiap bulan.

"Namun bertambahnya usia maka secara alamiah siklusnya semakin jarang bisa menjadi 2 bulan, 3 bulan, 4 bulan, 6 bulan sampai nanti berhenti pada usia 52 tahun tidak menstruasi sama sekali, siklus menstruasi pada seorang wanita usia 48-49 tahun sudah berantakan karena menjelang menopause, wanita menopause itu antara usia 46 tahun sampai berakhir tidak menstruasi lagi itu di usia 52 tahun, ada juga beberapa wanita yang menopause itu sekali menstruasi bisa sampai lama berminggu-minggu tidak berhenti karena yang normal itu 7 sampai 15 hari, pada wanita yang tidak menstruasi (menopause), akan terjadi konsekuensi akibat usia menjelang tua terjadi gangguan ketidakseimbangan hormon, dampaknya penebalan dinding rahim pengerasan," tutur dr Adi.

Simak juga 'Terekam CCTV! Aksi Ibu Buang Bayi di Teras Masjid Tangerang':

[Gambas:Video 20detik]



(asp/knv)