WHO: Mobilitas Rekreasi Warga Jawa-Bali Seperti Sebelum Pandemi

Tim detikcom - detikNews
Kamis, 16 Sep 2021 11:48 WIB
Suasana pantai barat Pangandaran, Minggu (5/9/2021) sekitar pukul 8 pagi.
Suasana pantai barat Pangandaran, Minggu (5/9) sekitar pukul 8 pagi. (Faizal Amiruddin/detikcom
Jakarta -

Badan Kesehatan Dunia (WHO) menyampaikan laporan terbaru mengenai situasi COVID-19 di Indonesia. WHO menyatakan ada tren kenaikan mobilitas warga di Jawa-Bali.

"Peningkatan mencolok dalam mobilitas masyarakat di ritel dan rekreasi terlihat khususnya di Jawa Barat, Jawa Tengah, Jawa Timur, dan Banten, di mana level mobilitasnya telah mencapai sebelum pandemi," demikian laporan WHO per 15 September 2021 yang dikutip, Kamis (16/9/2021).

Atas hal itu, WHO menyarankan pemerintah melakukan langkah antisipasi. Ini dilakukan demi mencegah potensi penularan COVID-19.

"Formulasi dan rencana konkret diperlukan untuk mengantisipasi dan memitigasi kemungkinan dampak dari peningkatan mobilitas transmisi dan kapasitas sistem kesehatan di tingkat nasional dan wilayah," lanjut keterangan WHO.

Luhut Sudah Wanti-wanti

Menko Kemaritiman dan Investasi Luhut Binsar Pandjaitan sebelumnya mewanti-wanti masyarakat tidak terjebak euforia berlebihan. Meskipun kasus COVID-19 turun, Luhut meminta masyarakat tetap waspada.

Awalnya, Luhut menyampaikan, penurunan level PPKM lebih cepat dari perkiraannya. Namun penurunan itu tidak dibarengi kecepatan vaksinasi, implementasi PeduliLindungi, dan protokol kesehatan.

"Situasi COVID yang membaik begitu cepat di Jawa dan Bali menyebabkan penurunan level PPKM yang lebih cepat dibandingkan dengan perkiraan kita. Di sisi lain, kecepatan vaksinasi, dan implementasi Peduli Lindungi, dan protokol kesehatan masih tertinggal," kata Luhut dalam konferensi pers secara virtual, Senin (13/9).

Penurunan level PPKM yang cepat membuat euforia masyarakat. Hal ini disebut Luhut berbahaya karena bisa membuat kasus kembali meningkat.

"Penurunan level PPKM di berbagai kota menyebabkan euforia dari masyarakat yang tidak disertai protokol kesehatan, implementasi PeduliLindungi. Hal ini cukup berbahaya karena dapat mengundang gelombang berikutnya, dari gelombang COVID-19," kata Luhut.

Simak juga 'Jangan Lengah Meski Positivity Rate RI Sudah di Bawah Standar WHO':

[Gambas:Video 20detik]



(knv/fjp)