Cerita Buruh Gaji Habis Dipalak-Cekoki 5 Anak Punk 'Miras' Hand Sanitizer

Muhammad Budi Kurniawan - detikNews
Kamis, 16 Sep 2021 07:48 WIB
Korban tewas akibat pesta minuman keras (miras) dicampur cairan hand sanitizer bertambah jadi lima orang. Begini momen horor tewasnya para korban. (dok Istimewa)
Foto: Miras oplosan hand sanitizer yang tewaskan 5 anak punk di Berau, Kaltim. (dok Istimewa)
Berau -

Remaja inisial HK (17) di Kabupaten Berau, Kalimantan Timur (Kaltim) tega memberikan minuman keras (miras) oplosan hand sanitizer ke sejumlah anak punk hingga 5 di antaranya tewas, dan 2 lainnya dilarikan ke rumah sakit. HK mengaku sakit hati karena kerap dipalak oleh anak-anak punk itu yang membuat gajinya sebagai buruh pabrik habis.

"Dari pengakuan pelaku, dia ini kesal, jengkel, karena sering diminta uang. Informasi saksi P (anak punk selamat dari maut), pelaku ini tidak pelit, setiap gajian selalu memberikan uang," ujar Kapolres Berau AKBP Anggoro Wicaksono dalam keterangannya melalui Penyidik Satreskrim Polres Berau, Iptu Doni Witono kepada detikcom, Rabu (16/9/2021).

Anak-anak punk yang menjadi rekan HK itu menjadi rutin meminta uang kepada HK sesaat setelah HK gajian. Oleh para korban, uang pemberian HK itu memang kerap dipakai membeli miras cap tikus.

"Menjadi kebiasaan para korban meminta uang kepada pelaku setiap gajian, hingga akhirnya hal itu membuat pelaku kesal," katanya.

HK diketahui bekerja sebagai buruh di pabrik pengupasan cangkang kepiting dengan gaji Rp 1,5 juta per bulan. Sesaat sebelum kejadian, HK yang gajinya telah habis tatap dimintai uang oleh pelaku untuk membeli miras cap tikus, yang membuat HK sakit hati.

"Di situlah timbul niat pelaku untuk mengerjai rekan-rekannya ini dengan memberikan hand sanitizer untuk diminum mereka, menggantikan miras cap tikus yang biasa para korban minum," tuturnya.

Polisi mengungkap anak-anak punk yang menjadi rekan HK ini merupakan pengangguran. Sudah menjadi kebiasaan mereka minum-minum miras di pinggir jalan.

"Anak- anak itu memang sering berkomplotan sering minum-minuman di jalan, tapi bukan berarti mereka anak itu terlantar atau tunawisma. Orang tua mereka masing-masing ada, mungkin kondisi tidak sekolah dan menganggur jadi sering berada di jalan. Memang Penampilan mereka, sebagian memiliki tato dan berpenampilan seperti anak jalanan," jelas AKBP Anggoro.

Simak juga 'Warga Purwakarta Pesta Miras Oplosan, 1 Orang Tewas':

[Gambas:Video 20detik]



(nvl/idh)