BKSDA: Burung Pipit yang Mati Massal di Bali Harus Diautopsi

Antara - detikNews
Sabtu, 11 Sep 2021 09:55 WIB
Video burung-burung dalam keadaan basah berjatuhan di tanah viral di medsos. Video yang dibagikan sejumlah itu disebut terjadi di Bali. (Facebook Dek Eko)
Video burung-burung dalam keadaan basah berjatuhan di tanah viral di medsos. Video yang dibagikan sejumlah itu disebut terjadi di Bali. (Facebook Dek Eko)
Bali -

Penyebab kematian massal burung pipit di Gianyar, Bali, masih menjadi tanda tanya. Balai Konservasi Sumber Daya Alam (BKSDA) Bali menyatakan autopsi perlu dilakukan untuk mengetahui penyebab kematian burung-burung itu.

Kepala Seksi Wilayah 2, BKSDA Bali Sulistyo Widodo memprediksi burung-burung itu mati massal karena keracunan pakan yang tercemar herbisida (obat pemberantas gulma). Namun dugaan ini masih perlu dibuktikan lewat pemeriksaan bangkai dengan pembedahan untuk mengetahui penyebab kematian.

"Kenapa mati mendadak, harus dibuktikan secara ilmiah melalui proses autopsi bangkai dan kotoran burung. Tapi ada kemungkinan, salah satunya memakan pakan mengandung herbisida atau pestisida yang sifatnya toxic bagi burung," kata Sulistyo Widodo dalam siaran pers di Denpasar, Bali, sebagaimana dilansir Antara, dikutip detikcom pada Sabtu (11/9/2021).


Setelah makan, tentu burung tidak langsung mati karena proses toksifikasi juga memakan waktu untuk sampai tingkatan mortalitas (kematian). "Kemungkinan besar saat burung-burung tersebut beristirahat malam. Dan paginya bangkai burung berserakan. Jadi bukan akibat lokasinya di makam," ujarnya.

Kemungkinan kedua, tertular penyakit tertentu. Burung pipit hidup berkoloni dalam jumlah besar, maka penularannya akan cepat, sehingga angka kematiannya juga dalam jumlah besar.


Selanjutnya, diduga akibat ada perubahan drastis iklim. Ia mencontohkan matinya ikan koi di kolam terbuka saat hujan pertama kali turun atau matinya ribuan ikan dalam keramba akibat naiknya (up wheeling) endapan bahan kimia, atau cuaca panas dan kemudian tiba tiba turun hujan.

"Misalnya saja, cuaca di Bali sedang panas, pada saat burung burung beristirahat malam, tiba-tiba hujan lebat turun, suhu dan kelembapan udara berubah drastis, burung kaget, stres, dan kemudian mati massal. Ingat, tingkat stres pada satwa sangat potensial menjadi penyebab mortalitas massal," ucapnya.

Selanjutnya, soal peristiwa ini:

Simak Video: Ini Dugaan Biang Kerok Burung Pipit di Bali Mati Massal

[Gambas:Video 20detik]