Punya Nilai Tambah, Petani Kopi Semendo Beralih Kembangkan Arabika

Nurcholis Maarif - detikNews
Kamis, 09 Sep 2021 17:21 WIB
Lahan Perkebunan Kopi di Desa Pelakat, Semende Darat Laut
Foto: Rengga Sancaya/detikcom
Jakarta -

Indonesia merupakan negara penghasil kopi terbesar keempat di dunia. Namun menurut catatan Kementerian Perdagangan, Indonesia baru berada di urutan ke-9 dalam urusan ekspor kopi. Peringkat ekspor dan produksi ini sebenarnya bisa naik jika Indonesia dan berbagai stakeholder terkait dapat memaksimalkan potensi kopi di setiap daerah hingga meningkatkan produksinya.

Tak hanya kopi yang sudah banyak dikenal seperti Gayo, Toraja hingga Kintamani, tetapi juga kopi daerah yang tak kalah punya potensi. Salah satunya kopi Semendo yang ada di Semende Raya (Kecamatan Semende Darat Ulu, Semende Darat Tengah, dan Semende Darat Laut), Kabupaten Muara Enim, Sumatera Selatan.

Berada di ketinggian kurang lebih 1.400 mdpl, kawasan Semende Raya yang punya potensi besar dalam pengembangan kopi berjenis arabika. Lalu ditambah dengan lahan perkebunan kopi yang luas dan mayoritas masyarakat yang punya latar belakang dan turun temurun sebagai petani kopi.

Namun faktor turun temurun ini juga ternyata jadi salah satu penyebab petani kurang berkembang. Sebab para petani kopi Semendo mayoritas menanam dan menghasilkan kopi berjenis robusta. Padahal nilai jual kopi jenis robusta lebih murah dibanding arabika.

Faktor ketinggian daerah Semendo Raya tidak dimanfaatkan dengan baik oleh para petani untuk menanam kopi arabika yang harganya lebih mahal dan untung buat petani. Pada sisi lain, para petani kopi di Semendo masih terkesan kurang rapi dalam proses pengolahan kopi, mulai dari penanaman hingga pengepakan serta asal jual kepada pengepul.

Hal itu bisa jadi karena kawasan Semende Raya sulit diakses dari pusat kabupaten hingga pusat provinsi di Palembang. Padahal menurut pendamping pengembangan Kopi Arabika Semendo, Molustan, Kopi Semendo memiliki potensi yang besar untuk dikembangkan.

Syaratnya, petani kopi Semendo harus mau mengikuti proses penanaman kopi jenis arabika sesuai standar yang sudah diterapkan. Nantinya penjualan kopi arabika juga akan lebih menguntungkan hingga dua kali lipat buat petani.

"Jauh beda, dari mulai bibit, olah tanam, naungan, proses panen, proses penjemuran, proses pengolahan. Lain semua, termasuk harga. Jauh berbeda, dua kali lipat lah. Kalau arabika kan dari (jual) ceri aja lumayan. Petani nggak perlu jemur lagi. Rp 6.000 per kg, mungkin pandemi selesai bisa Rp 10 ribu, Rp 12 ribu per kg," ujar Molustan kepada detikcom belum lama ini.

Potensi pengembangan kopi Semendo ini juga lah yang membuat banyak orang melirik untuk membantu para petani. Salah satunya PT Bukit Asam Tbk (PTBA), anggota anggota holding industri pertambangan Indonesia atau Mining Industry Indonesia (MIND ID), melalui program CSR-nya.

Mulai dari pemberian bibit kopi arabika, pendampingan dan pelatihan, pemberian alat pengolahan dan roasting kopi, pembuatan demplot kopi arabika (senilai Rp 92 juta) hingga pendirian rumah kopi (senilai Rp 70 juta). Kini beberapa petani kopi di Desa Gunung Agung, Kecamatan Semendo Darat Tengah sudah mulai beralih ke kopi jenis arabika.

"Sudah (pernah) panen 5-6 kali, masih sedikit-sedikit. Satu seri sekali panen ada 11 kg, 10 kg, 20 kg. Per petani (awalnya diberi) 1.000 pohon, kalau dia ngolah bagus, tahun depan kita tambah," ujarnya.

"Yang sudah jalan 6 petani, yang nanam baru ada 12 petani, tinggal digabung dengan petani lama ada 20 petani. Kalau ada yang daftar lagi, kita bantu lagi. PTBA juga mau masuk bibit (kopi arabika) tahun depan, (terus) di Desa Gunung Agung (ada mau pemberian tempat) penjemuran dari PTBA," imbuhnya.

Ia pun menjelaskan saat ini Kopi Semendo baru dikirim ke kafe-kafe yang ada di Palembang. Menurutnya saat petani sudah siap, Kopi Semendo bisa menembus pasar ekspor. Sebab pasar ekspor selalu terbuka untuk komoditas kopi.

"Untuk sementara (kirim) ke kafe-kafe di Palembang, binaan PTBA juga. Karena belum terlalu banyak, nanti kalau sudah tonan, kita harus ekspor khusus. Arahnya ke sana," ujarnya.

"Makanya petaninya harus jelas, petaninya harus jelas, pengolahannya harus jelas, lahannya harus jelas. Ini kan ga boleh pakai (pupuk) kimia (misalnya). Kelompoknya harus jelas, eksportir butuh kelompok yang jelas, harus ada koperasi," imbuhnya.

Lebih lanjut Molustan menjelaskan saat ini pihaknya masih terus mensosialisasikan proses penanaman kopi yang baik ke petani Kopi Semendo. Pada sisi lain, ia juga meminta pemerintah daerah untuk menjaga branding Kopi Semendo ini dan tidak tertutup dengan kopi jenis lain, misalnya Kopi Lampung.

"Orang bisa kenapa kita ga bisa. Petaninya kita seleksi, yang berat itu tugas kita merubah mindset, petani tadinya kita yang asalan, nemu bibit asal ditanam. Jadi orang minta kopi Semendo, nanti ketemu. Selama ini cita rasanya, aromanya nggak sesuai, karena proses tadi, ini jadi masalah," ujarnya.

"Kopi dari Bengkulu, Jambi, perdagangan kopi keluar masuk kan lewat Lampung, diklaim lah. Padahal kalau kopinya dari Jambi, Lahat, Bengkulu, Kerinci. Gubernurnya berpikir lah, kopi Sumatera Selatan satu pintu, jangan pintu orang lain," imbuhnya.

Pemberdayaan petani kopi dari PTBA ini sejalan dengan noble purpose MIND ID, yaitu We explore natural resources for civilization, prosperity and a brighter future.

detikcom bersama MIND ID mengadakan program Jelajah Tambang berisi ekspedisi ke daerah pertambangan Indonesia. detikcom menyambangi kota-kota industri tambang di Indonesia untuk memotret secara lengkap bagaimana kehidupan masyarakat dan daerah penghasil mineral serta bagaimana pengolahannya.

Untuk mengetahui informasi lebih lengkap, ikuti terus beritanya di detik.com/jelajahtambang.

(ncm/ega)