Gudang Beras Bebaskan Petani dari Jerat Rentenir

Nurcholis Maarif - detikNews
Selasa, 07 Sep 2021 10:33 WIB
Aktivitas Warga di Gudang Beras
Foto: Rengga Sancaya/detikcom
Muara Enim -

Windri Wijaya (35) mengaku prihatin dengan sistem tengkulak atau rentenir yang menimpa masyarakat dan petani di desanya, tepatnya di Desa Pagar Dewa, Kecamatan Tanjung Agung, Kabupaten Muara Enim, Sumatera Selatan. Pasalnya sistem yang biasanya melibatkan gadai sawah itu memiliki bunga hingga 40%.

Petani yang tak mampu membayar akhirnya kehilangan sawahnya. Lebih buruknya, petani tersebut menjadi buruh tani di lahannya sendiri. Windri pun mengakui orang tuanya juga pernah menggadaikan sawah untuk biaya kuliahnya belum lama ini. Ia baru mengetahui usai lulus kuliah pada tahun 2017.

Barulah pada tahun yang sama dengan berbekal pengalaman aktivitas pemberdayaan masyarakat yang telah dilakoninya, ia mengajukan proposal pendirian sebuah perusahaan di desanya dalam program CSR PT Bukit Asam Tbk (PTBA). Windri mengungkapkan perusahaan yang awalnya bergerak di bidang hilirisasi beras ini salah satunya untuk memutus mata rantai sistem rentenir di desanya.

"Di sini menjalankan kegiatan di pemberdayaan masyarakat yang membidani masalah pertanian padi, yang kini menuju padi organik. Tahun 2017 kita mapping bersama PT Bukit Asam. 2018 kita mulai adanya kegiatan seperti survei," ujarnya kepada detikcom belum lama ini.

"Kenapa hadir (perusahaan) Bump Pagar Bukit Asam? Di sini telah menjamurnya para rentenir dan tengkulak. Di situ ada bunga besar sekitar 40% dan itulah sebagai ghirah kami untuk memajukan para petani di Desa Pagar Dewa. Harapan terbesar kami untuk menuntaskan itu," imbuhnya.

Proposal yang diajukan Windri diterima. Perusahaan yang didirikannya itu mendapat bantuan alat dan mesin pertanian (alsintan), alat penjemuran, pembangkit listrik tenaga surya (PLTS), gudang, dan alat transportasi seperti motor dan bentor.

Tak sendiri, ia mengumpulkan beberapa pemuda di desanya, termasuk warga asli Pagar Dewa yang sedang merantau untuk pulang dan ikut membantunya mengatasi hal tersebut. Saat ini PT Bump Pagar Bukit Asam memiliki 7 orang pengurus dan membawahi sekitar 95 petani.

"2018 sudah mulai (penjualan). Kita kumpul pemuda, ada yang anggota yang merantau di Bali, balik, dari Jakarta ikut balik. (Katanya) saya siap pulang untuk membantu, akhirnya kita sepakat dan komitmen, cuma 7 orang, tapi anggotanya petaninya banyak," ujarnya.

Gudang Beras Bump Pagar Bukit AsamGudang Beras Bump Pagar Bukit Asam (Foto: Rengga Sancaya/detikcom)

Windri mengungkapkan perusahaan yang kini memiliki 2 gudang beras berkapasitas 190 ton ini siap menampung penjualan hasil panen padi milik petani Pagar Dewa. Hasilnya, omzet pertama di tahun pertama berdiri perusahaan ini mencapai Rp 250 juta. Untung tersebut kemudian digunakan untuk membantu 2 petani menyelesaikan utangnya dan sebagian lagi digunakan untuk modal dalam diversifikasi bisnis.

"Rp 250 juta itu kita bisa bantu 2 orang selesaikan gadaiannya, berapa utangnya, kita tolong. (Misalnya) dia utang Rp 20 juta, ini tolong dibayarkan (ke rentenir), surat perjanjian (gadai) itu ke kasih saya di atas materai. Tapi dia tetap bayar dengan sistem yarnen (bayar saat panen padi) tapi tanpa bunga, pembayaran sistem panen itu terserah mereka," ujarnya.

Maksud dari sistem bayar panen ialah petani dapat mencicil bayar utangnya dengan gabah kering atau beras saat sedang panen. Menurut Windri, para petani bebas menyicil dengan jumlah berapa pun karena tidak ingin membebani petani dengan utangnya.

Sampai tahun 2021 ini, Windri mengungkapkan baru bisa menolong 5 petani menyelesaikan utangnya kepada rentenir. Ia juga mengungkapkan alasan belum bisa menolong semuanya karena masih paralel membutuhkan modal untuk cash flow perusahaan dalam diversifikasi bisnis.

"Masih banyak yang belum (dilunasi). Baru lima orang itu saja sudah mencapai Rp 50 juta lebih. Total yang terjerat nggak semuanya (petani yang 95 orang itu). Mereka itu kadang-kadang dirahasiakan, malu. Makanya mau minjam datanya disimpan di kita," ujarnya.

"Tapi itulah kita bertahap, tapi harus ada stok modal dulu untuk pembiayaan mereka juga," imbuhnya.

Dampak negatifnya, kata Windry, ia dan pengurus Bump Pagar Bukit Asam dibenci oleh para rentenir. Tapi menurutnya, sebagai penduduk asli Desa Pagar Dewa, ia berhak untuk menolak dan melawan sistem ijon tersebut, yaitu penjualan hasil tanaman dalam keadaan hijau atau masih belum dipetik dari batangnya.

"Dan dampak positifnya rasa terima kasih masyarakat karena dengan utang puluhan juta dengan Bump Pagar Bukit Asam, mencicil untuk sistem yarnen tanpa bunga, tetap kembali ke Bump uang kita kembali tapi dengan catatan dia sistem mencicil atau yarnen atau bayar panen," ujarnya.

Merambah ke Bisnis Talas Bening dan Porang

Lebih lanjut Windry menjelaskan hasil beras yang dikumpulkan dari petani itu kemudian dijual ke pasar dan setengahnya dijual ke PTBA untuk berbagai aktivitas sosial lainnya. Ia juga menyebut tidak memaksa petani harus menjual beras ke gudangnya jika sudah memiliki pasar dengan harga yang lebih kompetitif.

"Produksi beras kita karena tergantung dengan permintaan, karena beras ini posisinya di masyarakat kita nggak mau ngambil resiko, beras itu tidak 1 bulan 2 bulan kita menyimpan. Tapi bulanan, (sangat) risiko. Makanya silakan masyarakat (kalau) ada yang mau jual dengan harga lebih tinggi silakan dijual, itu bebas lho. Nah kalau saya ada permintaan, saya minta ke anggota-anggota 96 petani itu," jelasnya.

Aktivitas Warga di Gudang BerasAktivitas Warga di Gudang Beras (Foto: Rengga Sancaya/detikcom)

Tak hanya beras, Bump Pagar Bukit Asam juga menurut Windry sedang menjajaki proses beras padi organik, merambah pembudidayaan dan penjualan talas bening dan porang. Untuk talas bening, saat ini pihaknya sedang menjajaki kerja sama dengan beberapa negara tujuan ekspor seperti Belanda dan Australia.

"Dengan itulah kita sudah membuka budidaya talas bening ekspor, budidaya porang yang digadang-gadangkan pak Jokowi sebagai ketahanan pangan nasional. Sebelum pak jokowi berbicara, kita sudah menggarap itu. Kalau beras organik targetnya kita mencapai LSO (lembaga sertifikat ke depan), untuk target ke depan," pungkasnya.

Sebagai informasi, pemberdayaan masyarakat yang dilakukan Windry masuk dalam tindak lanjut atau pengembangan dari program Circular Economy Pertanian Terpadu di wilayah sekitar operasional PTBA. Ini sejalan dengan noble purpose MIND ID, yaitu We explore natural resources for civilization, prosperity and a brighter future.

detikcom bersama MIND ID mengadakan program Jelajah Tambang berisi ekspedisi ke daerah pertambangan Indonesia. detikcom menyambangi kota-kota industri tambang di Indonesia untuk memotret secara lengkap bagaimana kehidupan masyarakat dan daerah penghasil mineral serta bagaimana pengolahannya.

Untuk mengetahui informasi lebih lengkap, ikuti terus beritanya di detik.com/jelajahtambang.

(ncm/ega)