Polisi Andalkan Binmas Noken untuk Hadapi Pandemi di Papua

Tim detikcom - detikNews
Kamis, 09 Sep 2021 14:34 WIB
Wakapolda Papua Brigjen Eko Rudi Sudarto
Wakapolda Papua Brigjen Eko Rudi Sudarto (Foto: dok. istimewa)

3. Si-ipar (Polisi Pi Ajar)
Konsep Polisi Pi-Ajar yang digagas oleh Komjen Drs Paulus Waterpauw ini, jika diterjemahkan ke dalam bahasa Indonesia, artinya adalah "Polisi Pergi Mengajar". Polisi lalu lintas menjadi penanggung jawab untuk program.

Metode kegiatan dari Polisi Pi Ajar adalah secara terjadwal dan langsung menjadi guru di sekolah-sekolah dasar, pusat kegiatan belajar masyarakat dengan menggunakan metode yang dapat meningkatkan kesenangan (fun game), minat baca sejak dini, keinginan anak-anak untuk belajar (melalui metode game, sosio-drama, simulasi, media pembelajaran film dan diskusi kelompok).

4. Peka (Peduli Kamtibmas)
Bagaimanapun, kepolisian tidak akan mampu menjaga Kamtibmas tanpa peran serta dari masyarakat itu sendiri. Perbandingan jumlah personel dan masyarakat masih menjadi persoalan. Dengan merangsang, mengajak dan mengarahkan masyarakat untuk lebih peduli dengan lingkungan dan dapat menjadi polisi bagi dirinya sendiri dan lingkungan sekitarnya.

5. Matoa (Millennial Torang Maju)
Di bawah kendali Direskrimum, Direskrimsus, dan Dirnarkoba, program ini menanamkan penghayatan nilai Pancasila, ide nasionalisme, dan wawasan kebangsaan, juga membangun diskusi dan interaksi isu-isu di era globalisasi.

6. Papeda (Pemuda Pemudi Cendikia)
Binmas Noken dalam pengimplementasiannya mengajak para cendekia muda untuk berpikir kritis dan membuka wawasan melalui forum terbuka, seperti seminar, kajian pustaka, kuliah umum, bedah buku, dan sebagainya. Program ini di bawah kendali dan tanggung jawab dari Direskrimum, Direskrimsus, dan Dirnarkoba.

7. TIFA (Torang Insan Faham Adat)
Dengan penjuru dan penanggung jawab Direktur Pengamanan Obyek Vital, program TIFA mengangkat kekayaan budaya, alam dan kearifan lokal Papua yang memberikan modal bagi mekanisme budaya dalam penyelesaian persoalan atau konflik di Papua. Sehingga akan terjadi relasi dinamis dan sinergis antara etnicnasionalisme, civicnasionalisme, dan statenasionalisme yang dikemas dalam pemberdayaan masyarakat sadar wisata (masdawris) di Papua.


(aud/hri)