COVID di Sumut Tinggi, Airlangga: Kalau Kendor Kasusnya Meledak Lagi

Khoirul Anam - detikNews
Kamis, 09 Sep 2021 11:57 WIB
Menko Perekonomian Airlangga Hartarto
Foto: Kemenko Perekonomian
Medan -

Ketua KPCPEN Airlangga Hartarto mengungkapkan data kasus aktif COVID-19 di wilayah Sumatera Utara masih sangat tinggi, yakni sebesar 15.685 per 8 September 2021. Sehingga Sumut berada di urutan kedua nasional setelah Provinsi Jawa tengah yang menempati urutan pertama dengan jumlah kasus aktif 18.496.

"Saat ini kasusnya lebih banyak yang di luar Jawa-Bali dari pada di Jawa-Bali," ujar Airlangga, Kamis (9/9/2021).

Dalam kunjungannya ke Sumut pada hari ini, ia memaparkan kasus aktif COVID-19 di Jawa-Bali sudah mengalami penurunan sebesar 39% dalam kontribusinya terhadap kasus nasional. Sementara itu, per September wilayah di luar Jawa dan Bali berkontribusi sebesar 60% terhadap kasus aktif COVID-19 secara nasional.

Ia juga menyatakan penerapan wilayah PPKM Level 4 di Jawa-Bali dan di luar Jawa-Bali saat ini mengalami penurunan. Wilayah Sumatera sebesar 58%, di Jawa-Bali sebanyak 78%, Nusa Tenggara 77%, Kalimantan 70%, Sulawesi 67%, serta Maluku dan Papua 33%.

"Kalau dilihat kondisi secara nasional, sudah baik. Namun kita tak boleh lengah karena ada hal yang juga perlu diperhatikan, seperti tingkat kesembuhan di Indonesia sudah lebih dari global, yakni 93 persen," kata ketua Umum Partai Golkar ini.

Menurut Airlangga, kuncinya terdapat pada tingkat kematian yang masih aktif di Indonesia karena di berada atas global. Untuk wilayah Sumatera, kasus kematian COVID-19 sebesar 3,34% atau di atas tingkat kematian nasional, 3,32%.

Ia juga menyatakan upaya pemerintah yang secara konsisten membahas masalah COVID-19 ini. Bahkan rapat dengan Presiden Joko Widodo selalu dilakukan minimal dua kali dalam seminggu, selain rapat dengan pemerintah daerah.

"Jadi dalam satu minggu, kita rapat tentang COVID-19 ini tiga hari," kata dia.

Lewat berbagai rapat ini, Airlangga menyatakan pemerintah pusat pun memiliki data detail tentang kasus COVID-19 secara nasional. Meski demikian, ia menyatakan data tersebut tergantung input dari daerah.

"Input salah ya akhirnya salah. Kita bisa check tingkat positif ini dengan bed occupancy ratio," ucapnya.

Ia mencontohkan, jika tingkat kasus aktif COVID-19 di Sumut saat ini sebanyak 15.685, maka pemerintah daerah dan kabupaten/kota diminta untuk menghitung kasus dalam 21 hari terakhir. Kalau dalam 21 hari angkanya masih bertahan, maka disimpulkan ada sesuatu yang salah.

"Karena dalam 21 hari itu harus diketahui apakah pasien sembuh atau meninggal. Dua-duanya dari data ini, pusat tidak dapat," jelas Airlangga.

Ia menjelaskan, khusus wilayah Sumut, angka kasus aktif COVID-19 saat ini berada di atas 4000. dan dianggap tinggi antara Provinsi di luar Jawa dan Bali lainnya. Ia berharap data kasus aktif di tersebut tidak bertahan di nomor dua secara nasional.

"Jika dibandingkan dengan beberapa negara lain, kasus kematian di Indonesia yang tinggi menjadi sebuah perhatian. Di Amerika Serikat, kasus puncaknya mencapai 251 ribu per hari. Saat ini hanya 153 ribu per hari. Namun kasus kematian di AS hanya 1,4% saja. Bahkan pada 8 September kasus kematiannya turun 0,89% saja," kata dia.

"Artinya kasus di AS tetap naik, tetap kasus kematiannya kini mendekati nol. Ini dikarenakan mereka sudah melakukan vaksinasi," kata Airlangga.

Hal sama juga terjadi di Inggris, di mana kasus aktif COVID-19 mencapai 59 ribu pada 8 September namun tingkat kematian hanya 0, 2 persen. Menurut Airlangga, ini yang harus diperhatikan dan dipelajari oleh Indonesia dari negara itu.

"Mengapa tingkat kasus aktif naik, namun tingkat kematian bisa rendah? Jawabannya hanya satu, vaksinasi," ungkapnya.

Hal ini, kata dia, sebagaimana yang diarahkan oleh Presiden Joko Widodo. Untuk menekan kasus kematian dan mengubah pandemi COVID-19 menjadi endemi, kuncinya adalah peningkatan vaksinasi.

Ia menekankan, penting bagi pemerintah pusat untuk mengingatkan daerah agar tidak lengah dalam penanganan pandemi ini. Sebagai contoh, negara yang sudah divaksin lebih dari 60 persen seperti AS, Inggris, dan Israel, nyatanya masih terdapat kenaikan kasus aktifnya naik lagi.

Airlangga berharap vaksinasi di Sumut yang masih sebanyak 23 persen dapat meningkatkan penangan COVID-19 melalui disiplin protokol kesehatan.

"Kalau dikasih kendor, pasti kasusnya akan meledak lagi," ujarnya.

Menko Perekonomian ini menyatakan, tingginya kasus positif COVID-19 di Sumut dikarenakan tingkat vaksinasi yang baru 23%, padahal nasional sudah 32%. Sehingga Sumut harus terus mendorong vaksinasi agar semakin tinggi, atau melebihi nasional.

(ega/ega)