154 Kendaraan Ditilang Selama Sepekan Ganjil Genap Jakarta

Yogi Ernes - detikNews
Rabu, 08 Sep 2021 16:45 WIB
Sepeda masih dilarang melintas di tiga ruas jalan yang menerapkan sistem ganjil genap. Salah satunya di Jenderal Sudirman, Jakarta Pusat.
Kawasan ganjil-genap Sudirman (Rengga Sencaya/detikcom)
Jakarta -

Kebijakan sanksi tilang bagi pelanggar ganjil-genap di Jakarta telah berlangsung selama sepekan terakhir. Total ada 154 pelanggar yang ditindak polisi.

"Ada 154 (pelanggaran yang ditindak)," kata Dirlantas Polda Metro Jaya Kombes Sambodo Purnomo Yogo kepada wartawan, Rabu (8/9/2021).

Sambodo mengatakan seluruh tilang bagi pengendara yang melanggar ganjil-genap itu dilakukan secara manual. Angka itu merupakan akumulasi pelanggaran dari tiga titik lokasi ganjil-genap di Jakarta.

Dari data sepekan terakhir, lokasi ganjil-genap di Rasuna Said menjadi titik pelanggaran terbanyak.

"Sudirman 58 pelanggaran, Thamrin 35, dan Rasuna Said 61," ujar Sambodo.

Sanksi tilang bagi pelanggar ganjil-genap diketahui mulai berlaku sejak 1 September 2021. Para pelanggar ditindak atas pelanggaran UU Nomor 22 Tahun 2009 tentang Lalu Lintas dan Angkutan Jalan dengan Pasal 287 soal pelanggaran rambu.

Para pelanggar tersebut dikenai sanksi tilang Pasal 287 ayat (1) UU Nomor 12 Tahun 2009 tentang Lalu Lintas dan Angkutan Jalan (LLAJ). Sanksi denda tilang atas pelanggaran tersebut maksimal Rp 500 ribu.

Bunyi Pasal 287 ayat (1):

"Setiap orang yang mengemudikan Kendaraan Bermotor di Jalan yang tidak dilengkapi dengan Surat Tanda Nomor Kendaraan Bermotor atau Surat Tanda Coba Kendaraan Bermotor yang ditetapkan oleh Kepolisian Negara Republik Indonesia sebagaimana dimaksud dalam Pasal 106 ayat (5) huruf a dipidana dengan pidana kurungan paling lama 2 (dua) bulan atau denda paling banyak Rp500.000,00 (lima ratus ribu rupiah)."

Mekanisme tilang ganjil-genap

Sambodo mengatakan semua mobil berpelat hitam wajib mematuhi aturan ganjil-genap. Mobil dinas berpelat hitam tetap akan dikenai sanksi tilang jika kedapatan melanggar di kawasan ganjil-genap.

"Aturan ganjil-genap ini berlaku pada semua pelat hitam. Baik kendaraan pribadi maupun kendaraan dinas yang menggunakan pelat dinas yang menggunakan pelat hitam," terang Sambodo.

Selain itu penindakan bagi pelanggar ganjil-genap dilakukan dengan dua cara, yakni tilang manual dan tilang elektronik (e-TLE). Bagi pelanggar ganjil-genap yang tertangkap tangan melakukan pelanggaran akan disinkronkan dengan data e-TLE.

Petugas kemudian akan mengirimkan surat tilang ke alamat rumah pelanggar sesuai dengan data kendaraan yang melanggar.

"Nanti kita lihat, kalau ada pelanggar ganjil-genap yang ketangkap oleh petugas, nanti kalau dia sudah ditilang secara manual tentu ditilang secara e-TLE tidak kita kirimkan," tutur Sambodo.

Namun, jika pelanggar itu tidak tertangkap tangan oleh petugas, penindakan dilakukan secara elektronik (via e-TLE). Hasil tangkap layar kamera e-TLE jadi bukti untuk kemudian dikirimkan juga surat tilang ke alamat identitas pemilik kendaraan.

"Tapi kalau kita lihat datanya dia tidak ditilang secara manual tapi ter-capture oleh e-TLE, maka hasil capture-an itu akan kita kirimkan ke pelanggar sebagai barang bukti terhadap pelanggaran ganjil-genap," lanjutnya.

Lihat juga video 'Bisa Tangkap 1.500 Pelanggar Tiap Hari, Ini Terobosan dari Polda Jatim':

[Gambas:Video 20detik]



(ygs/mea)