ADVERTISEMENT

Eks Dirut Perum Perindo Diperiksa Kejagung

Tim Detikcom - detikNews
Selasa, 07 Sep 2021 18:50 WIB
Stok Ilustrasi Kejagung
Ilustrasi Kejagung (Dhani Irawan/detikcom)
Jakarta -

Dirut Perum Perindo periode 2016-2017 berinisial SJ diperiksa terkait kasus dugaan korupsi pengelolaan keuangan dan usaha di Perusahaan Umum Perikanan Indonesia (Perum Perindo) 2016-2019. Dia diperiksa terkait pengelolaan keuangan Perum Perindo.

"Tim jaksa penyidik pada Direktorat Penyidikan Jaksa Agung Muda Bidang Tindak Pidana Khusus (Jampidsus) Kejaksaan Agung mulai melakukan pemeriksaan terhadap dua orang saksi yang terkait dengan dugaan perkara tindak pidana korupsi dalam pengelolaan keuangan dan usaha Perusahaan Umum Perikanan Indonesia (Perum Perindo) tahun 2016-2019," kata Kapuspenkum Kejagung Leonard Eben Ezer Simanjuntak dalam keterangannya, Selasa (7/9/2021).

Ada dua saksi yang diperiksa penyidik Kejagung hari ini, yaitu BA selaku Sekretaris Perusahaan Perum Perindo. BA diperiksa terkait dengan pengelolaan keuangan perusahaan umum perikanan Indonesia.

Penyidik juga memeriksa SJ selaku Dirut Perum Perindo periode 2016-2017. SJ diperiksa terkait dengan pengelolaan keuangan perusahaan umum perikanan Indonesia.

"Pemeriksaan saksi dilakukan untuk memberikan keterangan guna kepentingan penyidikan tentang suatu perkara pidana yang ia dengar sendiri, ia lihat sendiri dan ia alami sendiri guna menemukan fakta hukum tentang tindak pidana korupsi yang terjadi di Perusahaan Umum Perikanan Indonesia (Perum Perindo)," kata Leonard.

Sebelumnya, Direktur Penyidikan pada Jampidsus Kejagung Supardi mengatakan kerugian keuangan negara dalam kasus ini belum dapat dipastikan. Namun Supardi menyebut taksiran dugaan kerugiannya senilai ratusan miliar rupiah.

"Kalau kerugian negara fix, kan belum juga, tapi ya kira-kira ratusan (miliar)-lah," kata Supardi di Gedung Bundar Jampidsus Kejagung, Jalan Sultan Hasanuddin, Kebayoran Baru, Jakarta Selatan, Selasa (24/8).

Pada Senin (23/8), Kepala Pusat Penerangan Hukum Kejagung, Leonard Eben Ezer Simanjuntak, menjabarkan kasus ini bermula pada 2017, saat Perum Perindo menerbitkan medium term notes (MTN) atau biasa disebut utang jangka menengah untuk mendapatkan dana dari jualan prospek. Prospek yang dijual Perum Perindo dalam penangkapan ikan mendapatkan dana MTN Rp 200 miliar.

"Bahwa pada 2017 Perum Perindo menerbitkan MTN (medium term notes) atau utang jangka menengah. Bahwa MTN adalah salah satu cara mendapatkan dana dengan cara menjual prospek. Adapun prospek yang dijual Perum Perindo dalam hal penangkapan ikan. Selanjutnya Perum Perindo mendapatkan dana MTN sebesar Rp 200.000.000.000," katanya.

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT