ADVERTISEMENT

Kejagung Taksir Kerugian Negara Dugaan Korupsi Perum Perindo Ratusan Miliar

Wilda Hayatun Nufus - detikNews
Selasa, 24 Agu 2021 22:34 WIB
Direktur Penyidikan Jampidsus Kejagung Supardi (Foto: Wilda/detikcom)
Direktur Penyidikan Jampidsus Kejagung Supardi (Foto: Wilda/detikcom)
Jakarta -

Kejaksaan Agung (Kejagung) saat ini tengah menyidik kasus dugaan korupsi dalam pengelolaan keuangan dan usaha Perusahaan Umum Perikanan Indonesia (Perum Perindo) pada 2016-2019. Kejagung menyebut dugaan kerugian keuangan negara dalam kasus ini ratusan miliar rupiah.

Direktur Penyidikan pada Jaksa Agung Muda Pidana Khusus (Jampidsus) Kejagung Supardi menerangkan kerugian keuangan negara dalam kasus ini memang belum dapat dipastikan. Namun Supardi menyebut taksiran dugaan kerugiannya nilainya ratusan miliar rupiah.

"Kalau kerugian negara fix, kan belum juga, tapi ya kira-kira ratusan (miliar)-lah," kata Supardi di Gedung Bundar Jampidsus Kejagung, Jalan Sultan Hasanuddin, Kebayoran Baru, Jakarta Selatan, Selasa (24/8/2021).

Sebelumnya, pada Senin (23/8), Kepala Pusat Penerangan Hukum Kejagung Leonard Eben Ezer Simanjuntak menjabarkan kasus ini bermula pada 2017, saat Perum Perindo menerbitkan medium term notes (MTN) atau biasa disebut utang jangka menengah untuk mendapatkan dana dari jualan prospek. Prospek yang dijual Perum Perindo dalam penangkapan ikan mendapatkan dana MTN Rp 200 miliar.

"Bahwa pada 2017 Perum Perindo menerbitkan MTN (medium term notes) atau utang jangka menengah. Bahwa MTN adalah salah satu cara mendapatkan dana dengan cara menjual prospek. Adapun prospek yang dijual Perum Perindo dalam hal penangkapan ikan. Selanjutnya Perum Perindo mendapatkan dana MTN sebesar Rp 200.000.000.000 (dua ratus miliar rupiah)," katanya.

Leonard menyebut dana itu cair pada Agustus 2017 sebesar Rp 100 miliar dengan return 9 persen dibayar per triwulan yang jatuh tempo pada Agustus 2020. Kemudian Desember 2017 sebesar Rp 100 miliar dengan return 9,5 persen dan dibayar per triwulan juga.

"Bahwa dari MTN yang diterbitkan pada 2017 sebesar Rp 200.000.000.000 (dua ratus miliar rupiah), Perum Perindo menggunakannya sebagian besar dananya untuk modal kerja perdagangan dan hal ini bisa dilihat dengan meningkatnya pendapatan perusahaan yang pada 2016 sebesar kurang-lebih Rp 223.000.000.000 (dua ratus dua puluh tiga miliar rupiah), meningkat menjadi kurang-lebih Rp 603.000.000.000 (enam ratus tiga miliar rupiah) pada 2017 dan mencapai kurang-lebih Rp 1.000.000.000.000 (satu triliun rupiah) pada 2018. Kontribusi terbesar berasal dari pendapatan perdagangan," lanjut Leonard.

PT Perindo siap ikuti proses hukum. Simak di halaman berikut.

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT