Lebih Bergizi, Kebun Hidroponik Jadi Pilihan Warga Desa Pesisir Sumut

Angga Laraspati - detikNews
Senin, 28 Jun 2021 14:22 WIB
Hidroponik dipilih sejumlah warga di Sumut untuk penuhi kebutuhan sayuran hijau. Aktivitas pertanian hidroponik pun jadi langkah memperkuat ketahanan pangan.
Foto: Pradita Utama
Jakarta -

Hidroponik saat ini menjadi pilihan beberapa masyarakat untuk memenuhi kebutuhan akan sayuran hijau. Sistem tanam ini juga didukung oleh Kementerian Pertanian sebagai langkah memperkuat ketahanan pangan.

Dilansir dari website Kementerian Pertanian, sistem hidroponik adalah budidaya tanaman dengan memanfaatkan air sebagai media tumbuhnya. Sistem ini lebih menekankan pada pemenuhan kebutuhan nutrisi bagi tanaman.

Aplikasi nutrisi tanaman tersebut menggunakan ukuran satuan parts per million (ppm) yang diberikan kepada tanaman. Pemberian tersebut dimulai sejak pindah tanam dari persemaian sampai minggu akhir menjelang panen.

Praktik pembudidayaan ini juga sudah ditemui di beberapa tempat, salah satunya adalah masyarakat di Desa Kuala Tanjung, Kecamatan Sei Suka, Kabupaten Batu Bara, Sumatera Utara.

Hidroponik dipilih sejumlah warga di Sumut untuk penuhi kebutuhan sayuran hijau. Aktivitas pertanian hidroponik pun jadi langkah memperkuat ketahanan pangan.Hidroponik dipilih sejumlah warga di Sumut untuk penuhi kebutuhan sayuran hijau. Aktivitas pertanian hidroponik pun jadi langkah memperkuat ketahanan pangan. Foto: Pradita Utama

Letaknya yang hanya beberapa kilometer dari laut tidak membuat mereka kehilangan akan untuk memenuhi kebutuhan sayuran. Salah satu pencetus dari sistem hidroponik ini adalah Ketua Kelompok Tani Hidroponik Dewi Kuta, Syaiful Bahri.

Syaiful mengatakan selama ini warga di desanya untuk mengonsumsi sayuran kerap membelinya di pasar. Padahal menurutnya, warga desa dapat menanamnya secara hidroponik. Bahkan secara kandungan lebih bagus karena tidak menggunakan pestisida.

"Awal mula pembuatan kelompok hidroponik ini bermula dari sayur-sayur hidroponik ini lebih bermanfaat untuk desa. Jika dilihat dari segi gizi dan kandungannya, sayur hidroponik ini lebih bagus," ungkap Syaiful saat ditemui detikcom beberapa waktu yang lalu.

Hidroponik dipilih sejumlah warga di Sumut untuk penuhi kebutuhan sayuran hijau. Aktivitas pertanian hidroponik pun jadi langkah memperkuat ketahanan pangan.Hidroponik dipilih sejumlah warga di Sumut untuk penuhi kebutuhan sayuran hijau. Aktivitas pertanian hidroponik pun jadi langkah memperkuat ketahanan pangan. Foto: Pradita Utama

Dalam praktiknya, Syaiful mengatakan hidroponik yang dimulai pada November 2020 tersebut sempat mengalami kesulitan di awal-awal pembuatan. Namun, karena kemauan dan keinginan mereka untuk mendapatkan sayuran yang lebih bergizi, mereka pun melakukan studi hingga berdiskusi dengan pemda.

"Awalnya sulit untuk menanam dan mengembangkan hidroponik, tapi dengan kemauan yang kuat kita bisa sedikit demi sedikit memulai hidroponik ini. Awal mulanya karena sering diskusi di kantor desa, lalu terbentuk kelompok tersebut," ujarnya.

Bukannya tanpa hasil, hidroponik yang dibuat oleh Syaiful dan kelompoknya sukses melakukan panen sebanyak 5 kali sejak November 2020. Hidroponik yang ditanami selada, kangkung dan pakcoi ini sudah mampu panen paling banyak sebanyak 70 kg.

Soal harga, Syaiful membanderol sayuran yang dihasilkan oleh hidroponiknya yaitu Rp 24.000/kg untuk selada, Rp 15.000/kg untuk kangkung, dan Rp 10.000/kg untuk pakcoi.

"Sampai saat ini sudah 5 kali panen. Jumlah biasanya paling sedikit 5kg dan bisa sampai 70 kg. Target penjualan masih di sekitar desa sini saja dulu. Kita mau membuka pola pikir ibu2 di sini juga dasarnya sih. Keunggulannya selain dia unik karena bisa mengembang besar," ungkapnya.

Hidroponik dipilih sejumlah warga di Sumut untuk penuhi kebutuhan sayuran hijau. Aktivitas pertanian hidroponik pun jadi langkah memperkuat ketahanan pangan.Hidroponik dipilih sejumlah warga di Sumut untuk penuhi kebutuhan sayuran hijau. Aktivitas pertanian hidroponik pun jadi langkah memperkuat ketahanan pangan. Foto: Pradita Utama

"Hidroponik ini sudah banyak juga yang memesan, setiap hari juga ada pesanan sampai 10 kg, misal untuk penjual kebab pesan 3 kg. Jadi kesadaran masyarakat untuk memanfaatkan sayur hidroponik itu sudah mulai tahu dan meningkat," sambungnya.

Ia juga membagikan tips untuk menanam hidroponik. Pertama yang harus dilakukan adalah penyemaian bibit yang dibuat di tempat yang aman dari hewan sekitar 10 hari. Lalu dilanjutkan dengan proses pemindahan ke media barunya.

Kemudian bibit dalam 40 hari akan tumbuh dan sudah bisa dipanen. Yang perlu dicatat, selama satu bulan tersebut, hidroponik terus dipantau agar air dan nutrisinya tidak kurang.

"Kalau hidroponik campuran nutrisinya ada AB Mix, tapi kalau kita pakainya (pupuk) Meroke Mag, Meroke Calnit, Meroke Flex-G. Kalau di area pesisir, ppm yang baik diatas 1000," imbuhnya.

Untuk melawan hama yang sering ada di tanaman, Syaiful mengatakan hidroponik bisa menggunakan pengusir hama alami. Jangan lupa juga untuk selalu memantau dan menyiram tumbuhan hidroponik dengan air.

"Ancamannya juga termasuk hama, sering dipantau saja dan sering disiram pakai air. Pernah juga kita menggunakan bahan organik seperti daun sirsak hingga bawang putih (untuk mengusir hama).

Pembentukan hidroponik ini juga dibantu oleh PT Indonesia Asahan Aluminium (Inalum). Dalam hal ini, Inalum melakukan berbagai kegiatan mulai dari pelatihan hingga pengenalan program hidroponik.

Hidroponik dipilih sejumlah warga di Sumut untuk penuhi kebutuhan sayuran hijau. Aktivitas pertanian hidroponik pun jadi langkah memperkuat ketahanan pangan.Hidroponik dipilih sejumlah warga di Sumut untuk penuhi kebutuhan sayuran hijau. Aktivitas pertanian hidroponik pun jadi langkah memperkuat ketahanan pangan. Foto: Pradita Utama

Inalum juga membantu memberikan modal untuk membuat instalasi hidroponik yang memiliki 4.000 lubang tanam.

"Untuk Inalum, bisa lebih memantau kami dalam proses pelaksanaan kegiatan hidroponik kami, karena apa yang sudah diberi dari inalum juga akan kami manfaatkan dengan baik. Sehingga kami juga mendukung penuh kegiatan dari Inalum," pungkas Syaiful.

Sebagai informasi, detikcom bersama MIND ID mengadakan program Jelajah Tambang berisi ekspedisi ke daerah pertambangan Indonesia. detikcom menyambangi kota-kota industri tambang di Indonesia untuk memotret secara lengkap bagaimana kehidupan masyarakat dan daerah penghasil mineral serta bagaimana pengolahannya.

Untuk mengetahui informasi lebih lengkap, ikuti terus beritanya di detik.com/jelajahtambang.

(ega/ega)