Mural Sebagai Alat Memperjuangkan Kemerdekaan Bangsa Indonesia

Isfari Hikmat - detikNews
Minggu, 05 Sep 2021 16:20 WIB
Jakarta -

Kehadiran mural di republik ini tidak lepas dari sejarah perjuangan bangsa Indonesia, khususnya pasca proklamasi. Para seniman membuat mural untuk menggemakan kemerdekaan dalam rangka mengusir penjajah. Bagaimana kaitannya dengan mural di masa pandemi?

Pegiat sejarah, Rully Agassy, menjelaskan mural di era perjuangan semakin gencar dilakukan oleh bangsa Indonesia setelah masa proklamasi, tepatnya September 1945. Tokoh-tokoh besar seperti Tan Malaka dan Achmad Soebardjo memiliki ide untuk melakukan propaganda melalui semboyan-semboyan melawan penjajahan dan mendukung republik.

"Mereka menggalakkan moral, semangat juang, menyerukan perlawanan mati-matian terhadap musuh," ungkap Rully. Propaganda ini kemudian dilukis para pemuda di tembok-tembok. Lalu dengan mobil dan kereta api menyebar jauh ke luar Jakarta, tersebar ke penjuru Indonesia.

Mural dan grafiti saat itu sebagai media komunikasi rakyat yang efektif menyerukan perjuangan di berbagai kalangan. "Karena mural lebih mudah dibaca rakyat saat itu,' kata Rully. Mural saat itu dibuat dalam bahasa Inggris, Belanda, dan bahasa Indonesia. Harapannya mural itu menjadi perhatian sekutu dan pers dunia. "Dan akhirnya berhasil," ungkap Rully.

Oleh sebab itu, para seniman sesungguhnya ikut berjuang di barisan terdepan menentang penjajah. Menurut catatan sejarah, para seniman Indonesia saat itu membuat dengan tekhnik stensil atau cetak. Cetakan dibuat dari kertas karton lalu diwarnai dengan cat di dinding.

Namun tidak sedikit juga seniman yang membuat mural dengan langsung menulis dan menggambarnya langsung di tembok dinding. "Saya beberapa kali menemukan foto di Arsip Nasional Belanda 'pasukan Belanda' dengan senang berfoto di mural-mural tersebut," terang Rully.

Belanda hanya menganggap mural-mural tersebut sebagai suara rakyat koloni, sedangkan mereka tengah berfokus dengan perlawanan pejuang secara fisik.

Seniman mural, Edi Bonetski, menceritakan mural di era kemerdekaan berfungsi sebagai media penyebar informasi. Fungsinya untuk mengasih tahu ke warga lain bahwa bangsa Indonesia telah memproklamirkan kemederkannya. "Waktu itu kan belum ada medsos men zaman itu, tahu dari mana (merdeka). Radio Republik Indonesia nggak sampai ke kampung-kampung, ke gunung, ke lembah, ke laut, ke pesisir," terangnya.

Penyebaran informasi saat itu menggunakan kearifan lokal yaitu getok tular atau dari mulut ke mulut."Woi, kita sudah merdeka. Woi, Jepang sudah menyerahkan kekuasaan," ujarnya. Informasi itu lantas ditandai dengan membuat mural atau grafiti di tempat publik. Tujuannya agar terbaca oleh para pejuang gerilya yang tersebar di pelosok-pelosok.

Edi memperkirakan mural saat itu bukan dibuat pakai cat akrilik yang bagus seperti saat ini. "Saat itu belum ada merek-merek terkenal, mungkin pakai kapur yang ditumbuk, kemudian dicairkan pakai karbit, yang karbitnya sebelumnya bekas bom diambil sampah karbitnya oleh pemuda-pemuda waktu itu melawan kolonial," beber Edi.

Sejarawan JJ Rizal menilai mural di era perjuangan kemerdekaan itu muncul untuk melawan propagandanya sekutu. "Melawan propagandanya Belanda yang mau come back lagi. Jadi tidak bisa dilihat mural itu sebagai propaganda, dia kontra propaganda dan sebagai kebenaran, karena suaranya langsung dari publik," terang JJ Rizal.

Rizal menambahkan jurnalis-jurnalis asing itu banyak memotret mural dan grafiti-grafiti pada saat itu. "Karena mereka anggap itu bagian dari cetusan nurani yang murni dari rakyat, jadi bukan dibuat oleh pemerintah," ungkapnya.

Pernyataan mural hari ini dengan pernyatan mural di masa lalu itu, menurut JJ Rizal sama-sama mencetusan sesuatu dari hati nurani masyarakat. Sebagai simbolisasi dari kegelisahaan mereka pada masanya. "(Mural) itu harus dilihat bukan hanya sebagai karya seni, tapi itu jeritan nurani," kata Rizal.

Untuk lengkapnya berita ini bisa saksikan video di atas

(isf/fuf)