Cerita Pengungsi Afghanistan Sulit Dapat Obat Ketika Anak Sakit

Faiz Iqbal Maulid - detikNews
Sabtu, 04 Sep 2021 11:01 WIB
Khairul Ghani (43) duduk di tepian jalan bersama 2 anaknya.
Khairul Ghani (43) duduk di tepian jalan bersama dua anaknya. (Faiz Iqbal Maulid/detikcom)
Jakarta -

Pencari suaka asal Afghanistan hingga kini masih bermukim di area kantor Komisariat Tinggi Urusan Pengungsi PBB (UNHCR) di kawasan Kebon Sirih, Jakarta Pusat. Beberapa pencari suaka mengkhawatirkan kondisi anaknya.

Dari pantauan detikcom di lokasi pukul 09.30 WIB, Sabtu (4/9/2021). Suasana pengungsian tampak hening, tidak banyak aktivitas di sana. Jumlah pengungsi hari ini tampak berkurang karena beberapa sudah meninggalkan lokasi.

Beberapa anak dari pencari suaka terlihat berlarian di tengah jalan sambil bermain. Ada sekitar 20 orang tinggal di sana, 3 di antaranya merupakan anak-anak.

Salah seorang WN asal Afghanistan, Khairul Ghani (43), mengaku khawatir dengan kondisi anaknya. Dia takut kondisi kesehatan anaknya terganggu karena tidak mendapatkan asupan yang bergizi.

"Anak-anak di sini kurang gizi, dua hari terakhir makannya Indomie," kata Ghani saat ditemui di lokasi, Sabtu (4/9/2021).

Ghani mengatakan sudah meminta bantuan dari UNHCR berupa tempat tinggal layak, makanan, dan air untuk anaknya. Namun belum ada kepastian terkait hal tersebut.

Ghani juga mengaku anak-anak di sana sering sakit-sakitan. Terlebih lagi, dia mengatakan sulitnya mendapat bantuan obat atau akses ke fasilitas kesehatan.

"Terkadang tiga hari sekali anak saya demam, dan yang adiknya punya tifus. Mau minta bantuan juga susah," ujarnya.

"Saya pernah pergi ke puskesmas belakang. Mereka bilang tidak menerima layanan selain vaksinasi. Setelah itu, saya coba telepon salah satu fasilitas kesehatan, tapi katanya saya harus bayar pakai uang saya sendiri. Saya saja nggak punya uang lagi," imbuh Ghani.

Untuk mendapat bantuan fasilitas kesehatan dan pendidikan, kata Ghani, harus memiliki kartu identitas sebagai pengungsi. Karena tak punya akses, sejauh ini dia berharap bantuan obat dari warga sekitar jika anaknya sakit.

Hal yang sama diungkapkan pengungsi lain Khofirah (38), WN asal Myanmar. Dia menyebut sulitnya mendapat akses pendidikan dengan status pengungsi baik formal maupun informal.

Dia mengaku pernah mendapat tawaran sekolah oleh salah satu perwakilan Indonesia dari UNHCR untuk anaknya. Namun, karena belum memiliki kartu identitas resmi, akhirnya tawaran itu tidak diterimanya.

"Sempat ditawari untuk pendidikan, tapi karena saya tidak punya tempat tinggal, hidupin diri sendiri masih susah, dan belum punya kartu identitas, akhirnya tidak jadi tawaran itu ke anak saya," terangnya.

(eva/eva)