Terjerat Pinjol, Seorang Ayah Akan Jual Ginjal untuk Bayar Utang

Andi Saputra - detikNews
Jumat, 03 Sep 2021 13:29 WIB
Pinjam Online Abal-abal
Ilustrasi pinjaman online abal-abal (Fauzan Kamil/detikcom)
Jakarta -

Seorang ayah, sebut saja Jaka, berencana menjual ginjalnya untuk menutup utang dari pinjaman online (pinjol). Jaka masuk lingkaran setan utang pinjol ilegal untuk membeli susu anak dan mengobati ibunya yang sakit jantung.

"Awalnya karena situasi pandemi dan puncaknya pas PPKM dimulai. Saya sudah mulai menyerah karena penghasilan berkurang drastis. Karena penghasilan sangat minim, sedangkan saya harus bayar kuliah yang tinggal sidang. Terus anak juga harus beli susu, belum lagi Ibu sedang sakit jantung dan harus perawatan sangat rutin dan intensif. Saya memberanikan diri atau nekat untuk coba pinjol. Berjalan beberapa bulan aman-aman. Saya bisa mengatasinya tiap bulan. Tapi 3 bulan belakangan saya sudah tidak sanggup lagi karena terlalu banyak," kata Jaka saat berbincang dengan detikcom, Jumat (3/9/2021).

Jaka awalnya meminjam Rp 20 juta pada awal 2021. Namun, karena sistem pinjol ilegal beranak pinak tidak terkontrol, utang membengkak menjadi 250 juta. Untuk menutupinya, Jaka akhirnya gali lubang tutup lobang untuk menutupinya.

"Sudah bayar Rp 150 juta. Mertua saya pinjam ke saudara-saudara. Masih kurang Rp 100 jutaan," ucapnya.

Dengan beban hidupnya saat ini, Jaka mengaku sudah tidak sanggup lagi. Mertuanya marah besar. BPJS sudah 6 bulan tidak dibayar. Listrik sempat dicabut karena nunggak.

"Belum lagi debt collector yang ngancem semua orang di kontak saya. Utang offline sudah banyak sekali, nagih semua, online juga gitu. Sebenarnya saya sudah nggak sanggup," tuturnya.

Jalan terakhir, ia berencana menjual ginjalnya. Ia sudah bertemu dengan calon pembeli.

"Saya sudah bertemu dengan calon pembeli dua minggu lalu. Tapi kalau ingat anak masih kecil, saya sedih," kisahnya.

Jaka kini sedang didampingi pengacara Slamet Yuono. Pendampingan masih dilakukan untuk menentukan langkah hukum dan upaya lain yang harus ditentukan.

"Masih kami dalami," kata Slamet dihubungi terpisah.

(asp/fas)