Bagaimana Islam Memandang Fenomena Pinjaman Online?

Rahma Indina Harbani - detikNews
Rabu, 25 Agu 2021 17:19 WIB
pinjam online
Foto: Pinjam Online (Fauzan Kamil/Infografis detikcom)/Bagaimana Islam Memandang Fenomena Pinjaman Online?
Jakarta -

Pinjaman online (pinjol) kembali disorot setelah terkait dengan kasus bunuh di Bojonegoro, Jawa Timur. Korban meninggalkan surat wasiat yang berisi besarnya utang pada pinjol dan utang lainnya.

"Benar ditemukan selembar kertas pesan yang bertuliskan orang yang diutangi dan lain lain," ujar Kapolsek Kanor Iptu Slamet Hariyadi kepada detikcom pada Selasa (24/8/2021).

Kasus pinjol mungkin tak lagi menjadi hal asing bagi masyarakat. Mudahnya meminjam uang pada pinjol menyenbabkan kasusnya makin marak. MUI angkat bicara terkait pandangan terhadap pinjol dalam Islam.

Menurut Wakil Sekretaris Komisi Fatwa MUI Abdul Muiz Ali, meminjam uang dengan cara online hukumnya boleh. Hal ini dijelaskan dalam kajian fikih muamalah kontemporer yang dikutip dari laman resmi MUI.

Pembolehan pada pinjol didasari teori dalam kitab Al-Ma'ayir As-Syar'iyah An-Nasshul Kamil lil Ma'ayiri As-Syar'iyah. Teori menyatakan, serah terima secara hukmiy (legal-formal/non-fisik) dianggap telah terjadi baik secara i'tibâran (adat) maupun secara hukman (syariah).

"Serah terima dilakukan dengan cara takhliyah (pelepasan hak kepemilikan) dan kewenangan untuk tasharruf(mengelola). Serah terima dianggap sudah terjadi dan sah, meski belum terjadi secara fisik (hissan)," tulis Abdul Muiz.

Fikih lain menjelaskan, yang dipertimbangkan dalam akad piutang adalah substansinya. Kegiatan jual beli melalui telepon dan media online lainnya menjadi salah satu pilihan, berikut haditsnya,

والعبرة في العقود لمعانيها لا لصور الألفاظ.... وعن البيع و الشراء بواسطة التليفون والتلكس والبرقيات, كل هذه الوسائل وأمثالها معتمدة اليوم وعليها العمل.

"Yang dipertimbangkan dalam akad-akad adalah subtansinya bukan bentuk lafadznya, dan jual beli via telpon, telegram dan sejenisnya telah menjadi alternatif yang utama dan dipraktekkan." (Syaikh Ahmad bin Umar Asy-Syathiri, Syarh al-Yaqut an-Nafiis, II/22)

Setelah memahami hukum transaksi pinjaman online dalam Islam dibolehkan, ada tiga hal yang harus diperhatikan oleh beberapa pihak terkait pinjol. Ketiganya terkait riba, pihak yang berhutang, dan kemampuan bayar.

Tiga hal terkait pinjol yang wajib jadi perhatian:

1. Tidak menggunakan riba (rentenir)

Dalam Islam riba artinya sebuah penambahan nilai atau bunga melebihi jumlah pinjaman saat dikembalikan dengan nilai tertentu yang diambil dari jumlah pokok pinjaman untuk dibayarkan oleh peminjam.

Secara eksplisit, Allah SWT melarang umat-Nya untuk melakukan riba dalam QS. Al Baqarah ayat 275,

وَأَحَلَّ اللَّهُ الْبَيْعَ وَحَرَّمَ الرِّبَا

Arab latin: wa aḥallallāhul-bai'a wa ḥarramar-ribā

Artinya: "Allah telah menghalalkan jual beli dan mengharamkan riba."

2. Jangan menunda untuk membayar utang

Konteks menunda di sini artinya ketika pemilik hutang sudah mampu membayar, namun menunda untuk melakukan pembayaran. Hal ini hukumnya adalah haram.

Dalam suatu hadits, Rasulullah SAW bersabda,

لَيُّ الْوَاجِدِ يُحِلُّ عِرْضَهُ وَعُقُوْبَتَهُ.

Artinya: "Menunda-nunda (pembayaran) yang dilakukan oleh orang mampu menghalalkan harga diri dan pemberian sanksi kepadanya." (HR Nasa'i).

3. Memaafkan orang yang tidak mampu membayar utang

Ada suatu kondisi pemilik hutang tidak mampu untuk melunasi utang, maka memaafkan hutang tersebut bagi peminjam adalah hal yang mulia dalam ajaran Islam.

Hal tersebut dibuktikan dalam firman Allah QS. Al Baqarah ayat 280,

وَإِنْ كَانَ ذُو عُسْرَةٍ فَنَظِرَةٌ إِلَى مَيْسَرَةٍ وَأَنْ تَصَدَّقُوا خَيْرٌ لَكُمْ إِنْ كُنْتُمْ تَعْلَمُونَ

Arab latin: Wa ing kāna żụ 'usratin fa naẓiratun ilā maisarah, wa an taṣaddaqụ khairul lakum ing kuntum ta'lamụn

Artinya: "Dan jika (orang berhutang itu) dalam kesukaran, maka berilah tangguh sampai dia berkelapangan. Dan menyedekahkan (sebagian atau semua utang) itu, lebih baik bagimu, jika kamu mengetahui."

Senada dengan hal itu, riwayat hadits lainnya dari Abu Hurairah RA, ia berkata bahwa Rasulullah SAW bersabda:

كان تاجر يداين الناس، فإذا رأى معسراً قال لفتيانه تجاوزوا عنه لعل الله أن يتجاوز عنا، فتجاوز الله عنه

Artinya: "Ada seorang pedagang yang memberikan pinjaman kepada manusia, maka jika ia melihat orangnya kesulitan, ia berkata kepada pelayannya: Bebaskanlah ia, semoga Allah membebaskan kita (dari dosa-dosa dan adzab), maka Allah pun membebaskannya." (HR Muttafaq 'Alaih).

Jadi, dapat disimpulkan Islam membolehkan transaksi pinjol dengan memperhatikan hal-hal yang telah disebutkan. Semoga bermanfaat detikers.

(rah/row)