Round-Up

Menanti Kelanjutan Skandal Bansos Corona dari Eks Anak Buah Juliari

Tim detikcom - detikNews
Jumat, 03 Sep 2021 07:32 WIB
Sidang kasus korupsi bansos terdakwa Matheus Joko Santoso
Sidang kasus Bansos (Foto: Zunita/detikcom)
Jakarta -

Pusaran skandal suap terkait bantuan sosial (bansos) untuk penanganan pandemi virus corona (COVID-19) terus berkembang. Langkah nyata KPK kini dinanti.

Perkara ini kembali disorot selepas dua mantan anak buah Juliari Batubara di Kementerian Sosial (Kemensos) mendapatkan status saksi pelaku bekerja sama atau justice collaborator (JC). Sebab status itu merupakan pertanda dugaan adanya aktor lain yang lebih berperan dalam skandal itu.

Jika melihat ke persidangan sebelumnya, baik di tahap ketika Adi dan Matheus Joko masih berstatus sebagai saksi di persidangan penyuap bansos Harry Van Sidabukke dan Ardian Iskandar Maddantja hingga menjadi terdakwa di perkaranya sendiri, Adi dan Matheus terbuka mengenai adanya pengumpulan fee bansos Rp 10 ribu per paket hingga penerimaan uang dari Harry dan Ardian serta vendor lain untuk Juliari Batubara.

Salah satu yang sempat santer adalah ketika Adi Wahyono mengungkapkan ada afiliasi anggota DPR di pembagian kuota bansos Corona. Mereka yang disebut Adi Wahyono adalah Ketua Komisi III DPR Herman Hery, anggota Komisi II DPR F-PDIP saat itu menjabat Wakil Ketua Komisi VIII DPR Ihsan Yunus, serta Marwan Dasopang.

Hal itu terungkap di persidangan Harry Van Sidabukke dan Ardian Iskandar. Saat itu Adi Wahyono duduk sebagai saksi fakta dari jaksa KPK.

"Bap 45, pada tahap 1 kuota ditentukan Pepen Nazarudin, M O Royani, Victor Siahaan. Adapun perusahaan-perusahaan tersebut afiliasinya itu ditunjukkan oleh antara lain perinciannya, 1 sampai dengan 38, misalnya PT Bahtera Asa II kuota 223.865 Kukuh, Moncino misalnya nomor 4 sampai 6 pengusul afiliasi Hartono Laras (Sekjen Kemensos), terus Primer Koperasi Dadang Iskandar, PT PPI, PT Pertani kosong nggak ada afiliasi," ujar jaksa KPK membacakan BAP di sidang.

"Ini ada Kukuh, Marwan Dasopang, Hartono Laras, Dadang Iskandar, Ihsan Yunus, Juliari Peter Batubara, Candra Mangke, M Royani dan seterusnya, ini tentu saudara nggak salah sebutkan? Tentu ada data?" tanya jaksa mengonfirmasi BAP.

"Jadi waktu itu sampaikan kan pengusul sudah di akhir-akhir. Makanya informasi itu akumulasi, kita sering lakukan pertemuan jadi saya mendengar (nama) pengusul-pengusul itu," jawab Adi.

Di persidangan Adi juga mengaku pernah ditegur oleh pengusaha penyedia bansos Corona. Dia ditegur karena mengurangi kuota PT Anomali sebagai penyedia bansos Corona. Di persidangan disebut PT Anomali itu adalah perusahaan yang terafiliasi dengan Herman Hery.

"Ya (ditegur) mungkin dia buat belanja, atau apa waktu itu saya ditegur," kata Adi.

"Siapa yang tegur saudara?" tanya jaksa

"Pak Ivo Mungkaren," jawab Adi singkat.

Setelah ditegur Ivo, Adi mengaku ditelepon seseorang. Dia awalnya tidak tahu orang itu siapa, belakangan dia ketahui yang telepon dia adalah Ketua Komisi III DPR, Herman Herry.

"BAP Saudara, nomor 50 Saudara terima telepon?" tanya jaksa.

"Karena nggak ada namanya saya nerima telepon aja," kata Adi.

"Yang telepon itu.... Ya temennya pak menteri lah pak," ucap Adi.

"Saudara terima telepon sebagaimana tadi, ada nama Herman Herry?" kata jaksa mengonfirmasi.

"Saya nggak tahu namanya, hanya terima telepon saja, yang telepon itu (Herman Herry) itu tahu belakangan pak. Saya nggak simpan nomornya," jelas Adi.

Pernyataan Adi juga didukung oleh Matheus Joko, selama di persidangan Adi dan Joko sama-sama membuka siapa saja vendor bansos yang dipungut 'fee' nya. Sebab, keduanya memiliki catatan khusus berkaitan dengan penerimaan uang dari sejumlah vendor bansos.

Beberapa kali di persidangan Adi dan Joko mencocokkan data catatan yang merekapunya terkait penerimaan fee. Pernah juga ada perbedaan dalam kesaksian mereka berdua, keduanya juga pernah dikonfrontir di persidangan.

Pembagian Kuota Bansos oleh Juliari

Dalam sidang juga Adi dan Joko mengatakan Juliari sudah membagi kuota bansos mulai di tahap 7. Kuota diberikan ke beberapa rekannya yakni:

- Herman Hery mendapat 1 juta paket bansos (perusahaan Ivo Wongkaren dan Stefano)
- Ihsan Yunus mendapat 400 ribu paket bansos adminnya Agustri Yogasmara dan Iman Ikram
- Bina Lingkungan yang dikendalikan Matheus Joko dan Adi Wahyono 300 ribu paket
- Kuota 200 ribu diberikan ke teman, kerabat, kolega dari Juliari P Batubara dkk,

Fakta ini juga masuk dalam surat tuntutan Adi dan Matheus Joko. Jaksa menyebut pembagian kuota bansos sembako Corona mulai tahap 7 sampai dengan akhir semua penyedia bansosnya ditunjuk Juliari langsung.

Jaksa mengungkapkan, semenjak penyedia bansos ditunjuk Juliari, Joko dan Adi hanya mengumpulkan fee ke penyedia bansos kelompok bina lingkungan yang dikelola Joko dan Adi.

"Berdasarkan pembagian tersebut, mulai tahap 7 sampai selesai, maka Terdakwa dan Adi Wahyono menunjuk penyedia bansos sembako berdasarkan pembagian kelompok dan kuota dari Juliari P Batubara tersebut dan hanya mengumpulkan uang fee sebesar Rp 10 ribu per paket dari penyedia kelompok bina lingkungan yang dikelola Terdakwa dan Adi Wahyono," kata jaksa.

Tonton video 'Sederet Vonis Untuk Para Penyunat Bansos Corona':

[Gambas:Video 20detik]