ADVERTISEMENT

Cerita Jenderal Purn Wanita Polri Di-bully Saat Berjuang Hapus Tes Keperawanan

Audrey Santoso - detikNews
Rabu, 01 Sep 2021 13:02 WIB
Polwan berjilbab di Balai Kota
Ilustrasi Polwan (Ibnu Hariyanto/detikcom)
Jakarta -

Brigjen (Purn) Sri Rumiyati, pensiunan perwira tinggi Polwan Polri, menceritakan perjuangannya menyuarakan agar tes keperawanan sebagai syarat seleksi masuk pendidikan Bintara maupun Akademi Kepolisian (Akpol) dihapus. Dia mengaku sempat dirundung sesama perempuan yang bertolak belakang dengan pemikirannya.

"2006, kebetulan saya mendapat kesempatan mewakili kabag (kepala bagian) saya dalam penentuan penerimaan seleksi baik untuk Bintara Polri maupun Akpol. Di salah salah satu klausul itu kami membicarakan persyaratan untuk menjadi anggota Polri, baik dari Bintara maupun yang akan masuk ke Akpol. Salah satunya dari kesehatan," kata Sri dalam diskusi daring yang digelar Change.org, Rabu (1/9/2021).

Saat rapat Sri menemukan salah satu persyaratan adalah kondisi hymen yang utuh. Sri pun menanyakan maksudnya kepada peserta rapat lainnya.

"Saya melihat di situ ada kata-kata 'hymen yang utuh'. Saya bertanya maksudnya apa. Karena ini memang dalam rangka menentukan persyaratan. Jadi, sebelum diketuk menjadi persyaratan yang harus dipenuhi, kita akan diskusikannya pada saat itu," cerita Sri.

Brigadir Jenderal Polisi (Purn) Sri RumiyatiBrigadir Jenderal Polisi (Purn) Sri Rumiyati (Tangkapan layar Zoom Meeting)

"Kemudian dijelaskan oleh dokter bahwa itu adalah masalah keperawanan," sambung dia.

Sri langsung mengkritik tes keperawanan. Dia menyindir soal tes keperjakaan.

"Kemudian saya tanyakan ke situasi tes itu, kalau perempuan diperiksa masalah keperawanannya, bagaimana dengan yang laki-laki? Kenapa ini hanya perempuan saja? Kalau laki-laki katanya ini tidak bisa dilakukan," ujar Sri menirukan diskusi dalam rapat 15 tahun silam.

Sri mengaku terus mengorek soal dasar persyaratan tes keperawanan. Dia mendapat jawaban dari peserta rapat lainnya jika ini menyangkut masalah moral.

"Kaitannya apa ini harus dilakukan? Kemudian dijawab itu masalah moral. Saya tanyakan balik, kalau seandainya itu masalah moral, ketika seseorang menjadi polisi, baik laki-laki maupun perempuan, harus bermoral baik, bagaimana dengan laki-laki yang keluar-masuk pelacuran? Apakah dia bisa dikategorikan sebagai laki-laki yang bermoral baik?" tutur Sri.

Simak cerita Brigjen (Purn) Sri soal perjuangan suarakan penghapusan tes keperawanan di Polri selengkapnya di halaman berikutnya.

Simak juga Video: Kecaman Terhadap Layanan Tes Keperawanan di Inggris

[Gambas:Video 20detik]





ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT