detikNews
2019/12/01 14:42:02 WIB

Aktivis Menilai Tes Keperawanan Adalah Budaya Patriarki

Sachril Agustin Berutu - detikNews
Halaman 1 dari 4
Aktivis Menilai Tes Keperawanan Adalah Budaya Patriarki Deputi Sekretaris Jenderal Koalisi Perempuan Indonesia, Sutriyatmi (Sachril Agustin/detikcom)
Jakarta - Atlet senam yang akan dikirim ke Filipina untuk SEA Games 2019, Shalfa Avrila Siani (17), dipulangkan karena diisukan tidak perawan. Aktivis perempuan memandang tes keperawanan adalah mitos dan budaya patriarki.

"Saya tidak setuju dengan itu, dan itu sangat mitos. Apakah (tes keperawanan) untuk menggambarkan, 'oh itu perempuan nakal', begitu? Tidak. Untuk menentukan sifat seseorang, itu bukan dari keperawanan," kata Direktur Yayasan Kesehatan Perempuan (YKP) Nanda Dwinita di Ruang Publik Terpadu Ramah Anak (RPTRA) Cipinang Besar Utara, Jakarta Timur, Minggu (1/12/2019).


Nanda mengatakan tidak ada hal pasti untuk mengukur keperawanan perempuan. Banyak masyarakat yang masih konservatif tentang status keperawanan perempuan. Pandangan itu menyebabkan perempuan sulit masuk ke ruang publik.

Dia menjelaskan, perempuan memiliki selaput dara. Selaput dara ini digunakan sebagai indikator untuk mengetahui apakah perempuan masih perawan atau tidak.


Namun, lanjutnya, selaput dara bisa sobek bukan dari hubungan badan saja. Perempuan yang jatuh atau kecelakaan bisa menyebabkan selaput dara perempuan sobek.

"Karena dari sisi kesehatan, keperawanan itu kan ada lapisannya, lapisannya sangat tipis. Kita jatuh saja bisa sobek. Dan semua perempuan itu berbeda-beda, ada yang keeratannya sangat erat, ada yang tidak," lanjutnya.

Aktivis Menilai Tes Keperawanan Adalah Mitos Budaya Patriarki Direktur Yayasan Kesehatan Perempuan (YKP) Nanda Dwinita (Sachril Agustin Berutu/detikcom)



Kontak Informasi Detikcom
Redaksi: redaksi[at]detik.com
Media Partner: kerjasama[at]detik.com
Iklan: sales[at]detik.com