ADVERTISEMENT

Dokter di Sulsel Meninggal Usai Vaksin Booster Punya Riwayat Hipertensi

Muhammad Taufiqqurahman - detikNews
Rabu, 25 Agu 2021 13:13 WIB
The hands in blue glove of the scientist hold the processor
Ilustrasi vaksin (Foto: Getty Images/iStockphoto/Alernon77)
Makassar -

Seorang dokter di sebuah rumah sakit (RS) di Kabupaten Bulukumba, Sulawesi Selatan (Sulsel), meninggal usai mendapatkan vaksinasi ketiga. Dokter spesialis kejiwaan ini diketahui memiliki riwayat penyakit bawaan.

"Jadi setelah ditelusuri ada riwayat hipertensinya. Ada di riwayatnya dan pihak keluarga juga ada menyampaikan itu," kata Kepala Dinas Kesehatan Kabupaten Bulukumba, dokter Wahyuni, kepada detikcom, Rabu (25/8/2021).

Meski begitu, pihak tim Kejadian Ikutan Pasca Imunisasi (KIPI) Provinsi Sulsel akan tetap memeriksa lebih lanjut atas meninggalnya Andi Yuwardani Makmur. Dokter ini ketahui meninggal pada Minggu (22/8) lalu.

"Dia spesialis dokter jiwa di RSUD Andi Sultan Daeng Radja Bulukumba. Dia ASN di rumah sakit," sebut Wahyuni.

Andi Yuwardani Makmur mendapatkan suntikan vaksin Corona ketiga atau booster pada Kamis (19/8) lalu. Sebelum divaksinasi, Andi Yuwardani dinyatakan sehat dan tidak memiliki keluhan apa-apa sehingga proses vaksinasi tetap dilanjutkan.

"Sesuai prosedur awal-awal tidak ada keluhan. Nanti dari KIPI akan menelusuri betul tidak terkait (vaksinasi). Tapi kalau melihat kondisi kayaknya bukan," terang Wahyuni.

Sebelumnya, Ketua Ikatan Dokter Indonesia (IDI) Sulsel Ichsan Mustari menyebut informasi meninggalnya dokter ini telah diketahui pihaknya. Oleh karena itu, pihaknya menunggu hasil investigasi yang dilakukan oleh tim KIPI tingkat kabupaten dan provinsi.

"Saya kira saat ini tim KPI melakukan investigasi tentu, karena begitu memang prosedurnya kalau ada dugaan itu tim KIPI Kabupaten dan KPI Provinsi melakukan investigasi," tambah Ichsan.

Pihak KIPI disebut akan menelusuri soal apakah benar meninggalnya Andi Yuwardani meninggal setelah mendapatkan vaksinasi ketiga, dan apakah penyebab meninggalnya bagian dari efek vaksinasi.

"Melihat sejauh ini mana kejadian itu. Artinya kita kan mesti cari dulu, investigasi. Sejak awal vaksinasi telah dibentuk tim kejadian awal. Rekomendasi-rekomendasi akan diberikan karena kita tahu sendiri vaksinasi COVID kan vaksinasi pertama kali, tentu juga kejadian yang seperti itu tetap menjadi analisis tim melihatnya," terang dia.

Lihat Video: Baru 34% Nakes Dapat Booster Vaksin Covid-19, Tertinggi di Bali-Kepri

[Gambas:Video 20detik]



(fiq/jbr)

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT