Densus 88: Kemenangan Taliban di Afghanistan Bisa Picu Kelompok Radikal RI

Tim detikcom - detikNews
Selasa, 24 Agu 2021 22:05 WIB
Kabag Ban Ops Densus 88 Mabes Polri, Kombes Aswin Siregar.
Kabag Ban Ops Densus 88 Mabes Polri Kombes Aswin Siregar (dok. webinar)
Jakarta -

Detasemen Khusus (Densus) 88 Polri mengungkap adanya dampak terhadap Indonesia dari kemenangan kelompok Taliban setelah menguasai sebagian besar wilayah Afghanistan. Polri menyebut kemenangan Taliban bisa memicu ketertarikan kelompok-kelompok radikal di Indonesia.

Hal tersebut diungkapkan oleh Kabag Ban Ops Densus 88 Mabes Polri Kombes Aswin Siregar. Aswin awalnya memaparkan kondisi Afghanistan sejak 1980-an, yang merupakan tempat berlatih para teroris, termasuk dari Indonesia.

"Afghanistan sudah lama menjadi training ground dan battle ground bagi para foreign teroris fighter, orang Indonesia yang berperang ke luar. Itu Afghanistan sudah lama menjadi training ground, training camp, dan battle ground untuk orang-orang Indonesia yang terbawa atau terpengaruh untuk ikut berjuang ke sana," ucap Aswin dalam webinar CICSR seperti disiarkan lewat YouTube Sang Khalifah, Selasa (24/8/2021).

Aswin lantas mengungkapkan kala itu sejumlah kelompok di Indonesia juga ikut mengirimkan hampir 10 gelombang untuk beraksi di Afghanistan. Ketika itulah, kata Aswin, beberapa orang Indonesia yang ikut bergabung ke Afghanistan berlatih hingga membangun jaringan terorisme serta mengumpulkan amunisi.

Kemudian, setelah peperangan di Afghanistan selesai, Aswin menyebut orang-orang Indonesia itu akhirnya kembali ke Indonesia. Ketika itulah, kata dia, mereka akhirnya membawa semua yang dipelajari dari Afghanistan hingga berujung pada beberapa peristiwa teror di Indonesia.

"Setelah perang di sana selesai, kamp ditutup, seperti tadi saya contohkan Ali Imron mungkin gelombang terakhir. Pulang ke sini sekitar tahun 1990-an, kemudian tidak lama setelah pulang mulailah ada aksi aksi teror yang dilakukan oleh returnist dari Afghanistan itu," ucapnya.

"Di sana sudah terjadi proses bermacam-macam ya, brainwash ideologi, pembangunan strategi, kemudian pembelokan tujuan atau cita-cita yang tadinya selamatkan sesama muslim sekarang jadi ingin membangun Daulah Islamiyah pulang ke Indonesia, ini sudah terjadi di sana. Kalau kita lihat beberapa peristiwa yang menjadi penyerangan dari JII adalah bom malam Natal tahun 2000, keterlibatan konflik di Ambon dan Poso, Bom Bali 1 & 2, Hotel JW Marriott, bom Kedubes Australia, dan kemudian Rich Carlton 2009," sambungnya.

Simak selengkapnya di halaman berikutnya.