Vaksinasi Corona di Aceh Baru 18% dari Target 4 Juta Warga

Agus Setyadi - detikNews
Senin, 23 Agu 2021 13:21 WIB
Scientists are done research on vaccine in laboratory with test tubes on Covid19 Coronavirus type for discover vaccine.
Ilustrasi vaksin (Getty Images/iStockphoto/chayakorn lotongkum)
Banda Aceh -

Pemprov Aceh mengatakan baru 18 persen masyarakat di Aceh yang disuntik vaksin Corona atau COVID-19 dari total target vaksinasi 4 juta warga. Daerah dengan cakupan vaksinasi tertinggi adalah Banda Aceh dan terendah di Kabupaten Aceh Utara.

"Pemerintah menargetkan 4.028.891 penduduk Aceh, yang tersebar di 23 kabupaten/kota, divaksinasi untuk mencapai kekebalan kelompok dari ancaman COVID-19. Vaksinasi COVID-19 di Aceh dimulai pada 15 Maret 2021, dan cakupannya bagi semua kelompok sasaran sudah mencapai 18 persen per tanggal 21 Agustus," kata juru bicara Satuan Tugas Penanganan COVID-19 Aceh, Saifullah Abdulgani, kepada wartawan, Senin (23/8/2021).

Saifullah menjelaskan, persentase tersebut merupakan rata-rata cakupan vaksinasi COVID-19 di seluruh kabupaten/kota. Menurutnya, cakupan paling tinggi saat ini ada di Kota Banda Aceh mencapai 54,3%.

Selanjutnya adalah Kabupaten Aceh Barat Daya 26,6%, Langsa 26,4%, Bener Meriah 25,2%, Sabang 25,1%, Aceh Tengah 23,6%, Gayo Lues 23,4%, Lhokseumawe 20,8%, Nagan Raya 20,8%, dan Aceh Singkil 20,2%. Sementara sejumlah daerah disebut cakupan imunisasi masih di bawah 20%.

Daerah tersebut yaitu Aceh Barat 17,1%, Aceh Tenggara 17,1%, Subulussalam 15,8%, Aceh Timur 15,6%, Aceh Selatan 14,9%, Aceh Jaya 14,8%, Pidie Jaya 14,6%, Bireuen 14,5%, Aceh Tamiang 14,3%, Simeulue 11,3%, Pidie 11,1%, Aceh Besar 10,6%, dan Aceh Utara 10,5%.

"Makin rendah cakupan vaksinasi suatu daerah maka kian rendah perlindungan warga dari ancaman COVID-19. Karena itu, kita terus mengimbau setiap orang berkontribusi untuk saling melindungi melalui kekebalan kelompok tersebut," jelas Saifullah.

Dia menyebut Kota Banda Aceh diperkirakan dapat mencapai herd immunity atau kekebalan kelompok lebih cepat dibanding daerah lain. Menurutnya, kekebalan kelompok menimbulkan dampak tidak langsung terhadap kelompok masyarakat rentan yang bukan sasaran vaksinasi.

"Herd immunity merupakan situasi di mana sebagian besar masyarakat terlindung atau kebal terhadap penyakit tertentu COVID-19," sebut Saifullah.

Saifullah mengatakan vaksinasi Corona tidak hanya bertujuan memutus rantai penularan penyakit dan menghentikan wabahnya, tapi juga untuk menghilangkan penyakit dalam jangka panjang. Dia mencontohkan imunisasi penyakit cacar yang sukses digelar setelah 47 tahun.

Menurutnya, imunisasi cacar dicanangkan pada 1956 dan penyakit musnah pada 1974. Imunisasi penyakit menular itu kemudian dihentikan pada 1980.

"Begitu juga imunisasi polio. Imunisasi polio dicanangkan tahun 1980 dan Indonesia pun mencapai bebas polio tahun 2014 lalu," beber Saifullah.

(agse/haf)