Hidayat Nur Wahid Minta Santri Tak Terpengaruh Hoaks soal Taliban

ADVERTISEMENT

Hidayat Nur Wahid Minta Santri Tak Terpengaruh Hoaks soal Taliban

Jihaan Khoirunnisaa - detikNews
Senin, 23 Agu 2021 10:40 WIB
Wakil Ketua MPR Hidayat Nur Wahid
Foto: MPR
Jakarta -

Wakil Ketua MPR-RI yang juga Ketua Badan Wakaf Pondok Modern Darussalam Gontor (PMDG), Hidayat Nur Wahid (HNW) meminta komunitas santri dan wali santri di Indonesia secara konsisten memberikan manfaat untuk masyarakat, serta berkontribusi untuk kemajuan peradaban NKRI. Terlebih dengan banyaknya hoaks dan disinformasi soal santri imbas kemenangan Taliban (para santri) di Afghanistan.

HNW mengingatkan dengan adanya isu tersebut komunitas santri tak membalas dengan fitnah dan kemungkaran. Cukup diklarifikasi dengan sesuai nilai-nilai etika Islam yang diajarkan di pesantren.

"Jadilah ibarat pohon mangga, sekalipun dilempari batu, tapi tidak membalas dengan lemparan baru, tetapi membalas dengan menjatuhkan buahnya," ujar HNW dalam keterangannya, Senin (23/8/2021).

Di pengajian virtual bulanan bertema 'Spirit Santri Untuk Negeri Berdaya dan Berkeadaban' yang diadakan oleh Ikatan Keluarga Pondok Modern (IKPM) Gontor Cabang Bogor, Minggu (22/8), Anggota Komisi VIII DPR-RI ini menjelaskan, sejak zaman penjajahan dan di awal pembentukan kesadaran nasional, santri telah berkontribusi positif bersama tokoh-tokoh bangsa dari latar organisasi, agama dan suku yang berbeda.

Menurutnya, para santri bersama-sama berjuang untuk memerdekakan Indonesia, mempertahankan kemerdekaan Indonesia, serta menggagalkan pemberontakan PKI tahun 1948 dan 1965.

Pada Tahun 1903 misalnya, lanjut dia, organisasi pertama di Indonesia, Jamiatul Khair, telah mengadakan Kongres di Jakarta yang menghasilkan rekomendasi memperjuangkan kemerdekaan bangsa dari penjajahan Belanda hukumnya adalah wajib. HNW mengatakan perjuangan santri terus berlanjut hingga proses persiapan kemerdekaan, baik dalam BPUPKI maupun Panitia 9 dan PPKI.

Ia menjelaskan, berbagai elemen santri seperti ormas (Muhammadiyah, NU, Persis, PUI) orpol (Partai Islam Indonesia, Sarekat Islam, Partai Masyumi), pondok Pesantren seperti Gontor, para habaib, bahkan para ulama dan santri membentuk Laskar Kiai, Laskar Santri, dan KH Subchi Parakan dikenal sebagai 'guru spiritual'-nya Bapak TNI Jendral Besar Soedirman.

Mereka aktif bersama pejuang lainnya, dengan menghadirkan dan mempertahankan Negara Indonesia Merdeka, yang oleh NU, Muhammadiyah dan partai-partai Islam tidak disebut sebagai Darul Islam atau Darul Harbi melainkan Darussalam dan Darul 'ahdi wasysyahadah.

"Tidak hanya melalui gerakan sipil, santri juga bergerak di lingkungan militer seperti yang dijalankan oleh Jenderal Sudirman sebagai Panglima Tentara Keamanan Rakyat yang kemudian menjadi TNI. Di luar itu ada Laskar Santri, Laskar Kyai, Laskar Hizbullah, Laskar Sabilillah. Mereka hadirkan aktivitas santri yang konkret membela negara, menghalau para penjajah dari Indonesia," ujarnya.

"Seperti juga Pesantren dan Santri Gontor, sekalipun ada saja fitnah terhadap Gontor, tapi jelas sekali Gontor menyanyikan lagu kebangsaan Indonesia Raya, dan hormat bendera. Bahkan dalam hymne Gontor dinyatakan bahwa Santri Gontor juga berbakti kepada Indonesia sebagai Ibu. Dan di kompleks Pondok juga ada makam kiai dan keluarga yang di antaranya adalah tempat persemayaman pahlawan Bangsa dari latar belakang Keluarga Pondok Gontor," lanjutnya.

HNW menegaskan dalam berjuang untuk Indonesia, para santri selalu terlibat bersama dan mengajak komponen bangsa lainnya. Karena semangat yang dibawa oleh santri merupakan gabungan antara semangat keagamaan dan kebangsaan.

Dia mengingatkan Santri juga harus terus berperan memajukan dan mempersatukan Indonesia di tengah perpecahan dan atau upaya pecah belah. Sebagaimana dicontohkan oleh M. Natsir, Waketum PERSIS, melalui Mosi Integralnya. M. Natsir, lanjut dia, merupakan seorang santri dan bergerak di bidang politik melalui Partai Masyumi, yang menuntut agar Indonesia kembali kepada cita-cita Indonesia merdeka. Yaitu menjadi Negara Kesatuan Republik Indonesia(NKRI), setelah sebelumnya dibelah menjadi Republik Indonesia Serikat (RIS). Ia menyebut Mosi tersebut diterima oleh seluruh Fraksi di DPR-RIS sehingga berselang 4 bulan dari Mosi Integral Natsir, tepatnya pada 17 Agustus tahun 1950, Indonesia yang sempat berbentuk Serikat (RIS) kembali diproklamirkan oleh Bung Karno menjadi Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI).

Terkait kemenangan Taliban di Afghanistan, HNW menjelaskan delegasi Taliban di bawah pimpinan Mulla Abdul Ghani Baladar yang merupakan tokoh kunci Taliban pernah berkunjung ke Indonesia. Mereka sempat bertemu dengan MUI dan PBNU. Dikatakannya Taliban yang bermazhab Sunni (Hanafi, Maturidy dan Qadiry) sebagaimana mayoritas mutlak Muslim Indonesia juga Sunni, sehingga wajar bila waktu itu diterima dengan resmi dan hangat oleh MUI dan PBNU.

Diungkapkan HNW saat itu Taliban sangat terkesan dengan aktivitas PBNU sehingga akan mendirikan cabang NU di Afghanistan. Menurutnya, Taliban seperti Sunni di Indonesia bukan Wahabi atau ISIS. Bahkan mereka malah mengeksekusi hukuman mati terhadap Ketua ISIS di Asia Selatan, Umar Khurasani.

Taliban, lanjut dia, yang minta banyak masukan kepada Ulama-Ulama di MUI dan PBNU, bukanlah kelompok Radikal atau Takfiri. Dengan semakin banyaknya masukan dan perhatian yang mereka minta dari Indonesia, ia menilai seharusnya Taliban akan dapat membuktikan janji-janjinya untuk menjadi Taliban baru yang merealisasikan Islam Rahmatan lil alamin, wasathiyah (moderat) dan cinta. Sekaligus koreksi atas berbagai stigma, salah paham, dan citra negatif sebelumnya.

"Ini membuktikan bahwa santri merupakan entitas moderat yang memiliki akar sejarah perjuangan dan kecintaan terhadap agama, bangsa dan negara yang sangat jelas rujukan mazhab Sunni dalam fiqih, teologi maupun tasawufnya, maupun juga dalam berpolitiknya. Bukan ajaran atau laku terorisme, ekstremisme maupun radikalisme," pungkasnya.

(prf/ega)


ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT