Sebutan Sholat Tarawih, Ibadah Khas Bulan Ramadhan

Rosmha Widiyani - detikNews
Kamis, 19 Agu 2021 16:32 WIB
Suasana Sholat Tarawih di Masjidil Haram 2021
Foto: (AFP)/Sebutan Sholat Tarawih, Ibadah Khas Bulan Ramadhan.
Jakarta -

Sholat tarawih disebut juga sholat Qiyam Ramadhan, karena bertujuan menghidupkan malam-malam saat bulan suci. Dikutip dari repository UIN Sultan Sultan Syarif Kasim (UIN Suska), sholat tarawih termasuk ibadah utama yang efektif mendekatkan diri pada Allah SWT.

Sebutan sholat tarawih ini dikatakan ulama besar Imam Nawawi al-Dimasyqiy, yang dijelaskan al-Hâfiz Imam Ibn Hajar al-A'sqallaniy. Penjelasan ini bisa ditemukan dalam buku Al-Taqrirat Al-Sadidah Fi Masail Al-Mufidah volume 1 karya Hasan Ibn Ahmad al-Kaf.

"Qiyam Ramadhan dapat dilakukan dengan shalat apa saja termasuk shalat Tarawih. Namun, ini bukan berarti Qiyam Ramadhan hanya sebatas shalat Tarawih saja," ujar Ibnu Hajar.

Dengan penjelasan ini, sholat tarawih disebut juga Qiyam Ramadhan merujuk pada bagian dari rangkaian ibadah. Penjelasan ini dapat dilihat dalam Bughyah al-Thâlib Lima'rifah al-Ilm al-Diniy al-Wajib volume satu yang ditulis Al-Hafiz Abdullah al-Harariy.

Repository UIN Suska menjelaskan, istilah tarawih belum dikenal pada zaman Rasulullah. Nabi Muhammad SAW dalam haditsnya juga tidak pernah menyebut kata tarawih. Semua ibadah sunah yang dilaksanakan pada malam hari lebih dikenal dengan sebutan Qiyam Ramadhan.

Misalnya dalam hadits berikut yang dinarasikan Abu Huraira,

مَنْ صَامَ رَمَضَانَ إِيمَانًا وَاحْتِسَابًا غُفِرَ لَهُ مَا تَقَدَّمَ مِنْ ذَنْبِهِ

Artinya: "Siapa saja yang melaksanakan ibadah pada bulan Ramadhan karena iman dan mengharap ridha Allah, niscaya diampuni dosanya yang telah lalu." (HR Bukhari).

Shalat Qiyam Ramadhan berjamaah di zaman Rasulullah SAW hanya dilakukan 2-3 kali. Beliau tidak melanjutkannya di malam-malam berikutnya, karena khawatir akan dianggap ibadah wajib. Hukum sholat tarawih adalah sunnah muakad atau lebih disarankan untuk dilakukan.

Syaikh Muhammad Ibn Ismâîl al-Shan'âniy dalam kitab Subul al-Salâm Syarh Bulûgh al-Marâm menjelaskan, penamaan sholat tarawih kemungkinan didasari sebuah hadits. Periwayat hadits adalah Imam al-Bayhaqiy dari Siti Aisyah.

"Sering kali Rasulullah SAW mengerjakan shalat 4 rakaat pada malam hari, lalu beliau Yatarawwah (beristirahat) dan beliau melamakan istirahatnya hingga aku merasa iba," tulis hadits tersebut.

Imam al-Bayhaqiy menjelaskan, hadist ini diriwayatkan melalui sanad al-Mughirah dan ia bukan orang yang kuat. Jika hadis ini memang jelas ketetapannya, maka bisa menjadi landasan Tarwihah (istirahat) imam pada waktu shalat Tarawih tersebut.

Dengan penjelasan ini, semoga pertanyaan sholat tarawih disebut juga bisa terjawab ya.

(row/erd)