Kasus Investasi Baju Syar'i Rp 164 M, Pasutri di Aceh Didakwa Pencucian Uang

Andi Saputra - detikNews
Kamis, 19 Agu 2021 10:47 WIB
Ilustrasi Palu Hakim
Ilustrasi palu hakim (Ari Saputra/detikcom)

Siti meminta Nur Cahaya mengajak orang lain dengan tujuan menunjang atau membantu biaya produksi dan penjualan baju dari butik tersebut dengan keuntungan dari hasil penjualan akan dibagikan kepada para pemodal di kisaran 30-50% per orang dan setiap orang yang menanamkan modalnya disebut dengan member.

Bagi setiap member yang berhasil merekrut 10 orang atau lebih untuk menanamkan modalnya ke Yalsa dalam 1 bulan maka akan diangkat menjadi reseller, yaitu orang yang bisa merekrut dan menarik uang dari member dan menyetorkannya kepada Siti-Syafrizal, baik secara tunai maupun transfer yang kisarannya minimal Rp 500 ribu dan maksimal Rp 100 juta dengan dokumen yang diminta kepada member hanya sebatas fotokopi KTP tanpa dibuatkan perjanjian tertulis.

Bahwa berselang beberapa bulan kemudian semakin banyak orang yang tertarik mengikuti investasi yang dikelola oleh kedua terdakwa tersebut.

Pada Juni 2020, terdakwa membuat acara pertemuan dengan para reseller di beberapa tempat di dalam Kota Banda Aceh, dengan jumlah peserta yang hadir lebih-kurang 50 orang. Di mana dalam pertemuan tersebut terdakwa memaparkan kepada reseller tentang produk investasi yang ada pada Yalsa dan mengajak reseller mencari pemodal untuk menginvestasikan dananya ke Yalsa serta menjelaskan keuntungan jika ikut bergabung dengan Yalsa bisa mendapatkan keuntungan mencapai 50% per bulan bagi pemodal.

Sehingga membuat para reseller berlomba-lomba sebanyak mungkin mencari pemodal karena setiap pemodal/member yang berhasil diajak untuk menanamkan modalnya maka reseller tersebut juga mendapatkan bonus dari terdakwa. Namun dalam setiap pertemuan terdakwa tidak pernah menjelaskan kepada reseller tentang bagaimana cara hitungan besaran pembagian keuntungan sebesar 50% kepada para member.

Begitu juga dokumen perjanjian, di mana dari awal baik member ke reseller maupun dari owner ke reseller sampai dokumen lainnya yang berkaitan dengan usaha investasi milik Yalsa tidak pernah ada.

Bahwa dana yang terkumpul dari member diserahkan langsung kepada terdakwa, baik secara cash (kontan) maupun transfer yang nominalnya berbeda-beda setiap hari.

Pada September 2020, pasutri itu mengurus izin untuk membentuk perusahaan yang bernama CV Yalsa Boutique.

Dari struktur kepengurusan, ternyata dalam praktiknya sebagian besar pekerjaan terkait penggunaan uang dan alur masuk uang yang disetorkan oleh member tidak diketahui oleh pengurus. Begitu juga terkait jumlah pembelian baju, berapa jumlah yang telah dibayarkan untuk pakaian, yang berhubungan dengan pembuat baju. Semuanya diurus oleh pasutri tersebut. Walaupun ada pengurusnya, mereka lebih diarahkan untuk mengumpulkan atau mengajak orang lain untuk menanamkan modalnya.

Setelah diadakan peresmian perusahaan tersebut, orang-orang bertambah yakin untuk menanamkan investasinya di perusahaan terdakwa. Pada Februari 2021, terdakwa berhasil menghimpun dana dari masyarakat melalui 204 reseller dengan jumlah member sejumlah lebih-kurang 19.566 orang dengan nilai transaksi lebih-kurang Rp 164.222.412.000, yang berasal dari Kota Banda Aceh maupun dari kabupaten lainnya.

Jumlah total reseller dan jumlah dana yang sudah terkumpul ini belum termasuk para reseller yang langsung melalui jalur terdakwa dan juga penyetorannya karena datanya tidak ada pada admin penyetoran. Namun terhadap tindakan pasutri tersebut belum mendapat izin dari pihak yang berwenang yaitu pimpinan Bank Indonesia (saat ini Otoritas Jasa Keuangan/OJK RI).

Buat Apa Uangnya?

Pasutri itu membelanjakan uang dari nasabah untuk membeli, di antaranya:
1. Mobil Toyota HILUX.
2. Mobil Toyota Innova .
3. Mobil Toyota Yaris.
4. Mobil Toyota Fortuner.
5. Mobil Toyota Rush.
6. Membeli rumah di Desa Emperom, Kecamatan Jaya Baru Kota banda Aceh seharga Rp 1,2 miliar.
7. Membeli rumah di Desa Blangkrueng, kec. Baitussalam Kab. Aceh Besar seharga Rp 500 juta.
8. Mobil Toyota Fortuner VRZ.
9. Sepeda motor Yamaha Nmax.
10. Sepeda motor Honda Vario.


(asp/fas)