Saya Dibelikan HP oleh Mantan Pacar, Apakah Tak Masalah Jika Dijual?

Tim detikcom - detikNews
Kamis, 19 Agu 2021 09:08 WIB
Man holding hands of woman in restaurant
Ilustrasi pacaran (Foto: Getty Images/iStockphoto/Wavebreakmedia).
Jakarta -

Dalam hubungan pacaran, kadang si lelaki memberikan berbagai bingkisan kepada kekasihnya sebagai refleksi kasih sayang. Namun, masalah mulai muncul apabila hubungan pacaran itu putus. Bagaimana status pemberian itu?

Hal itu menjadi salah satu pertanyaan pembaca detik's Advocate. Berikut pertanyaan lengkapnya:

Halo detik's Advocate

Perkenalkan nama saya sebut saja Putri. Saya tinggal di Jakarta. Saat ini saya duduk di kelas XI.

Saya pacaran dengan kakak kelas saya sudah setahun. Selama itu, pacar saya penuh perhatian. Salah satunya membelikan Handphone.

Tapi masuk ajaran tahun baru, kami putus. Pacar saya katanya mau fokus belajar.

Saya akhirnya bingung. Saat saya mau mengembalikan berbagai pemberian darinya, mantan saya menolak. Katanya dia ikhlas memberikan kepada saya.

Nah, saya kepikiran untuk menjual handphone darinya. Nantinya uangnya akan disumbangkan ke orang yang kurang mampu.

Namun saya bingung. Apakah boleh secara hukum? Takutnya mantan pacar saya nanti tersinggung.

Mohon diberi penjelasan ya detik's Advocate.

Terima Kasih

Salam

Jawaban:

Terima Kasih Putri atas pertanyaannya. Semoga masalah dengan mantan pacarnya segera selesai.

Merujuk pertanyaan Putri, pemberian Handphone tersebut dalam hukum disebut hibah. Apa itu hibah? Hibah diatur dalam Pasal 1666 - Pasal 1693 KUHPerdata.

Definisi hibah diatur dalam Pasal 1666 KUHPerdata:

Hibah adalah suatu perjanjian dengan mana si penghibah, di waktu hidupnya, dengan cuma-cuma dan dengan tidak dapat ditarik kembali, menyerahkan sesuatu benda guna keperluan si penerima hibah yang menerima penyerahan itu. Undang-undang tidak mengakui lain-lain hibah selain hibah-hibah di antara orang-orang yang masih hidup.

Jika pemberian diberikan oleh seseorang setelah ia meninggal dunia, maka ini dinamakan hibah wasiat, yang diatur dalam Pasal 957- Pasal 972 KUHPerdata. Pasal 957 KUHPerdata:

Hibah wasiat ialah suatu penetapan khusus, di mana pewaris memberikan kepada satu atau beberapa orang barang-barang tertentu, atau semua barang-barang dan macam tertentu; misalnya, semua barang-barang bergerak atau barang-barang tetap, atau hak pakai hasil atas sebagian atau semua barangnya.

Untuk mempertegas hibah, sebaiknya dicatatkan ke notaris. Hal ini diatur dalam Pasal 1683 jo. Pasal 1682 KUHPerdata. Dalam Pasal 1682 KUHPerdata berbunyi:

Tiada suatu penghibahan pun kecuali termaksud dalam Pasal 1687 dapat dilakukan tanpa akta notaris, yang minut (naskah aslinya) harus disimpan pada notaris dan bila tidak dilakukan demikian maka penghibahan itu tidak sah.

Sedangkan Pasal 1683 KUHPerdata menyatakan:

Tiada suatu penghibahan pun mengikat penghibah atau mengakibatkan sesuatu sebelum penghibahan diterima dengan kata-kata tegas oleh orang yang diberi hibah atau oleh wakilnya yang telah diberi kuasa olehnya untuk menerima hibah yang telah atau akan dihibahkannya itu. Jika penerimaan itu tidak dilakukan dengan akta hibah itu maka penerimaan itu dapat dilakukan dengan suatu akta otentik kemudian, yang naskah aslinya harus disimpan oleh Notaris asal saja hal itu terjadi waktu penghibah masih hidup; dalam hal demikian maka bagi penghibah, hibah tersebut hanya sah sejak penerimaan hibah itu diberitahukan dengan resmi kepadanya.

Akan tetapi, hibah atas benda-benda bergerak yang berwujud atau surat piutang yang akan dibayar atas tunduk, tidak memerlukan akta notaris dan adalah sah bila pemberian tersebut diserahkan begitu saja kepada penerima hibah atau kepada orang lain yang menerima hibah itu untuk diteruskan kepada penerima hibah (Pasal 1687 KUHPerdata).

Namun ada beberapa hal yang menyebabkan batalnya hibah, yaitu:

1. Hibah yang mengenai benda-benda yang baru akan ada di kemudian hari
2. Hibah dengan mana si penghibah memperjanjikan bahwa ia tetap berkuasa untuk menjual atau memberikan kepada orang lain suatu benda yang termasuk dalam hibah, dianggap batal. Yang batal hanya terkait dengan benda tersebut.
3. Hibah yang membuat syarat bahwa penerima hibah akan melunasi utang atau beban-beban lain di samping apa yang dinyatakan dalam akta hibah itu sendiri atau dalam daftar dilampirkan.
4. Hibah atas benda tidak bergerak menjadi batal jika tidak dilakukan dengan akta notaris.

Dengan demikian, selama hibah tersebut telah diterima si penerima hibah sebelum ia meninggal dunia maka hibah tersebut adalah sah.

Simak uraian lengkapnya di halaman selanjutnya.