ADVERTISEMENT

Round-Up

Mereka Bersuara Usai Mega Anggap Sumbar Kini Berbeda

Tim Detikcom - detikNews
Sabtu, 14 Agu 2021 06:02 WIB
Jokowi hadiri acara Presidential Lecture Internalisasi dan Pembumian Pancasila di Istana Negara. Sejumlah tokoh nasional dan para menteri turut hadiri acara itu
Megawati Soekarnoputri (Foto: Rengga Sancaya)
Jakarta -

Presiden RI ke-5 Megawati Soekarnoputri berbicara mengenai Sumatera Barat (Sumbar) yang dinilai kini berbeda. Sejumlah tokoh dan anggota dewan pun menyoroti pernyataan Megawati tersebut.

Awalnya Megawati menyebut kalau saat ini tidak ada tokoh Sumatera Barat yang terkenal. Megawati lantas bertanya, kenapa Sumbar kini tak lagi populer?

"Dulu saya tahu banyak sekali tokoh dari Sumbar. Kenapa menurut saya sekarang kok kayanya tidak sepopuler dulu kah atau emang tidak ada produknya?" kata Megawati.

Hal itu disampaikan Megawati dalam peringatan HUT Ke-119 Proklamator RI Mohammad Hatta yang digelar oleh Badan Nasional Kebudayaan Pusat (BKNP) PDIP secara virtual, Kamis (12/8/2021). Bung Hatta adalah salah satu tokoh berasal dari Sumatera Bata.

Megawati pun mengenang saat dia berkunjung ke Bukittinggi, Sumatera Barat. Sumbar pada saat itu dikenal dengan sikap gotong-royong, begitulah penuturan Megawati.

"Coba bayangkan tadi sudah ditampilkan siapa Bung Hatta dari masa kecil, saya pernah ke Bukittinggi, makanya sampai saya dapat gelar. Jadi dulu waktu saya kalau ke Sumbar saya melihat saya dapat merasakan sebuah apa ya, naluri kegotong-royongan gitu, karena tentu sangat kental tradisi keislamannya," ujarnya.

Megawati lantas menyinggung falsafah kepemimpinan di Minangkabau. Mereka adalah pemimpin adat dengan sebutan niniak mamak, pemimpin agama yaitu alim ulama, dan kaum terpelajar atau cadiak pandai.

"Tapi juga ada saat bersamaan juga menempatkan peran tokoh adat yang disebut ninik mamak, alim ulama, kaum cadiak pandai ke semuanya merupakan kepemimpinan yang khas yang disebut Minangkabau bukannya istilah tapi seperti panggilan," lanjut Megawati.

Megawati kemudian berpikir serta berdiskusi dengan berbagai tokoh. Dia menilai Sumatera Barat saat ini sudah mulai berbeda dengan yang dulu dia kenal.

"Kok malah ke sini saya mulai berpikir, saya sering berdiskusi karena di Badan Pembinaan Ideologi Pancasila (BPIP), saya sebagai ketua dewan pengarah. Itu ada Buya Syafi'i, saya suka bertanya kepada beliau kenapa Sumbar yang dulu pernah saya kenal sepertinya sekarang sudah mulai berbeda," ujarnya.

Megawati melanjutkan bahwa dia dan sang putri, Puan Maharani, pernah di-bully. Dia pun menjadi heran.

"Satu waktu pernah saya, Mbak Puan di-bully, saya sampai bingung kenapa saya di-bully ya, padahal dari yang saya mendapatkan sebuah pengertian itu kan ada Bundo Kandung. Jadi itu yang maksud saya... apakah itu sudah tidak berjalan lagi," lanjut Megawati.

Puan Maharani sempat ramai dikritik karena menyinggung Sumatera Barat dan Pancasila. Saat ini Puan berharap Sumatera Barat mendukung negara Pancasila.

Kembali lagi pada Megawati. Ketum PDIP itu juga merasa heran, dia bingung ke mana tokoh-tokoh yang berasal dari Sumbar. Tokoh yang disebut dalam tigo tungku sajarangan, yakni alim ulama, ninik mamak dan cadiak pandai.

"Padahal Sumbar ketika setelah dari sebelum kemerdekaan sampai setelah merdeka katakanlah, sampai selesai juga, Bung Karno itu kan tokoh-tokohnya luar biasa. Pak Sutan Sjahrir, Pak Tan Malaka, Muhammad Yamin, Agus Salim, Rasuna Said, Buya Hamka, Moh Natsir, Abdul Muis, Rohana Kudus, dan masih banyak lagi. Belum lagi Imam Bonjol. Bayangkan sampai zaman bapak saya itu saya ingat, itu banyak lho," ungkapnya.

"Nah, sekarang apa? Karena tadi tidak ada atau sudah bubarkah yang namanya tungku tigo sajarangan ini. Apakah hanya sebagai sebuah kenangan atau hanya simbol saja itu yang perlu menerangkan yang dari Sumbar?" imbuhnya.

Simak juga video 'Megawati Ungkap Sumbar yang Dikenalnya Dulu Kini Mulai Berbeda':

[Gambas:Video 20detik]



Sejumlah tokoh lalu merespon pernyataan Mega tersebut. Sebagai berikut.



ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT