ADVERTISEMENT

Legislator PAN soal Sumbar Berbeda: Kegelisahan Megawati Sebagai Putri Daerah

Lisye Sri Rahayu - detikNews
Jumat, 13 Agu 2021 07:07 WIB
Jakarta -

Presiden ke-5 RI, Megawati Soekarnoputri mengatakan bahwa Sumatera Barat saat ini berbeda. Anggota DPR RI dari Sumbar, Guspardi Gaus mengatakan kritikan yang disampaikan Megawati itu sebagai bentuk kepedulian.

"Tentu yang disampaikan Ibu Mega menjadi catatan penting bagi pemerintah daerah dan tokoh-tokoh Sumatera Barat baik yang ada di rantau ataupun di ranah. Tentu ini sesuatu yang menggelitik kita bagaimana yang Bapak lihat itu kan ada semacam kerinduan beliau agar baik sekarang atau ke depan Sumatera Barat sebagai pejuang dalam mengisi kemerdekaan dan lain sebagainya," kata Guspardi kepada wartawan, Kamis (12/8/2021).

"Ini tentu menjadi catatan penting bagi kita bagaimana kritikan, saran dan pendapat yang disampaikan Ibu Mega itu kita berpacu lebih cepat lagi," lanjutnya.

Guspardi mengatakan Megawati sejatinya adalah orang Sumatera Barat. Sebab Ibundanya, Fatmawati berasal dari Pesisir Selatan, Sumbar. Diketahui sistem kekeluargaan di Minangkabau adalah matrilineal, sehingga merujuk pada garis keturunan ibu.

"Ini adalah lecutan yang disampaikan Ibu Mega. Karena Ibu Mega ini orang Sumatera Barat, kenapa? Karana Fatmawati adalah orang Pesisir Selatan, lalu dia merantau Bengkulu, lalu dinikahi oleh Sukarno. Secara kultur budaya Minang karena garis keturunan ibu bukan kepada bapaknya, jadi anak dari Ibu Mega itu berhak mendapatkan pusako tinggi, itu namanya gelar, termasuk juga Mbak Puan," jelasnya.

Lebih lanjut, politikus PAN itu menilai kritikan yang disampaikan Megawati adalah kepedulian sebagai putri daerah. Dia menekankan bahwa kritikan Ketum PDIP itu harus dijawab dengan kerja nyata.

"Jadi boleh-boleh saja, tidak ada masalah, itu merupakan autokritik dari Bu Mega sebagai putri daerah, kegelisahan, kegalauan keprihatinan beliau menyampaikan dalam rangka memperingati Bung Hatta. Dan itu adalah realitas tentu kita ke depan bagaimana mengisi kekosongan, bagaimana kita melakukan lompatan dan bagaimana lebih kencang lagi larinya dibandingkan dengan suku bangsa lain yang ada di Indonesia," kata dia.



ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT