Megawati Sebut Sumbar Mulai Berbeda, Cerita Pernah Dibully

Tim detikcom - detikNews
Kamis, 12 Agu 2021 19:46 WIB
Jakarta -

Ketua Umum PDIP Megawati Soekarnoputri menyebut kehidupan di Sumatera Barat kini berbeda dengan dahulu. Dia juga bercerita kalau dia bersama putrinya Puan Maharani pernah dibully.

Hal itu disampaikan Megawati dalam peringatan HUT Ke-119 Proklamator RI Mohammad Hatta yang digelar oleh Badan Nasional Kebudayaan Pusat (BKNP) PDIP secara virtual, Kamis (12/8/2021). Megawati awalnya menyebut kalau saat ini tidak ada tokoh Sumatera Barat yang terkenal.

"Dulu saya tahu banyak sekali tokoh dari Sumbar. Kenapa menurut saya sekarang kok kayanya tidak sepopuler dulu kah atau emang tidak ada produknya?" kata Megawati.

Megawati bercerita kalau dirinya dahulu merasakan naluri gotong-royong yang kental di Sumbar. Serta banyaknya tokoh adat yang memiliki kepemimpinan khasnya masing-masing.

"Coba bayangkan tadi sudah ditampilkan siapa Bung Hatta dari masa kecil, saya pernah ke Bukittinggi, makanya sampai saya dapat gelar. Jadi dulu waktu saya kalau ke Sumbar saya melihat saya dapat merasakan sebuah apa ya, naluri kegotong-royongan gitu, karena tentu sangat kental tradisi keIslamannya," ujarnya.

"Tapi juga ada saat bersamaan juga menempatkan peran tokoh adat yang disebut ninik mamak, alim ulama, kaum cadiak pandai ke semuanya merupakan kepemimpinan yang khas yang disebut Minangkabau bukannya istilah tapi seperti panggilan," lanjut Megawati.

Namun, Megawati menilai saat ini Sumber jadi berbeda. Dia lantas bercerita dirinya bersama Puan pernah dibully.

"Kok malah ke sini saya mulai berpikir, saya sering berdiskusi karena di Badan Pembinaan Ideologi Pancasila (BPIP), saya sebagai ketua dewan pengarah. Itu ada Buya Syafi'i, saya suka bertanya kepada beliau kenapa Sumbar yang dulu pernah saya kenal sepertinya sekarang sudah mulai berbeda," ujarnya.

"Satu waktu pernah saya, Mba Puan dibully, saya sampai bingung kenapa saya dibully ya, padahal dari yang saya mendapatkan sebuah pengertian itu kan ada Bundo Kandung. Jadi itu yang maksud saya... apakah itu sudah tidak berjalan lagi," lanjut Megawati.

Megawati juga heran ke mana tokoh-tokoh yang berasal dari Sumbar. Tokoh yang disebut dalam tigo tungku sajarangan, yakni alim ulama, ninik mamak dan cadiak pandai (ulama, tokoh masyarakat, dan intelektual).

"Padahal, Sumbar ketika setelah dari sebelum kemerdekaan sampai setelah merdeka katakanlah, sampai selesai juga, Bung Karno itu kan tokoh-tokohnya luar biasa. Pak Sutan Sjahrir, Pak Tan Malaka, Muhammad Yamin, Agus Salim, Rasuna Said, Buya Hamka, Moh Natsir, Abdul Muis, Rohana Kudus, dan masih banyak lagi. Belum lagi Imam Bonjol. Bayangkan sampai zaman bapak saya itu saya ingat, itu banyak lho," ungkapnya.

"Nah, sekarang apa? Karena tadi tidak ada atau sudah bubarkah yang namanya tungku tigo sajarangan ini. Apakah hanya sebagai sebuah kenangan atau hanya simbol saja itu yang perlu menerangkan yang dari Sumbar?" imbuhnya.

(eva/gbr)