detik's Advocate

Suami Nikah Ilegal dengan Wanita Lain yang Beda Agama, Saya Harus Gimana?

Andi Saputra - detikNews
Senin, 09 Agu 2021 08:26 WIB
Ilustrasi patah hati
Ilustrasi perselingkuhan (Foto: Thinkstock)

2. Apakah mungkin, KUA dan penghulu bisa menikahkan pasangan yang tidak jelas identitasnya? Dan sampai mengeluarkan buku nikah?

Kantor Urusan Agama merupakan perwujudan dari negara, sehingga setiap urusan administrasi dari KUA haruslah tunduk dan patuh kepada peraturan perundang-undangan yang berlaku. Sehingga tidak mungkin hal tersebut terjadi, kecuali ada oknum-oknum yang tidak bertanggung jawab dan bersedia melakukan hal tersebut.

3. Saat ini perempuan itu sudah punya anak usia hampir 3 tahun, yang diakui sebagai anak suami saya. Tetapi setelah melihat wajah dan fisik anak itu, hati nurani saya tidak yakin apakah anak itu betul anak suami saya. Apakah saya harus melakukan tes DNA untuk membuktikan apa benar itu anak suami saya? Atau perempuan itu hanya menjebak suami saya, karena latar belakang perempuan itu yang tidak baik.

Putusan Mahkamah Konstitusi No 46/PUU-VII/2010 tertanggal 17 Februari 2012 tentang pasal 43 ayat (1) Undang-Undang Perkawinan menyatakan pada pokoknya anak tidak hanya memiliki hubungan keperdataan dari ibunya melainkan memiliki hubungan keperdataan dengan ayahnya sepanjang dapat dibuktikan berdasarkan pengetahuan dan teknologi dan/atau alat bukti menurut hukum ternyata mempunyai hubungan darah sebagai ayahnya. Terhadap penjelasan tersebut, dapat ditarik kesimpulan untuk mengetahui anak tersebut benar adalah anak dari suami ibu, ibu harus melakukan tes DNA untuk membuktikannya.

4. Jika ternyata anak itu adalah anak suami saya, apakah anak itu bisa dinyatakan anak suami saya secara hukum? Karena setahu saya, anak itu hanya punya surat keterangan lahir tanpa akta kelahiran karena mereka tidak bisa mengurus Kartu Keluarga.

Sebagaimana telah kami jelaskan sebelumnya pada poin 3, adanya Putusan Mahkamah Konstitusi No 46/PUU-VII/2010 tertanggal 17 Februari 2012 tentang pasal 43 ayat (1) Undang-Undang Perkawinan menyatakan pada pokoknya anak tidak hanya memiliki hubungan keperdataan dari ibunya melainkan memiliki hubungan keperdataan dengan ayahnya sepanjang dapat dibuktikan berdasarkan pengetahuan dan teknologi dan/atau alat bukti menurut hukum ternyata mempunyai hubungan darah sebagai ayahnya. Sehingga anak tersebut merupakan anak yang sah secara hukum apabila sepanjang dapat dibuktikan berdasarkan pengetahuan dan teknologi dan/atau alat bukti menurut hukum ternyata mempunyai hubungan darah sebagai ayahnya.

5. Apakah ada hukum dan UU terkait pernikahan palsu dan hubungan gelap ini?

Apabila perkawinan tersebut benar adanya serta telah tercatat pada Kantor Urusan Agama, maka perbuatan tersebut bertentangan dengan pasal 279 KUHPidana tentang menikah tanpa adanya izin dari istri yang sah dengan ancaman kurungan penjara maksimal 5 tahun. Sedangkan apabila perkawinan tersebut tidak benar adanya perbuatan tersebut bertentangan dengan pasal 284 KUHPidana tentang perzinaan (overspel) dengan ancaman hukuman pidana penjara 9 bulan. Pidana pemalsuan surat juga dapat digunakan sepanjang dapat dibuktikan secara tertulis dan jelas bahwa ada hal-hal yang dipalsukan sehingga perkawinan tersebut dapat terjadi;

Simak selengkapnya di halaman selanjutnya.