Round-Up

Duka Pria Positif Corona Diviralkan Dianiaya Meninggal Dunia

Tim detikcom - detikNews
Senin, 02 Agu 2021 22:03 WIB
Seorang pria asal Toba, Sumut, dianiaya warga di kampungnya karena positif COVID-19. Korban sempat diikat, dipukul, hingga diasingkan. (Screenshot video viral)
Seorang pria asal Toba, Sumut, dianiaya warga di kampungnya karena positif COVID-19. Korban sempat diikat, dipukul, hingga diasingkan. (Screenshot Video Viral)
Medan -

Pria positif Corona (COVID-19) yang sempat viral di Sumatera Utara karena disebut dianiaya warga kini telah meninggal dunia. Dia wafat karena mengalami gejala berat.

Pria bernama Salamat Sianipar itu meninggal dunia di RSUP Adam Malik Medan pada 29 Juli 2021, pukul 16.00 WIB. Proses pemakaman Salamat juga dilakukan sesuai dengan protokol kesehatan virus Corona.

"Dirujuk dengan alasan COVID-19 terkonfirmasi derajat berat," kata Kasubbag Humas RSUP Adam Malik Medan, Rosario Dorothy, saat dimintai konfirmasi, Senin (2/8/2021).

Salamat sempat mendapatkan perawatan di Instalasi Gawat Darurat (IGD) begitu tiba di RS Adam Malik. Salamat meninggal setelah dirawat selama 4 hari.

Setelah dilakukan penanganan di Adam Malik, jenazah Salamat dimakamkan di Kabupaten Toba.

Duduk Perkara Salamat Viral

video Salamat Sianipar yang disebut dianiaya warga karena positif Corona viral. Namun istri Salamat menjelaskan hal itu dilakukan warga untuk mengamankan Salamat yang lari saat isolasi mandiri.

"Karena mencoba menularkan virus COVID-19 kepada keluarga dan warga, suamiku itu pun terpaksa diamankan," kata istri Salamat, Risma, Minggu (25/7).

Risma mengatakan suaminya saat itu sedang menjalani isolasi mandiri di lokasi yang disiapkan pemerintah desa. Namun suaminya itu berulang kali pulang ke rumah.

"Pada Kamis (22/7), sekira pukul 17.00 WIB, suamiku keluar dari rumah sembari meludahi tangannya mencoba menyentuh warga yang berada di dekat dengan berteriak dirinya tidak terpapar COVID-19," katanya

Karena hal itu, kata Risma, warga pun mencoba mengamankan suaminya. Untuk menjaga jarak, warga menggunakan kayu hingga bambu.

"Ternyata perbuatannya itu membuat warga desa marah sehingga dengan menggunakan kayu serta bambu mencoba mengamankannya karena takut tertular COVID-19. Namun aksi warga untuk mengamankan Salamat Sianipar gagal dan suami ku itu berhasil kabur ke hutan," ujar Risma.

Gubernur Sumatera Utara (Gubsu) Edy Rahmayadi juga mengatakan narasi viral tersebut tak benar. Dia menyebut Salamat saat itu diamankan warga agar mau diisolasi.

"Dikatakan ada yang menganiaya rakyat yang sedang sakit COVID, salah besar. Setelah saya cek, saya telepon, tidak demikian. Orang itu yang kena COVID, tidak mau diisolasi. Untuk itu digiring untuk diisolasi," jelas Edy di rumah dinas jabatan Gubsu, Kota Medan, Sumut Selasa (27/7).

Edy menduga penyebar video dengan narasi seolah-olah ada penganiayaan adalah orang yang hendak memberi kesan warga Sumut primitif. Edy meminta semua pihak menjaga situasi agar Sumut tetap kondusif.

"Bukan dianiaya. Inilah yang menjadi nyebar seolah-oleh Sumut ini adalah primitif. Untuk itu, tolong sama-sama kita jaga bingkainya adalah Sumut. Sumut adalah milik kita, punya kita, yang sama-sama kita sayangi," jelas Edy.

Narasi Salamat Dianiaya Berawal dari Cerita Keponakan

Dalam video, terlihat ada sejumlah orang berdiri dan berkerumun di lokasi. Ada sebagian dari mereka memegang benda seperti kayu, ada juga yang memegang tali.

Tampak juga seorang pria seperti diseret menggunakan tali. Dari arah belakang pria itu, ada beberapa orang menempelkan kayu di tubuh si pria tersebut. Peristiwa ini terjadi pada Kamis (22/7). Pria yang dimaksud sebagai pasien COVID-19 di video itu adalah Salamat Sianipar (45).

Salah satu keluarga korban, Joshua Lubis, menceritakan soal peristiwa itu. Dia menyebut kejadian itu berawal setelah Salamat terkonfirmasi positif COVID-19.

"Kalau kurun waktu kejadiannya sudah terkena COVID-nya saya kurang tahu. Yang saya tahu, jadi sudah tes. Terus sudah dites, hasilnya keluar positif. Terus tanteku (istrinya) ini negatif dan kedua anaknya negatif. Terus isolasi mandiri mereka di rumah. Omku ini beda kamar sama istri dan anaknya, disuruh dokter karena gejalanya masih ringan," sebut Joshua saat dimintai konfirmasi, Sabtu (24/7).

Joshua menyebutkan, setelah Salamat di rumah, ada oknum masyarakat tidak senang dan ketakutan setelah dia terkena COVID-19. Lalu, dia ditarik paksa dari rumah dan diasingkan ke suatu tempat.

"Terus, setelah pulang dari klinik, pas di rumah, sorenya ada masyarakat tidak senang kalau omku ini terkena COVID. Jadi ditarik paksalah dari rumah omku ini oleh masyarakat untuk tidak di rumah," sebut Joshua.

Joshua menuturkan Salamat diasingkan ke suatu tempat. Keesokan harinya, Salamat pun pulang ke rumahnya. Masyarakat yang melihat tidak terima hingga terjadi seperti yang ada di video viral.

(zap/dwia)