3 Orang Jadi Tersangka Pengeroyokan Perawat di Lampung, Batu Jadi Bukti!

Antara - detikNews
Sabtu, 31 Jul 2021 20:56 WIB
Ilustrasi tangan diborgol
Ilustrasi (Rifkianto Nugroho/detikcom)
Jakarta -

Polresta Bandar Lampung menetapkan tiga orang jadi tersangka pengeroyokan seorang perawat di Bandar Lampung bernama Rendi diduga akibat persoalan tabung oksigen. Ketiga tersangka berinisial A, NV, dan DD disebut berada di lokasi kejadian dan sempat mengambil batu.

"Kami sudah gelar perkara dan menetapkan tiga tersangka pelaku penganiayaan kepada seorang nakes yang terjadi Puskesmas Kedaton, yakni inisial A, NV, dan DD," kata Kasat Reksrim Polresta Bandar Lampung Kompol Resky Maulana seperti dilansir Antara, Sabtu (31/7/2021).

Resky menjelaskan ketiga orang tersebut ditetapkan sebagai tersangka atas gelar perkara dan berdasarkan alat bukti yang didapatkan terkait kejadian tersebut. Dia menyebut barang bukti seperti video viral di media sosial (medsos) dan barang bukti lainnya, yakni kacamata serta batu yang tertinggal di lokasi, mengarah pada tiga pelaku tersebut.

"Barang bukti ini menjadi petunjuk yang sangat mengarah, di mana pada saat itu ketiganya berada di lokasi kejadian. Untuk barang bukti batu ini, dalam video ditunjukkan ada seseorang yang hendak mengambil sesuatu, ternyata dia mengambil batu," ujarnya.

Resky menjelaskan peran masing-masing tersangka terkait pengeroyokan perawat tersebut. Dia menyebut Saudara A dan NV melakukan pemukulan kepada korban, sedangkan D memegangi nakes tersebut. Ketiga tersangka akan dijerat dengan Pasal 170 KUHP tentang penganiayaan, dengan ancaman 7 tahun pidana penjara.

"Sekarang masih kami proses lebih lebih lanjut dan meminta keterangan dari ketiganya," ucapnya.

Lebih lanjut terkait laporan balik terkait tersangka A beberapa waktu lalu, Resky mengatakan semua sudah diproses. Meski begitu, dia menyebut pihaknya belum menemukan tindak pidana seperti yang dimaksud A dalam gelar perkara yang dilakukan.

"Selain itu, tim penyidik juga tidak menemukan tindak pidananya. Karena belum menemukan alat bukti yang mengarah pada perbuatan pidana. Oleh sebab itu, laporan balik A belum bisa diberikan kepastian hukum," ujarnya.

(maa/idh)