Dinkes DKI Akui Jumlah Testing COVID-19 Menurun, Ini Penyebabnya

Tiara Aliya - detikNews
Rabu, 28 Jul 2021 23:33 WIB
Suasana terkini Balai Kota, Jakarta Pusat, Selasa (1/12). Kantor Gubernur DKI Jakarta terpaksa harus tutup pasca Anies Baswedan positif dinyatakan COVID-19 berdasarkan hasil tes usap yang dilakukan Senin (30/11).  Sementara itu gedung utama Balai Kota yang terpisah dari kantor Gubernur Anies Baswedan tetap buka dengan menerapkan protokol kesehatan
Balai Kota DKI (Pradita Utama/detikcom)
Jakarta -

Dinas Kesehatan DKI Jakarta mengakui adanya penurunan kapasitas pemeriksaan atau testing COVID-19 beberapa hari terakhir. Namun, Dinkes DKI menjelaskan penurunan testing terjadi karena warga yang menjalani tes COVID-19 secara mandiri lebih sedikit.

"Jadi kegiatan testing terhadap pasien yang memang bergejala atau kontak erat pasien positif COVID tetap dilakukan. Dengan target tetap, setting target yang tinggi. Tetapi mungkin orang yang secara mandiri ingin melakukan tes saat ini seiring dengan berkurang kondisinya, lebih ada perbaikan," kata Kepala Bidang Pencegahan dan Pengendalian Penyakit Dinas Kesehatan DKI Jakarta Dwi Oktavia saat dihubungi detikcom, Rabu (28/7/2021).

Dwi menegaskan pihaknya tidak pernah secara sengaja menurunkan kegiatan testing COVID-19. Menurutnya, kegiatan testing mengalami penurunan karena masyarakat yang memiliki keluhan kesehatan mengarah ke COVID-19 sudah berkurang.

"Kalau penurunan testing yang disengaja tidak. Jadi penurunan testing memang karena alamiah, artinya gini, Jakarta banyak orang melakukan testing mandiri atas inisiatif sendiri. Karena mungkin kemarin (angka) tinggi karena kasus sedang banyak sehingga banyak orang yang mempunyai keluhan kesehatan," jelasnya.

Dinkes Klaim Antrean UGD COVID-19 Cenderung Tak Ada

Dwi mengklaim saat ini antrean pasien positif COVID-19 untuk masuk ke UGD cenderung tidak ada. Padahal, beberapa waktu lalu pasien COVID-19 sempat mengantre hingga ke lorong rumah sakit.

"Terlihat juga di RS saat ini antrean di UGD, artinya orang yang nggak dapat tempat tidur di UGD ya, yang antre belum bisa masuk UGD relatif tidak ada lagi. Pasien di UGD ada, tapi pasien yang nggak bisa masuk ke UGD karena UGD-nya penuh itu udah bisa dibilang nggak ada," ujarnya.

Dwi pun meminta warga yang memiliki gejala segera melakukan tes COVID-19. Dengan begitu, pasien pun dapat tertangani dengan cepat apabila hasil tesnya dinyatakan positif COVID-19.

"Harapannya kepada masyarakat kalau mereka ada anggota keluarga yang mempunyai gejala kesehatan harus tes, harus berobat. Jangan sampai orang jangan tes. Mereka harus tes," tegasnya.

Dwi juga menjamin saat ini warga dapat mengakses obat-obatan COVID-19 jika menjalani isolasi mandiri di rumah. Dia juga meminta warga aktif melaporkan kondisinya kepada Satgas COVID setempat selama menjalani isolasi mandiri di rumah masing-masing.

"Jadi kalau sampai positif tidak mau tes terus memilih untuk isolasi sendiri tidak juga memberitahukan ke RT-RW akhirnya dia kan luput dari pemantauan kesehatan malah berisiko kan kalau terjadi kondisi yang memburuk nggak ada yang bisa cepat memberikan pertolongan," imbuhnya.

Merujuk data dari situs corona.jakarta.go.id, penambahan kasus harian COVID-19 di Ibu Kota akhir-akhir ini mengalami penurunan. Padahal, pada 11 Juli lalu Jakarta sempat mencetak rekor tertinggi selama pandemi Corona penambahan kasus harian sebanyak 14.619.

Setelah itu, penambahan kasus Corona DKI menunjukkan tren penurunan meskipun masih fluktuatif. Misalnya, pada 18 Juli tambahan kasus positif Corona hanya 5.000 kasus. Namun, pada 23 Juli tambahan kasus sebanyak 8.360. Berikut data tambahan kasus Corona Jakarta selama sepekan terakhir:

22 Juli 2021: 8.033 kasus
23 Juli 2021: 8.360 kasus
24 Juli 2021: 5.393 kasus
25 Juli 2021: 2.662 kasus
26 Juli 2021: 3.567 kasus
27 Juli 2021: 5.525 kasus
28 Juli 2021: 5.525 kasus

Tonton Video: Testing Covid-19 Tak Capai Target 324 Ribu, Berikut Penjelasan Satgas

[Gambas:Video 20detik]



(knv/knv)