Dokter Tegaskan Kegiatan Ekonomi Tak Akan Terganggu Penerapan Prokes

Yudistira Perdana Imandiar - detikNews
Rabu, 28 Jul 2021 22:14 WIB
eorang seniman melukis mural di kolong Tol Wiyoto Wiyono, Jakarta Timur, Rabu (2/12/2020). Nantinya akan ada 100 tiang TOL yang akan dimural dengan gambar protokol kesehatan.
Foto: Rifkianto Nugroho/detikcom
Jakarta -

Dokter relawan COVID-19 dr Fajri Adda'i meminta setiap orang di Indonesia terus disiplin menjalankan protokol kesehatan, sekalipun nantinya PPKM diakhiri. Ia menegaskan kegiatan ekonomi masyarakat dan penerapan protokol kesehatan dapat dijalankan bersamaan.

Dia mencontohkan kegiatan UMKM tetap bisa dilakukan dengan tetap melaksanakan protokol kesehatan. Begitu juga aktivitas ekonomi lain, seperti di pasar. Intinya, dr Fajri menggarisbawahi protokol kesehatan tidak sama sekali mengganggu kegiatan ekonomi.

Dokter Fajri tak memungkiri masyarakat menghadapi kondisi ekonomi yang sulit. Namun, ia menjelaskan kebijakan PPKM diambil semata untuk menghambat laju penularan.

"Bayangkan ketika penularannya banyak, lalu ada 1 juta orang yang terpapar, maka rumah sakit akan penuh. Artinya, penularannya harus diputus," terang dr Fajri dalam keterangan tertulis, Rabu (28/7/2021).

"Saya paham betul bahwa kondisinya sulit, tapi rumah sakit sempat penuh banget, terutama dua pekan lalu. Berapa pun jumlah rumah sakit tidak akan bisa terpenuhi karena penularan terlalu cepat, karena itu (penularannya) harus dihentikan," tegasnya lagi.

Ia menambahkan saat ini seluruh dunia sedang menghadapi virus Corona varian baru yang lebih menular. Data terbaru menunjukkan viral load varian baru ini 1.200 kali lebih banyak. Inkubasi varian baru ini berlangsung lebih cepat, yakni selama 4 hari, dibandingkan varian sebelumnya yang inkubasinya 7 hari. Hal itu membuat virus Corona varian baru lebih menular.

Penyebaran varian baru virus Corona menyebabkan lonjakan kasus di berbagai negara, seperti Amerika Serikat dan sejumlah negara di Eropa. Namun, dr Fajri menuturkan risiko fatal dari COVID-19 di AS dan sejumlah negara Eropa dapat ditekan karena jumlah masyarakat yang divaksinasi sudah banyak.

"Karena itu, kita harus mempercepat vaksinasi. Jangan ragu untuk divaksinasi sambil tetap patuhi protokol kesehatan," ucap dr Fajri.

(akn/ega)