Round-Up

Setop Nyetok 'Obat Covid' Sebab Kasihan Mereka yang Sakit

Tim detikcom - detikNews
Selasa, 27 Jul 2021 06:41 WIB
Menteri Kesehatan Budi Gunadi Sadikin memberikan keterangan pers terkait kedatangan vaksin COVID-19 Sinovac setibanya dari Beijing di Terminal Cargo Bandara Soekarno Hatta, Tangerang, Banten, Minggu (18/4/2021). Sebanyak enam juta dosis vaksin COVID-19 Sinovac yang dibawa dengan pesawat Garuda Indonesia tersebut, selanjutnya dibawa ke Bio Farma Bandung sebelum didistribusikan ke Kota dan Kabupaten di Indonesia. ANTARA/Muhammad Iqbal/aww.
Budi Gunadi Sadikin (Foto: ANTARA FOTO/MUHAMMAD IQBAL).
Jakarta -

Lonjakan kebutuhan obat di tengah gempuran pandemi hingga 12 kali lipat. Menteri Kesehatan Budi Gunadi Sadikin berjanji memenuhinya. Namun, sayang, ada fenomena masyarakat yang menyimpan 'obat Covid' padahal tidak sakit.

"Lonjakan itu besarnya sekitar 12 kali lipat. Kami menyadari ini dan sudah melakukan komunikasi dengan teman-teman di gabungan pengusaha farmasi dan sudah mempersiapkan dengan mengimpor bahan baku obat, perbesar kapasitas produksi, serta persiapan distribusi," ujar Budi dalam keterangannya, Senin (26/7/2021).

Budi mengatakan lonjakan kebutuhan itu terjadi sejak 1 Juni 2021. Dia mengatakan untuk memenuhi stok obat dalam negeri dibutuhkan waktu 4-6 minggu.

"Saya sampaikan mudah-mudahan awal Agustus nanti beberapa obat yang dicari masyarakat misalnya Azithromycin, Oseltamivir, maupun Papifirafir itu sudah bisa masuk ke pasar secara lebih signifikan," katanya.

Budi menuturkan saat ini stok Azithromycin di Indonesia berjumlah 11,4 juta obat. Dia menyebut ada 20 pabrik dalam negeri yang nantinya akan memproduksi obat tersebut. Sementara untuk obat Papifirafir, pemerintah memiliki stok 6 juta di seluruh Indonesia.

Di tengah upaya pemerintah memenuhi kebutuhan obat, Budi Gunadi Sadikin mengetahui ada orang-orang sehat yang sengaja membeli obat terapi Covid. Mereka tidak membutuhkan obat itu, hanya sekadar beli untuk stok. Sementara mereka menyetok obat, ada banyak orang sakit yang membutuhkannya.

"Karena, saya juga melihat dan saya takut banyak orang kemudian beli sendiri dan ditaruh di rumah karena takut," kata Budi.

Ada tiga jenis obat yang distok, Gammarraas, Actemra, dan Remdesivir. Tiga obat itu hanya bisa digunakan lewat penyuntikan yang cuma bisa dilakukan di rumah sakit. Tak ada gunanya menimbun obat itu di rumah. Obat Azitromisin (Azithromycin) juga termasuk tak perlu distok di rumah.

"Bapak/ibu, kasihan yang sakit. Kalau kita sebagai orang yang sehat pengin menyimpan obat, bayangkan 20 juta keluarga menengah pengin beli Azitromisin 1 paket 5 tablet itu, 100 juta obat akan tertarik dari apotek dan disimpan di rumah sebagai stok," kata Budi.

Dia mengimbau masyarakat agar menghentikan perilaku membeli obat semacam itu. Obat-obat itu sangat diperlukan oleh orang-orang yang dirawat karena Covid-19. Pemakaian obat-obat itu juga tidak bisa sembarangan dan harus dengan resep dokter.

"Kami minta tolong agar biarkan obat ini dibeli oleh orang-orang yang membutuhkan, bukan dibeli sebagai stok. Kasihan teman-teman yang membutuhkan," kata Budi.

Lihat Video: Jokowi Telepon Menkes: Saya Cari Obat Antivirus Nggak Ada

[Gambas:Video 20detik]



(gbr/gbr)