Round-Up

Jakarta Belum Lalui Puncak Corona Meski Positivity Rate Merendah

Tim detikcom - detikNews
Senin, 26 Jul 2021 07:27 WIB
Gubernur DKI Jakarta Anies Baswedan meninjau rumah susun Nagrak di Jakarta Utara. Rusun itu dijadikan sebagai tempat isolasi mandiri pasien COVID-19.
Gubernur DKI Jakarta Anies Baswedan (Foto: Pradita Utama)
Jakarta -

Gubernur DKI Jakarta Anies Baswedan mengatakan tren positivity rate di Jakarta berangsur turun. Namun Anies mengingatkan rendahnya positivity rate bukan berarti Jakarta telah lewat masa puncak Corona.

Anies memaparkan data itu saat Acara Vaksinasi Kadin Indonesia Bersama TNI Polri yang disiarkan langsung di kanal YouTube Kadin Indonesia, Minggu (25/7/2021). Anies menerangkan persentase positivity rate di Jakarta yang menyentuh 43%. Namun, pada 16 Juli, angka itu mulai turun jadi 41%.

"Mengenai tren, kalau melihat pandemi, maka lihat nomor satu angka positivity rate, positivity rate kita di Jakarta itu pernah mencapai angka 43% di tanggal 13 Juli lalu tren itu mulai menurun menjadi 41 persen di tanggal 16 Juli," kata Anies.

Anies mengatakan persentase ini terus menurun kembali pada 18 Juli menjadi 36% dan 21 Juli menjadi 28%. Terbaru, angka positivity rate di Jakarta pada Sabtu (24/7) kemarin berada di angka 24%.

Eks Mendikbud itu mengatakan tren penurunan positivity rate dibarengi dengan jumlah testing yang tinggi. Anies mengklaim testing di Jakarta 30 kali dari standar WHO.

"Jadi ada tren positivity rate yang menurun, di sisi lain testing kita di Jakarta itu selalu tinggi yang disarankan oleh Kementerian Kesehatan. Kita harus 15 kali lebih tinggi daripada standar WHO dan Jakarta sudah di atas itu bahkan beberapa kali kita di atas 30 kali standar WHO," ucapnya.

Anies pun yakin data penurunan angka positivity rate itu valid. Namun dia meminta masyarakat tidak terburu-buru menyimpulkan data yang masih bisa berubah setiap jam.

"Jadi menurut saya jangan kita buru-buru menyimpulkan karena ini berbeda dengan aliran lalu lintas yang bisa diprediksi jam-jaman, kalau ini waktunya perlu mingguan," sambungnya.

Simak video 'Luhut Ungkap Kematian Corona Banyak Dialami Komorbid-Belum Divaksin':

[Gambas:Video 20detik]