Pro-Kontra Semprot Disinfektan di Jalan yang Disebut Pakar AS Sia-sia

Isal Mawardi - detikNews
Kamis, 08 Jul 2021 07:31 WIB
Jakarta -

Pakar penyakit menular dari University of Maryland, AS, Dr Faheem Younus menyebut kegiatan penyemprotan disinfektan di jalan-jalan yang dilakukan di Indonesia sia-sia belaka. Pakar epidemiolog lokal pun ada yang setuju, ada pula yang kontra.

Pakar epidemiologi dari Griffith University Australia Dicky Budiman termasuk yang mengkritik kegiatan penyemprotan disinfektan di jalanan. Menurutnya, kegiatan tersebut tidak efektif.

"Dari awal pandemi saya sudah, epidemiolog kita, sudah menyampaikan, termasuk saya, bahwa ini tidak efektif. Jadi ini bukan sesuatu yang baru dan sudah berkali-kali disampaikan," kata Dicky kepada detikcom, Rabu (7/7/2021).

Dicky menyerahkan sepenuhnya ke pemerintah, apakah mau mendengarkan pendapat ahli atau tidak. Ia pun membandingkannya dengan kegiatan fogging nyamuk demam berdarah.

"Kalau bicara fogging saja untuk nyamuk demam berdarah itu hanya sebentar, yang penting adalah mengeliminasi breeding-nya, berkembang biak," ujar Dicky.

Dicky Budiman (Dok istimewa/foto diberikan oleh narsum bernama Dicky BuDicky Budiman (Dok istimewa/foto diberikan oleh narsum bernama Dicky Budiman)

"Apalagi virus ini ada di dalam manusianya, bukan dalam artian beterbangan di sana-sini," lanjutnya.

Sementara itu, pakar epidemiologi dari Universitas Airlangga (Unair) Laura Navila Yamani tidak sependapat dengan Dr Faheem Younus. Menurutnya, virus dapat menular melalui droplet yang terjatuh di permukaan benda ataupun jalanan.

Dalam beberapa kasus, terang Laura, virus mampu bertahan di benda-benda tertentu. "Jadi (virus) mampu bertahan pada benda-benda mati, apalagi benda-benda matinya itu dalam kondisi yang sesuai dengan virusnya," tutur Laura.

"Misalnya lebih lembap, ini akan memberikan efek virus ini bisa bertahan jauh lebih lama dibandingkan kondisi yang kering atau yang panas. Jadinya (penyemprotan disinfektan) ada dasarnya," sambungnya.

Penyemprotan disinfektan dilakukan di kawasan Jalan Jenderal Sudirman, Jakarta. Kegiatan itu dilakukan sebagai upaya pencegahan penyebaran virus Corona.Penyemprotan disinfektan dilakukan di kawasan Jalan Jenderal Sudirman, Jakarta. Kegiatan itu dilakukan sebagai upaya pencegahan penyebaran virus Corona. (Agung Pambudhy/detikcom)

Laura menjelaskan disinfektan adalah salah satu bahan yang dapat membunuh virus. Terlebih, populasi Indonesia cukup banyak sehingga virus dinilai dapat menular lebih cepat.

"Jadi dengan melakukan desinfektan itu sebetulnya untuk menurunkan risiko penyebaran yang kemungkinan itu berada pada lingkungan jadi bukan ditularkan dari orang ke orang tetapi... apalagi tingkat sanitasi di negara kita itu kan lebih rendah kalau kita bandingkan dengan negara-negara lain. Jadi salah satu caranya kita menggunakan disinfektan," tutupnya.

Disorot Pakar AS

Dr Faheem Younus menyoroti kegiatan penyemprotan disinfektan di jalan-jalan yang dilakukan di Indonesia. Menurutnya, penyemprotan itu sia-sia karena membuang energi dan uang.

"Benar-benar buang-buang waktu, uang, dan energi," tulis dr Faheem melalui akun Twitternya @FaheemYounus, Selasa (6/7/2021).

Dr Faheem YounusDr Faheem Younus. (Foto: Tangkapan Layar @FaheemYounus)

"Desinfeksi permukaan TIDAK diperlukan di jalan dan ruang terbuka. Rumah sakit dan kamar dengan pasien COVID adalah cerita lain," ungkapnya.

WHO Tak Rekomendasikan Semprot Disinfektan Jalanan

Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) pernah menyatakan bahwa penyemprotan jalan dengan disinfektan adalah cara konyol untuk menghindari penularan virus Corona. Penyemprotan jalanan menggunakan disinfektan dinilai WHO tidak ada gunanya.

"Yang jelas, itu adalah hal yang tidak kami rekomendasikan. Kami tidak percaya orang-orang tertular virus dari permukaan tanah (jalanan, red)," kata Kepala Jaringan Wabah dan Tanggap Darurat Global WHO, Dale Fisher, sebagaimana diunggah DW News di akun YouTube, Kamis (2/4/2020).

Sementara itu, Wiku Adisasmito, yang saat itu masih menjadi Ketua Tim Pakar Gugus Tugas Penanganan COVID-19, menjelaskan penularan COVID-19 adalah melalui cairan hidung dan mulut (droplet) orang yang terinfeksi, melompat lewat bersin dan batuk, masuk ke hidung, mulut, atau mata orang yang sehat.

Droplet yang mengandung virus Corona (SARS-CoV-2) bisa pula berada di permukaan benda dan disentuh oleh orang yang sehat, kemudian orang yang sehat tersebut tertular COVID-19 karena tangannya yang terkena droplet itu dia gunakan untuk menyentuh mulut, hidung, atau matanya.

"Masa kita pegang aspal kemudian kita pegang mata? Kan tidak. Yang sering dipegang adalah gagang pintu, kunci, ponsel, lantai untuk beraktivitas, hingga permukaan lantai masjid misalnya," kata Wiku.

Penyemprotan disinfektan di jalanan dan lingkungan luar ruangan memang bukan fenomena Indonesia saja. Di India, Meksiko, hingga Turki juga demikian.

Kendati demikian, kegiatan ini masih dilakukan. Salah satunya oleh Kapolres Sukabumi pada 3 Juli 2021.

(isa/jbr)