Pria Ngaku Keluarga Jenderal Saat Dirazia Masker Seorang Buruh

Rakha Arlyanto Darmawan - detikNews
Rabu, 07 Jul 2021 19:24 WIB
Tangerang Selatan -

Polisi menegaskan pria viral berinisial RMBF (21) bukan keluarga jenderal seperti pengakuannya saat dirazia masker. RMBF dipastikan tidak memiliki keluarga yang berprofesi sebagai anggota Polri.

"Yang kita ketahui sempat viral di media sosial dan viral di pemberitaan bahwa yang bersangkutan mengaku memiliki saudara jenderal (bintang dua). Namun, setelah diklarifikasi, pernyataan tersebut ternyata tidak benar," kata Kapolres Tangerang Selatan AKBP Iman Imanuddin kepada wartawan di kantornya, Tangerang Selatan, Rabu (7/7/2021).

Iman kembali menegaskan RMBF tidak memiliki saudara seorang jenderal di institusi Polri ataupun TNI.

"Tidak. Setelah hasil pemeriksaan memang tidak ada keterkaitan. Tidak ada memiliki saudara jenderal baik itu TNI-Polri," lanjut Iman.

Kendati RMBF sempat mengaku punya keluarga jenderal, hal ini tidak menghalangi polisi untuk menindaknya dengan tegas.

"Dan walaupun tadi yang bersangkutan kemarin pada saat penegakan itu menyampaikan memiliki saudara jenderal, tapi tetap keselamatan masyarakat yang utama. Sehingga hukum tidak pandang bulu dan harus ditegakkan," terang Iman.

Selain itu, Iman menegaskan pihaknya akan melakukan penegakan hukum yang sama bagi pelanggar protokol kesehatan selama masa PPKM darurat.

"Ya kita semuanya terus akan melakukan penegakan hukum, karena sosialisasi telah kami lakukan selama beberapa hari ini dalam penegakan PPKM darurat sehingga apabila selanjutnya ditemukan pelanggaran pelanggaran lainnya akan dilakukan hal yang sama," ujar Iman.

Pekerjaan Buruh

Dalam kesempatan terpisah, Kasat Reskrim Polres Tangsel AKP Angga Surya Saputra mengungkapkan pekerjaan RMBF.

"Pekerjaan buruh lepas," kata Angga.

Motif Ngaku Keluarga Jenderal

Polisi mengungkapkan, RMBF mengaku-aku sebagai anak jenderal agar lolos dari pemeriksaan petugas.

"Untuk perlindungan aja, dia kira aman kalau ngaku anak jenderal," kata Angga.

RMBF kini ditetapkan sebagai tersangka. Dia dijerat dengan UU Nomor 4 Tahun 1984 tentang Wabah Penyakit Menular dan UU Nomor 6 Tahun 2018 tentang Kekarantinaan Kesehatan serta Pasal 216 ayat 1 KUHP. Ancaman hukumannya maksimal 1 tahun penjara.

(mea/mea)