ADVERTISEMENT

584 Ulama di Indonesia Meninggal Dunia Selama Pandemi COVID-19

Tim detikcom - detikNews
Senin, 05 Jul 2021 15:56 WIB
COVID-19 named by WHO for Novel coronavirus NCP concept. Doctor or lab technician in PPE suit holding blood sample with novel (new) coronavirus  in Wuhan, Hubei Province, China, medical and healthcare
Ilustrasi COVID-19 (Getty Images/iStockphoto/Pornpak Khunatorn)
Jakarta -

Sebanyak 584 kiai dan ulama meninggal dunia selama pandemi COVID-19. Majelis Ulama Indonesia (MUI) mengingatkan masyarakat pesantren untuk terus waspada.

Pernyataan itu disampaikan Wasekjen MUI, Abdul Ghaffar Rozin, seperti dilansir dari situs MUI, Senin (5/7/2021). Pria yang akrab disapa Gus Razin itu mengatakan kasus COVID-19 banyak menerpa pimpinan pesantren di Madura, Kudus, Pati, Demak, hingga Jepara.


Ketua Rabithah Ma'ahid Islamiyah (RMI) Nahdlatul Ulama ini juga mengaku memiliki data bahwa terjadi peningkatan jumlah ulama yang menderita COVID-19.

"Peningkatan penularan yang sangat signifikan terhadap para kiai dan pengasuh pesantren terutama di seluruh wilayah Madura dan wilayah lain seperti Jawa Tengah utara seperti Pati, Kudus, Demak, Jepara, dan daerah lainnya secara merata," kata Gus Rozin yang juga Ketua Rabithah Ma'ahid Islamiyah (RMI) Nahdlatul Ulama.

Dia mengatakan pesantren sebenarnya memiliki tingkat kesadaran tinggi terkait bahaya COVID-19. Namun kasus COVID-19 mulai meningkat setelah libur Lebaran.

Kondisi itu diperparah oleh kemunculan varian baru Corona sehingga hal itu menjadi salah satu faktor dalam meningkatnya kasus COVID-19 di lingkungan pondok pesantren.

Berdasarkan data dari RMI hingga 4 Juli 2021, sebanyak 584 kiai yang wafat di tengah pandemi COVID-19. Gus Rozin mengimbau pondok pesantren yang pendidikannya berada di dalam kompleks agar memperketat protokol kesehatan.

Selain itu, dia mengimbau agar tidak memulangkan santri dan membatasi keluar masuk tamu. Pesantren juga diminta menyiapkan ruang isolasi dan standarnya.

Sedangkan bagi pendidikan santrinya di luar kompleks, apalagi yang aktivitas sekolahnya bercampur dengan siswa dari luar, dia mengimbau agar pembelajaran dilakukan secara online.

Dia juga berpesan kepada para jemaah, alumni dan wali santri agar menghindari mengundang kiai untuk hadir dalam acara yang dapat mengundang banyak orang. Menurutnya, mereka cukup meminta doa restu saja kepada sang kiai.

Terakhir, dia mengimbau kepada masyarakat untuk selalu ikhtiar. Gus Razin mengatakan ikhtiar merupakan hal yang wajib sebagai bagian dari mewujudkan maqashid syariah, yakni hifdhun nafs.

"Patuhilah protokol kesehatan dan arahan pemerintah karena tidak bertentangan dengan syariah," tutur dia.

Simak juga 'Dunia Hiburan Dirundung Duka Karena COVID-19':

[Gambas:Video 20detik]

(knv/fjp)


ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT