Kisah Rachmawati Soekarnoputri Menang Lawan KPU di Mahkamah Agung

Tim detikcom - detikNews
Sabtu, 03 Jul 2021 09:50 WIB
Dialog Kebangsaan 2019 Presiden Harapan Rakyat digelar di kawasan Mampang Prapatan, Jakarta Selatan, Jumat (20/4/2018). Tedjo Edhy Purdjiatno, Natalius Pigai, Syarwan Hamid, dan Rachmawati Soekarnoputri menjadi pembicara.
Rachmawati Soekarnoputri (Grandyos Zafna/detikcom)
Jakarta -

Putri Proklamator Sukarno, Rachmawati Soekarnoputri, meninggal dunia hari ini. Semasa hidup, Rachmawati pernah membuat kejutan kala gugatannya terhadap KPU menang di Mahkamah Agung (MA).

Gugatan itu diajukan Rachmawati pada 2019. Rachmawati saat itu mengajukan judicial review ke MA terkait Pasal 3 ayat 7 PKPU Nomor 5/2019 tentang Penetapan Pasangan Calon Terpilih, Penetapan Perolehan Kursi, dan Penetapan Calon Terpilih dalam Pemilu.

Gugatan diajukan karena Rachmawati menganggap pasal tersebut cacat hukum. Gugatan tersebut diajukan pada Senin (13/5/2019) dan terdaftar dengan nomor 44/Djmt.5/hum/5/2019. Rachmawati menganggap Pasal 3 ayat 7 PKPU Nomor 5/2019 itu bertentangan dengan UU Pemilu.

Rachmawati menyebut Pasal 3 ayat 7 PKPU Nomor 5/2019 itu tidak dapat diterapkan dalam rangka menentukan calon presiden dan wakil presiden terpilih karena bukan merupakan turunan dari Pasal 416 UU Nomor 7 tahun 2017 tentang Pemilu.

"Menurut saya, ini adalah bentuk daripada hasil sesuatu. Jadi hulunya ini harusnya kita periksa dulu sampai ada kecurangan. Ternyata di hulunya PKPU Nomor 5 Tahun 2019. Itu saja sudah cacat hukum," kata Rachmawati di rumahnya, Jl Jatipadang Raya Nomor 54, Pasar Minggu, Jakarta Selatan.

Menang di Mahkamah Agung

Setahun kemudian, MA mempublikasikan putusan terkait gugatan Rachmawati tersebut. Gugatan yang diajukan Rachmawati bersama enam orang dinyatakan dikabulkan untuk sebagian.

"Mengabulkan permohonan pengujian hak uji materiil dari Para Pemohon: 1. RACHMAWATI SOEKARNOPUTRI, 2. ASRIL HAMZAH TANJUNG, 3. DAHLIA, 4. RISTIYANTO, 5. MUHAMMAD SYAMSUL, 6. PUTUT TRIYADI WIBOWO, 6.EKO SANTJOJO, 7. HASBIL MUSTAQIM LUBIS untuk sebagian," demikian bunyi putusan MA yang dikutip detikcom, Selasa (7/7/2020).

"Menyatakan ketentuan Pasal 3 ayat (7) Peraturan Komisi Pemilihan Umum Republik Indonesia Nomor 5 Tahun 2019 tentang Penetapan Pasangan Calon Terpilih, Penetapan Perolehan Kursi, dan Penetapan Calon Terpilih dalam Pemilihan Umum bertentangan dengan peraturan yang lebih tinggi, yaitu Undang-Undang Nomor 7 Tahun 2017 tentang Pemilihan Umum," sambung majelis.

Pasal 3 ayat 7 Peraturan KPU Nomor 5/2019 yang dihapus MA berbunyi:

Dalam hal hanya terdapat 2 (dua) Pasangan Calon dalam Pemilu Presiden dan Wakil Presiden, KPU menetapkan Pasangan Calon yang memperoleh suara terbanyak sebagai pasangan calon terpilih

"Menyatakan permohonan Para Pemohon untuk selebihnya tidak diterima," ujar majelis hakim.

Untuk Perbaikan Demokrasi

Rachmawati mengatakan dirinya menghormati putusan Mahkamah Konstitusi (MK) soal Pilpres 2019 dan putusan MA terkait gugatannya. Dia menegaskan putusan MA tersebut merupakan perbaikan demokrasi.

"Dalam konteks permohonan yang kami ajukan ke MA, memiliki objektum litis yang berbeda dengan putusan MK, dan tentu saja tidak bersifat mutatis mutandis. Saya pribadi ucapkan terima kasih kepada ahli tata hukum, tata negara, yang telah ikut memberikan pandangan perihal putusan ini. Objektum litis yang kami ajukan perihal produk hukum yang dikeluarkan KPU yaitu norma Pasal 3 ayat 7 PKPU Nomor 5 Tahun 2019," kata Rachmawati, Senin (13/7/2020).

Rachmawati berharap putusan MA membuat demokrasi di Indonesia lebih baik. Dia menilai demokrasi yang ada saat ini merupakan demokrasi liberal.

"Tentu saja harapan terhadap putusan MA adalah perbaikan demokrasi Indonesia ke depan yang lebih baik, dan lebih sehat. Sebagaimana kita ketahui bersama, demokrasi yang kita alami sekarang adalah produk daripada amandemen konstitusi kita dengan amandemennya 4 kali, sehingga demokrasi yang terjadi sekarang adalah demokrasi liberal," tutur Rachmawati.

Kini Rachmawati Soekarnoputri telah pergi untuk selamanya. Meski demikian, Rachmawati telah membuka jalan bagi demokrasi di Indonesia agar lebih baik lagi di masa depan. Selamat jalan, Rachmawati.

(haf/idh)