Hensat Nilai UI Kebakaran Jenggot soal 'Jokowi King of Lip Service'

Rolando Fransiscus Sihombing - detikNews
Senin, 28 Jun 2021 16:04 WIB
Jakarta -

Reaksi kampus Universitas Indonesia (UI) terhadap pengurus Badan Eksekutif Mahasiswa (BEM) UI terkait unggahan 'Jokowi King of Lip Service' dinilai berlebihan. Kampus UI dinilai tak perlu 'kebakaran jenggot' terhadap opini yang disampaikan BEM UI.

Pakar ilmu politik Universitas Paramadina, Hendri Satrio atau Hensat, menilai opini yang disampaikan mahasiswa memiliki kekhasan yang gamblang. UI, menurut Hensat, tak perlu 'kebakaran jenggot' dengan mahasiswa yang mengeluarkan pernyataan kritis.

"Bagi UI pun tak perlu kebakaran jenggot, ya karena itulah demokrasi yang dimunculkan mahasiswa. Opininya blak-blakan, terbuka, dan menurut saya jangan setiap kritikan-kritikan yang diberikan adik-adik mahasiswa kemudian mereka dituduh terlibat organisasi-organisasi yang dilarang pemerintah, kemudian mereka dituduh radikal. Masa setiap kali kritikan, orang yang memberikan kritikan dibilang radikal? Kan nggak juga, inilah demokrasi," kata Hensat kepada wartawan, Senin (28/6/2021).

Di media sosial, kata Hensat, ramai warganet membandingkan kondisi saat ini dengan rezim Orde Baru atau Orba. Menurut Hensat, pemerintah saat ini idealnya mempertahankan nilai-nilai reformasi.

"Jangan begitu, rezim ini hadir karena Orde Baru runtuh, maka rezim ini harus bisa lebih baik dari rezim Orde Baru. Harus bisa menjaga semangat reformasi, harus bisa menjaga demokrasi, jangan kemudian merasa lebih hebat dari Orde Baru, karena itu tidak bisa dibandingkan," ujarnya.

Kampus UI DepokKampus UI Depok (dok UI)

Apa yang disampaikan BEM UI, menurut Hensat, masih dapat disebut wajar. Mahasiswa, bagi Hensat, wajar meminta pemerintah menepati janji politik terhadap masyarakat.

"Apa yang disampaikan adik-adik mahasiswa itu masih dalam tataran wajar, begitulah cara mahasiswa menyampaikan pendapat, sangat gamblang, terbuka, khas mahasiswa. Seharusnya ini menjadi masukan kritis buat pemerintah dan segara memperbaiki diri. Masukan-masukan yang diberikan mahasiswa, adalah masukan-masukan yang ada dan dirasakan oleh masyarakat," ucap Hensat.

"Karena ini adalah poin penting pada saat mahasiswa bersuara, maka di situ ada hati yang diwakili dari masyarakat. Maju terus gerakan mahasiswa, mohon bijaksana kampus yang memiliki mahasiswa-mahasiswa kritis, dan bagi pemerintah masukan kritis dari mahasiswa bisa diterima dengan baik dan dijadikan fondasi untuk memperbaiki diri," tambahnya.

Peretasan Akun Pengurus BEM UI Harus Diklarifikasi

Hensat turut menyayangkan terkait sejumlah akun pengurus BEM UI yang diretas usai adanya posting-an 'Jokowi King of Lip Service'. Pemerintah menurut Hensat harus segera melakukan klarifikasi dengan adanya peretasan pengurus BEM UI ini.

"Ayolah, kita punya BSSN, kita punya Menkominfo, masa sih penyampaian ini harus dibalas dengan pembajakan akun WA. Tapi, itu hanya isu, tapi isu ini harus diklarifikasi oleh pemerintah. Jangan sampai kemudian, ada image negatif dari pemerintah bila ada seorang yang mengkritisi pemerintah, kemudian WA-nya dibajak," sebut Hensat.

Simak selengkapnya, di halaman selanjutnya: